Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Membuka hati


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, Renata belum memutuskan untuk melanjutkan kuliah atau bekerja. Ia benar-benar ingin menenangkan perasaannya dulu.


Sebenarnya ia pengin kuliah tapi melihat adiknya yang masih butuh banyak biaya untuk pendidikan, ibu menyarankan agar ia bekerja dulu.


"Nanti kalo kamu udah punya tabungan, kan bisa melanjutkan kuliah." nasehat ibu saat itu.


Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti nasihat Ibu. Setelah hatinya mulai legowo dengan semua yang terjadi, ia mulai mencari kerja. Ia membuat beberapa surat lamaran kerja untuk dikirim ke kantor -kantor yang sedang membuka lowongan.


Tidak mudah memang mencari kerja hanya bermodalkan ijazah SMA. Tapi Renata tak mau menyerah begitu saja, ia mencoba dan terus mencoba.


"Renata, ngapain kamu di sini?" terdengar sapaan ketika sebuah motor berhenti di depannya.


"Andi,...." sebut Renata setelah orang tersebut membuka helmnya.


"Kamu dari atau mau kemana?"


"Dari muter-muter cari kerja trus mau pulang." jawab Renata.


"Naik Ren, kita ngobrol dulu yuk." ajak Andi


Renata naik ke boncengan motor, mereka pun mulai berkendara. Keduanya tiba disebuah taman yang cukup ramai, saat sore hari taman tersebut memang sering digunakan untuk tempat ngumpul anak--anak muda.


"Kamu nggak lanjut kuliah, Ren?" tanya Andi yang telah membawa dua cup jus buah.


"Nggak, Ndi aku pengin kerja aja." jawab nya saat Andi telah duduk di sebelahnya.


"Adikku masih butuh biaya sekolah, kamu tahu kan aku cuma dari keluarga sederhana. Setelah bekerja aku bisa menabung bila ingin lanjut kuliah." lanjut Renata sambil menyeruput jus nya.


"Semangat , Rena aku dukung apapun yang terbaik untuk mu." ucap Andi.


"Kalo kamu sendiri gimana , Ndi?" tanya Renata.


"Aku ambil jurusan teknik di sebuah universitas swasta, mencoba mengikuti keinginan ortu sih." jawab Andi.


Mereka berdua ngobrol santai mencoba saling mengenal lebih dekat lagi. Sudah hampir gelap saat mereka meninggalkan taman tersebut, Andi mengantar sampai ke rumah Renata.


"Mampir dulu , Ndi? tawar Renata


"Nggak usah Ren, lain kali aku boleh kan main kesini?"


"Dengan senang hati, silahkan saja." senyum Renata.


Andi menatap Renata yang tersenyum manis, cantik. Andi tampak masih sangat mengagumi nya, menyayanginya, perasaannya pada Renata memang belum berubah.

__ADS_1


"Heii, jadi pulang nggak?" ucapan Renata membuatnya terkejut.


"Oh iya, aku pulang..." dengan salah tingkah Andi menyalakan mesin motornya dan berlalu pergi.


###


Sejak pertemuannya kembali kini Renata dan Andi tampak semakin dekat. Andi sering mengantar Renata yang masih mencoba mencari kerja.


Orang tua Renata juga sudah mengenal Andi, mereka tampak sangat menyukainya. Apalagi sejak dekat dengan Andi kini Renata mulai nampak ceria lagi.


"Nak, sejauh mana hubungan mu dengan Andi?" tanya Ibunya suatu ketika saat makan.


"Hubungan apa sih Bu, aku dan Andi cuma temenan aja kok." jawab Renata.


"Kalo Ibu perhatikan Andi itu suka sama kamu."


"Ah, Ibu bisa aja" sahut Renata sambil terus menyendok makanannya.


"Apa salahnya membuka hati buat Andi, Ibu lihat dia laki-laki yang baik, ramah dan sopan tidak seperti...."


"Tidak seperti Hendra maksud Ibu." Renata segera memotong ucapan Ibunya.


"Apa salahnya Hendra, kenapa Ibu nggak suka sama dia. Renata nggak mau kalo Ibu membanding-bandingkan Andi sama Hendra." Renata tampak marah hingga meninggalkan makannya.


Renata tak mempedulikan kata-kata Ibunya lagi, ia langsung pergi ke kamar dan menguncinya. Air matanya menetes, ia teringat kembali kepada Hendra dan perjalanan cintanya yang kandas.


"Hendra, bagaimana kamu sekarang. Aku rindu padamu..." desah Renata pelan.


Ia kemudian merebahkan tubuhnya, dan angannya mulai mengenang kembali saat-saat bahagia bersama Hendra. Hingga akhirnya ia pun terlelap dalam tidurnya.


"Rena, bangun nak sudah siang." terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.


''Ini, ada surat buat kamu." lanjut suara Ibu.


Renata bangkit dan segera membuka pintu, kemudian Ibu menyodorkan sebuah amplop kepadanya. Setelah membuka dan membacanya ia tampak tersenyum girang.


"Ibu, ini surat panggilan wawancara kerja, siang ini jadwalnya." ucap Renata kepada Ibunya dengan senang.


"Kalo begitu kamu cepetan mandi, jangan lupa bajunya yang rapi." kata Ibu sambil tersenyum bahagia.


Renata sudah bersiap, ia berpamitan kepada Ibu saat terdengar suara mesin motor berhenti.


"Itu ada nak Andi, kebetulan sekali dia pasti mau mengantarmu."

__ADS_1


"Mau kemana ,Ren sudah rapi bener." tanya Andi hendak turun dari motornya.


"Aku dapat panggilan wawancara kerja." senyum Renata.


"Kalo gitu aku antar, ayo naik ..." ucap Andi sambil menyalakan lagi motornya.


"Bu, Rena berangkat ya doa in semoga diterima ya." pamit Renata.


"Iya,Ibu doa kan nak... hati-hati di jalan gak usah ngebut."


Andi mengantar Renata ke sebuah kantor ekspedisi yang lumayan besar, ia menunggunya sampai selesai wawancara. Paling cuma sekitar satu jam Renata sudah terlihat keluar dari sebuah ruangan.


"Andi, aku diterima." ucap Renata girang tanpa sadar sedang menggenggam tangan Andi.


"Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang." balas Andi yang tersenyum melihat tangannya di genggam Renata.


"Ah, maaf..." saat menyadarinya Renata melepaskan tangannya.


"Jangan dilepas aku seneng kok." ucap Andi sambil tersenyum.


"Buat ngerayain kamu diterima kerja kita makan-makan dulu,...oke." ajak Andi sambil menggandeng tangan Renata.


Kurang lebih satu jam berkendara mereka tiba disebuah tempat makan yang cukup luas, ada kolam ikannya di sana. Setelah memesan makanan mereka memilih tempat duduk lesehan di atas kolam.


Andi melihat wajah Renata yang tampak sumringah, ia tampak bahagia sekali. Sesekali ia tampak tersenyum manis, manis sekali.


"Rena, aku sudah lama pengin ngomong sama kamu." ucap Andi sambil memberanikan diri memegang tangan Renata.


"Aku masih sayang sama kamu, sejak dulu sampai detik ini." lanjut Andi


"Kali ini mau kah kamu menerima cintaku?" Andi menatap wajah Renata dengan penuh harap.


"Tapi Ndi, sampai saat ini aku belum..."


"Kamu belum bisa melupakan Hendra, kan. Aku tahu Rena, tapi tolong belajarlah untuk mencintai ku." tatap Andi dengan penuh harapan.


"Kamu terlalu baik ,Ndi...aku takut nantinya akan menyakiti hati mu." kata Renata dengan hati-hati.


"Bukalah hatimu untukku, aku janji akan membuat mu jatuh cinta padaku suatu hari nanti.'' tatapan Andi jadi semakin tajam.


Renata tak menjawab ucapan Andi, namun dengan pelan ia menganggukkan kepalanya. Andi tersenyum bahagia, kini mata mereka saling menatap penuh harapan. Wajah mereka sangat dekat, hingga masing-masing bisa merasakan desah nafasnya yang memburu dan jantung yang berdegup sangat kencang. Bibir Andi mencium lembut bibir Renata.


"Terimakasih, Rena... kekasihku." bisik Andi sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2