Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Juniorku


__ADS_3

Siang itu cuaca cukup panas, Renata, Nia, Deni dan Tia bertemu di warung es buah langganannya. Mereka memang buat janji ketemu untuk bahas acara reuni, rencananya akhir tahun ini. Tapi ternyata banyak yang request buat tahun depan aja, sekalian genap 15 tahun.


"Gimana ini, banyak yang setuju kalo tahun depan aja." ucap Nia


"Ya udah tahun depan aja, daripada cuma dikit yang dateng." sahut Renata


"Ok, acaranya buat tahun depan tapi mulai sekarang kita harus mulai sosialisasi. Biar yang jauh atau sibuk bisa ngatur waktu mereka." ucap Deni setelah menyeruput es nya


"Yup...betul, syukur kalo bisa dateng semua, pasti dijamin seru acaranya. Jangan lupa hubungi pihak sekolah juga buat ijin tempatnya." tambah Tia


"Gampang, soal ijin biar aku yang urus." sahut Deni cepat


Pertemuan itu berlangsung cukup lama, hari menjelang sore ketika Renata sampai di rumah. Setelah membersihkan diri Renata di bantu bibi mempersiapkan makan malam, sedang kedua anaknya sibuk sendiri di dalam kamar.


Sesekali Renata mengecek ke kamar, kalo mungkin anaknya butuh bantuan atau kesulitan dalam mengerjakan PR. Renata memang sangat perhatian untuk masalah pendidikan anaknya, dan memberikan aturan tegas dan disiplin.


Ardian pulang tak terlalu malam, hingga mereka bisa makan malam bersama. Suasana yang begitu hangat saat makan, diselingi obrolan dan candaan ringan menambah keharmonisan antar anggota keluarga.


"Ingat ya jangan tidur kemalaman, besok kalian berangkat pagi." pesan Renata pada kedua anaknya selesai makan


Sedangkan Ardian duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya, meskipun tv nyala. Memang kebiasaan Ardian begitu, sering kali juga Renata menegurnya tentang itu.


"Mas, sudah berapa kali aku bilang, kalo nggak ditonton buat apa nyalain tv nya." ucap kesal Renata yang duduk disebelah suaminya


"Iya maaf, ..." sahutnya sambil mencium pipi Renata


"Ada apa, kelihatannya serius banget lihat ponselnya?" kepo Renata


"Ini cuma ngecek laporan , kenapa?" senyum Ardian


"Sayang, tadi siang gimana jadi ketemu sama temen-temen mu?" tanya balik Ardian


"Jadi mas, tapi acara reuni nya gagal diundur tahun depan." sungut Renata


"Syukurlah..." kata Ardian sambil meletakkan ponselnya


"Kok gitu sih, Mas..." cemberut wajah Renata


"Iyalah, setidaknya aku bisa tenang kamu nggak jadi ketemu..." ucapan Ardian terpotong


"Cukup mas, jangan mulai lagi ya." potong Renata memasang muka marah


"Iya-iya,...Sayang..." tatap Ardian mesra

__ADS_1


"Apa, kok menatapku begitu?" tanya Renata manja


"Sayang, mau nggak punya anak lagi?" tanya balik Ardian


"Enggak...pabriknya udah ditutup, ikut anjuran pemerintah dua anak cukup." sahut Renata ketus


"Tapi kamu kelihatan tambah cantik dan seksi lho kalo sedang hamil." senyum Ardian menggoda istrinya


"Halahh...gombal, nggak mempan rayuan nya." sungut Renata


"Tapi kalo ngintip pabriknya boleh dong." bisik Ardian di telinga Renata


"Ahh..geli Mas, apaan sih." tubuh Renata merinding


"Mau yang lebih geli tapi enak nggak?" bisik Ardian lagi


"Dasar genittt..." cubit Renata dipinggang, kini Ardian yang kesetrum


"Ok, siap menerkam..." seketika Ardian mengangkat tubuh Renata dan membawanya masuk ke kamar


###


"Aduh, perutku sakit?" Anita meringis menahan sakit


Akhirnya Anita menghubungi paman nya yang juga sekaligus boss Hendra lewat ponsel, karena bingung mau minta tolong pada siapa.


"Paman, perutku sakit sekali sepertinya aku mau melahirkan." ucap Anita ketika tersambung


"Tunggu Anita, tahanlah aku dan anak buah ku akan segera ke sana." jawab cepat si boss si sebrang sana


Tak sampai sepuluh menit, si boss tiba bersama dua anak buahnya. Mereka langsung membawa Anita ke rumah sakit terdekat. Begitu sampai suster membawa Anita langsung ke ruang persalinan, dan menyuruh mereka menunggu di luar.


Si boss sengaja tak memberi tahu Hendra tentang kondisi Anita, ia tak mau pekerjaan Hendra terganggu. Hendra memang sedang ia tugaskan keluar kota untuk membereskan urusan bisnis yang sangat penting.


Setelah satu jam berjuang sendirian, bayi laki-laki lahir dengan selamat dan sehat tak kurang suatu apapun. Anita tersenyum bahagia menatap bayinya, meski harus berjuang sendiri tanpa Hendra di sampingnya.


"Selamat Anita, bayi mu ganteng sekali." ucap si boss memberi selamat


" Oh ya, ...Hendra mungkin besok pagi baru menemuimu, aku menyuruhnya membereskan urusan keluar kota." lanjut si boss


"Iya paman, aku mengerti." ucap Anita pelan


Benar saja saat pagi menjelang Hendra memasuki kamar inap Anita, dilihatnya Anita sudah terbangun. Di ruangan itu Anita hanya seorang diri, mungkin bayinya ada di ruang lain.

__ADS_1


"Anita, maafkan aku...." ucap Hendra duduk di samping Anita


"Nggak apa-apa Hen, aku mengerti. " senyum kecil Anita


"Maaf, kemarin ponselku ...." ucapan Hendra terpotong oleh Anita


"Tidak usah di jelaskan, paman sudah cerita kalo kamu sedang tugas keluar kota. " Anita menatap wajah suaminya


"Ini dia bayinya nyonya, selesai mandi dan sekarang tolong diberi asi." ucap ramah suster yang datang membawa bayinya


"Terima kasih suster." ucap Anita sambil menerima bayi di gendongan nya


Hendra terpaku melihat makhluk mungil di gendongan Anita, matanya nyaris tak berkedip dan jantungnya berdebar aneh. Ia tak menyangka telah menjadi seorang ayah, rasanya seperti mimpi.


"Hen, kau mau menggendong nya?" tanya Anita mengagetkan Hendra, kemudian memberikan junior ke gendongan Hendra


"Junior ku..." ucap Hendra sambil mencium pipi bayinya


"Hati-hati Hen, kamu tadi sudah mandi kan?" senyum Anita melihat wajah Hendra


"Iya, sudah wangi lagi." sahut Hendra terus menciumi pipi bayinya


"Sudah sini, biarkan junior mimik dulu, pasti sudah lapar dia." ucap Anita mengambil bayinya dari gendongan Hendra


Hendra tersenyum bahagia melihat Anita yang sedang menyusui junior, ia bersyukur akhirnya memilki sebuah keluarga kecil.


"Anita, terima kasih telah melahirkan junior untukku." Hendra memegang tangan Anita


"Hen, seharusnya aku yang berterima kasih kepada mu. Kamu telah memberikan kenangan indah untukku, memberiku malaikat untuk menemani kehidupan ku kelak." lirih Anita menatap wajah suaminya dengan air mata tertahan


"Apa maksud ucapan mu, Anita?" tanya heran Hendra


"Kehadiran junior membuat ku makin kuat, dan jika suatu hari nanti kau ingin meninggalkan aku, tolong ijinkan aku tetap bersamanya." air mata Anita mulai menetes


Hendra terdiam mendengar ucapan Anita , entah mengapa hatinya serasa teriris, pedih rasanya. Kini ia bertanya sendiri pada hatinya, apakah dia akan meninggalkan Anita kelak, apakah dia sanggup pergi dari keluarga kecilnya ini.


"Hen, jawablah...kau ijinkan aku untuk selamanya bersama junior kan?" tanya Anita pilu


"Anita, mungkin kau sudah tahu perasaan ku padamu, tapi aku berjanji tak akan meninggalkan kalian berdua. Aku akan tetap bersama mu dan juga junior, asalkan kau bisa menerima ku apa adanya. " Hendra menggenggam erat tangan Anita dan menatap tajam wajahnya


"Benarkah Hen, apa aku tak salah dengar..." ucap Anita pelan


"Iya, dan aku minta maaf atas sikap ku padamu kemarin, saat ini dan nanti." ucap Hendra menghapus air mata di pipi Anita, mencium keningnya dan juga pipi junior, kemudian memeluk erat keluarga kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2