Di Simpang Jalan

Di Simpang Jalan
9.


__ADS_3

Seperti biasa, waktu makan malam adalah waktu kebersamaan bagi keluarga Kia dan Davian. Di meja makan terlihat 4 orang menikmati makanan mereka. Di bawah meja kaki Davi begitu nakal isyarat menggoda Likha, kaki itu dengan lembutnya terus menari di kaki Likha.


Likha tidak mempedulikan sentuhan dari kaki Davian pada sepasang kakinya. Dia memasang wajah datar dan menatap pada Kia. "Kak Kia."


"Iya Likha."


"Kak Davian kan sudah sembuh, kapan aku boleh pergi?"


Davian menatap tajam pada Likha, tanda tidak suka atas pertanyaan Likha.


"Aku di sini bekerja merawat orang sakit, bukan melihat orang tiduran. Selama beberapa minggu ini aku dibodohi kak Davi, aku selalu rebahan di kamar, karena Kak Davi tidak membutuhkanku, aku beneran tidak tahu kalau dia sembuh Kak," ucap Likha.


"Mas Davi melakukan demikian untuk kejutan. Maafin dia ya ...." ucap Kia.


Likha menganggukan kepalanya menaggapi ucapan Kia. "Jadi ... tugas aku selesai kan kak?"


"Iya, tugasmu selesai. Terima kasih atas bantuanmu selama ini menjaga mas Davi."


"Aunty Likha akan pergi? Jadi ... aku tidak punya teman main lagi dong?" sela Rachel.


"Tugas Aunty sudah selesai, kalau untuk main, kapan kita bertemu kita bisa main bareng kok." Likha berusaha menghibur Rachel.


"Aunty Likha jadi pengurus Rachel aja gimana bund?" usul Rachel.


"Rachel sudah besar, masa Rachel harus punya babysitter seperti bayi," ucap Kia.


"Besok saya izin pergi ya Kak."


"Iya Likha," sahut Kia.


Mereka kembali meneruskan makan malam mereka. Namun kenikmatan makan itu kembali terusik saat kedatangan Indra dan Nabila.


"Ya ampun, kenapa kalian belum siap?" ucap Nabila.


"Lah, om Indra sama Aunty Bila mau kemana? Kalian rapi banget?" sambar Rachel.


"Kalian lupa kalau malam ini acara pernikahan Berta?" ucap Indra.


Kia menepuk wajahnya. Dia betul-betul melupakan rencana mereka malam ini karena terlalu bahagia melihat suaminya sembuh.


"Pasti dia lupa," ucap Nabila pada Kia.


"Iya ... aku lupa. Aku sangat bahagia melihat kesembuhan mas Davi." Kia merasa sangat bersalah.


"Kamu siap-siap gih, masih sempat kok." usul Nabila.


"Mas kamu ikut ya ...." pinta Kia.


Davi berpikir sejenak, padahal malam ini ingin dia gunakan untuk bersama Likha. Namun sengaja tidak ikut malah akan membuat kecurigaan Kia, apalagi Kia sempat mencurigai Likha. Davi menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Ayah bunda mau pergi, terus aku gimana?" rengek Rachel.

__ADS_1


"Ada Aunty Likha di rumah," ucap Kia.


Rachel setuju untuk tetap di rumah bersama Likha, sedang Kia dan Davian pergi bersama Nabila juga Indra. Mereka berangkat dengan 1 mobil.


Perjalanan Kia, Davian, Indra dan Nabila. Mereka membicarakan keadaan Davian dan menanyakan siapa yang melanjutkan perusahaan Davi, apakah Kia tetap di sana atau Kia kembali pada pekerjaan semula. Davi menjawab dia akan kembali menjalankan perusahaannya agar Kia bisa fokus dengan usahanya.


Sesampai di tempat acara, Davi merasa asing di sana. Sebagian besar tamu-tamu yang hadir adalah teman-teman Kia. Karena yang menikah juga teman Kia. Davi membiarkan Kia menikmati pesta itu. Sedang dia duduk di kursi yang disediakan untuknya. Dia mengusir kebosanannya dengan berkirim pesan dengan Likha.


Sedang di rumah Kia, Rachel mulai mengantuk, Likha segera kembali ke kamarnya. Baru saja dia berbaring, handphonenya menerima satu pesan. Likha membuka pesan itu.


*Sayang ... kangen ....


Pesan itu diakhiri dengan emoticon sedih.


Likha tersenyum membaca pesan dari Davian. Dia merasa berhasil menarik laki-laki itu dalam kandang miliknya. Jemari Likha menari diatas keypad dengan begitu lincah.


\=Sama, aku juga kangen banget sama kamu. Padahal baru 1 jam belum lihat kamu. Bagaimana nanti jika kita tak seatap lagi.


Di sisi yang lain, rasanya energy Davian meningkat saat membaca pesan dari Likha. Dia mengetik pesan baru.


*Rasanya batrai aku sekarat sayang ...


\=Kalau mau habis, isi ulang dulu sayang .... Balasan Likha.


*Bagaimana mau isi, colokannya nggak ada. Pesan Davian.


Davian mengarahkan kamera handphonenya kearah Kia, dan mengabadikan tangkapan kameranya. Dia mengirim itu pada Likha.


\=Kalau colokan yang itu dayanya masih sibuk, colokan yang satu ini siap mengisi ulang tenaga Kakak. Pesan Likha.


Melihat foto yang Likha kirim, membuat kelelakian Davi bangkit. Walau sangat sering merasakan benda yang bersembunyi di balik kain kecil itu, tapi tidak ada kata puas untuk hal itu.


*Boleh isi ulang di sana? pesan Davi.


\=Boleh banget, colok sampai pagi juga boleh.


Sekujur tubuh Davi merinding membaca pesan dari Likha, dia membayangkan petualangan bersama Likha.


*Kamu tunggu aku di ruang kerja aku yang ada di ujung lantai 2. Ruangan itu kedap suara. Aku ingin colok kabelku sampai pagi di kamu. Kunci ruangannya ada di dalam guci kecil yang ada di pajangan dinding tepat di samping pintu itu.


Setelah mengirim pesan pada Likha, Davian segera mendekati Kia. "Sayang ... aku boleh pulang duluan nggak?" bisik Davi.


"Aku temani ya ...."


"Kamu nikmati pestanya dulu, aku cuma mau selesaikan beberapa pekerjaan aku."


"Enggak, aku nggak bisa biarin kamu pulang sendiri. Ya sudah kita pulang," ucap Kia.


Davi tidak bisa menolak, dia mengiyakan Kia pulang bersamanya. Kia memesan taksi online untuk mengantar mereka. Selama menunggu taksi Davi kembali berkirim pesan dengan Likha.


*Kamar kamu kunci ya, aku takutnya Likha cari kamu di kamarmu. pesan Davian.

__ADS_1


\=Tenang sayang. Kamar aku dah aku kunci, kunci ruangan kerja kamu juga aku kembalikan pada tempatnya. Aku sudah menunggu kamu di ruangan kerja kamu sayang.


*Tapi kamu sembunyi dulu, biasanya Kia akan menemaniku.


\=Iya sayang.


Davian merasa lega, karena Likha sudah mempersiapkan pertempuran mereka dengan baik.


"Mas ... aku perhatikan dari pesta tadi kamu senyum-senyum terus liat handphone," ucap Kia.


"Ada pembahasan kerja sayang, makanya ini aku mau pulang buat kelarin pekerjaan itu."


Sesampai di rumah, Davian buru-buru menuju ruang kerjanya.


"Mas ... ganti baju dulu baru urus kerja," ucap Kia.


Mau tak mau Davian merubah tujuannya, dia segera menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya.


"Sayang, mas mau ke ruang kerja dulu," pamit Davian pada Kia.


Kia mengangguk, dia masuk kamar mandi untuk membersihkan riasannya dan tubuhnya.


Sedang Davian, dia segera menuju tempat janjiannya dengan Likha.


"Likha sayang ...." panggil Davi.


Sepersekian detik Kia melingkarkan sepasang tangannya pada perut Davi. Jemari lentiknya menelusup ke balik kaos Davi dan mengabsen permukaan perut Davi yang memiliki permukaan seperti roti sobek.


"Aku di sini sayang."


Davi menarik Likha berdiri agar berdiri di depannya, melihat Likha persis seperti foto yang dia kirim, membuat Davi semakin terbakar dalam lautan api naf-sunya. Dia langsung melahap habis bibir Likha dan menggiringnya menuju meja kerjanya.


Sejenak Davi menghentikan pangutannya. Dia memandang sendu wajah Likha. "Dari kamarmu, kamu seperti ini?" Suara Davi begitu bergetar.


Likha menggelengkan kepalanya. "Aku ke sini memakai baju itu." Likha menunjuk kearah baju yang teronggok di kursi kerja Davi.


Davi melanjutkan ciuman panas mereka. Seakan tidak bisa melepaskan bibir indah itu. Perlahan ciumannya turun ke bawah, dan jemarinya mulai nakal menuliskan alpabet di bagian sensitif Likha, membuat perempuan itu kelepasan mendesah.


******* Likha benar-benar membuat Davi semakin bodoh. Dia merebahkan wanita itu diatas meja. Kini indra pengecapnya yang memainkan bagian sensitif Likha, membuat wanita itu semakin tidak terkendali.


"Yank ... su-su-sudah ...."


Davi tidak menghiraukan jeritan Likha, dia tetap memberi kepuasan di sana.


"Aku mau lepas ...." jerit Likha.


Davi menghentikan kegiatannya sesaat. "Lepaskan saja sayang." Davi kembali pada kegiatannya, menghantarkan Likha pada garis finish terlebih dahulu.


Namun belum sempat Likha meledak dalam kenikmatan, Davi malah menghentikan kegiatannya.


"Ada apa kak?"

__ADS_1


"Kia ke sini, kamu sembunyi dulu." Davian menarik Likha dan meminta wanita itu sembunyi di bawah mejanya.


Seper sekian detik kemudian, perkiraan Davi sangat akurat, Kia membuka pintu ruang kerja Davi. Dia tersenyum melihat suaminya fokus pada layar laptonya.


__ADS_2