
Seperti biasa Renata menjalani rutinitas seorang Ibu yang mengantar jemput anak-anaknya ke sekolah. Tahun ini tidak terlalu repot lagi, karena kedua anaknya sudah di tingkat SD semua, si kakak sudah kelas 3 sedang adek tahun ini baru masuk kelas 1.
Karena di sekolah yang sama jadi tidak harus bolak balik, lebih efisien dan efektif. Selain itu ada Nia juga yang anaknya sekolah di situ, jadi Renata bisa setiap saat ngobrol dan berbagi cerita dengannya.
"Rena, ngobrol dulu yuk sambil ngemil-ngemil cantik..." ajak Nia suatu hari
"Kamu tu emang hobi nyemil, tambah melar ntar itu badan. " ucap Renata menggoda sahabatnya itu
"Biarin, biar kelihatan hasil kerja keras suami yang ngempani kita selama ini." sahut Nia cuek
"Ohh...ya, Ren...beberapa hari yang lalu aku ketemu Deni, aku sempat ngobrolin tentang rencana reuni sama dia. Ternyata sia antusias banget lho." cerita Nia sambil mulutnya nggak berhenti ngunyah
"Trus, emang dia mau jadi seksi sibuknya?" tanya Renata
"Ya dia sih mau aja kalo ada temennya nggak mungkin juga kan ngurusin sendirian." jawab Nia
"Ya udah sama kamu lah, ..." sela Renata
"Eitss...kalo cuma berdua bisa jadi selingkuhan dong, hahahaa..." canda Nia yang tertawa lebar
"Dasar kamu ini..." Renata menggelengkan kepala sambil tersenyum
"Kalo kemarin hasil ngobrol kita begini, kita buat janji ketemu sama beberapa teman seangkatan untuk membahasnya dan sekaligus nentuin siapa aja yang jadi seksi sibuknya. " terang Nia
"Kayak pembentukan panitia reuni, begitu maksudmu?" ucap Renata memperjelas
"Yups...betul...itu maksudku, rencana sih ada satu orang perwakilan tiap kelas, kalo bisa sih soalnya susah juga hubungi mereka yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing." terang Nia lagi
"Ya sudah lanjutin aja rencananya, aku yakin kalian bisa mewujudkan rencana ini, setelah ready semua baru kasih aku undangannya. " ucap Renata tersenyum kecil
__ADS_1
"Kamu tuh mau enaknya aja, ikutan dong jadi seksi sibuk." kata Nia sewot
"Kan udah ada kamu perwakilan kelas kita, tinggal tambah Deni, Tia, Rino dan lainnya cukuplah untuk menjadi sebuah panitia yang solid." sahut Renata beralasan
###
Sementara teman-temannya sibuk dengan rencana reuni, Hendra merasakan kehidupannya kini sangat menyiksa. Harus tinggal serumah dengan Anita membuatnya sangat tidak nyaman meski di rumahnya sendiri.
Walaupun Anita sudah berusaha sebaik mungkin mengambil hati Hendra namun sia-sia saja, sedikitpun tak mengubah sikap Hendra. Sejak tinggal bersama, Hendra hampir tidak pernah berbicara dengan Anita, jangankan bicara menatap atau bertemu pun pasti langsung menghindar.
"Hen, aku sudah siapkan sarapan, makanlah dulu." ucap Anita suatu pagi
"Hen..." Anita meraih tangan Hendra yang hendak pergi menghindar
"Lepaskan..." Hendra menarik kasar tangannya dari pegangan Anita
"Hen, tolong dengarkan aku sebentar..." pinta Anita, Hendra menghentikan langkahnya
"Apa kau lupa dengan ucapan mu, kau bilang sanggup menerima apapun perlakuan ku, jadi sekarang buktikan seberapa tangguhnya kamu dan ini belum seberapa, baru 3 bulan padahal mungkin kamu akan menanggungnya seumur hidupmu." ucap tegas Hendra sambil berlalu tanpa peduli dengan Anita yang menangis tersedu
Sepeninggal Hendra, Anita jatuh bersimpuh di lantai tubuhnya lemas tak bertenaga mendengar ucapan Hendra. Anita memang mencintai Hendra, ia memang telah rela dengan nasib cintanya yang bertepuk sebelah tangan, namun tetap saja hatinya perih, sakit dan hancur atas semua perlakuan Hendra.
"Ya Tuhan...berilah kekuatan pada hambamu ini, untuk menanggung beban cinta dalam hatiku dan bila mungkin bukalah hati Hendra meski cuma sedikit." ucap lirih Anita meratapi nasibnya
Setelah kejadian hari itu Anita tak lagi mengusik Hendra, ia biarkan saja apapun perlakuan Hendra padanya, ia sudah pasrah dan ikhlas. Lagipula semenjak itu Hendra jadi jarang pulang, kadang hingga berhari-hari.
###
Sudah lebih dari 6 bulan Anita menikah dengan Hendra, hatinya semakin tabah menghadapi semua sikap dan perlakuan Hendra padanya. Namun begitu dengan tulus Anita tetap perhatian dan telaten menyiapkan segala keperluan Hendra jika ia pulang ke rumah, yang kadang malah di tolaknya mentah- mentah.
__ADS_1
Hari itu Hendra pulang agak larut malam dalam keadaan mabuk berat, jalannya sempoyongan hingga tak kuat sampai kamar dan menjatuhkan diri di sofa.
"Biar aku bantu." ucap Anita hendak membantu Hendra bangkit
"Pergilah, aku tak butuh bantuan." hardik Hendra menampik tangan Anita
Hendra yang berusaha bangkit sendiri terjatuh lagi, kini Anita spontan menarik tangan Hendra dan mengalungkan di lehernya, kemudian memapahnya berjalan menuju kamar. Badan Hendra yang tinggi besar membuat Anita cukup kerepotan, dan hampir saja terjungkal.
Dengan susah payah Anita memapah Hendra, begitu sampai dikamar ia segera menghempaskan tubuh Hendra di atas ranjang cukup keras karena tenaganya sudah tak kuat lagi. Ia pun terduduk untuk mengatur nafasnya yang kembang kempis, dan mengelap peluh di dahinya.
Anita kemudian melepas sepatu yang masih di pakai Hendra, dan juga menggulingkan tubuh Hendra untuk membuka jas nya. Anita memandang wajah Hendra yang terlentang di hadapannya, wajah ganteng namun dingin. Seandainya saja wajah itu dihiasi dengan sedikit saja senyuman pasti lebih menawan lagi.
Anita dengan ragu melepaskan kancing baju Hendra satu persatu, tangannya nampak gemetar antara takut dan deg-deg an. Sesaat ia memandang lagi wajah Hendra yang kini sangat dekat dengannya, jantungnya berdebar baru kali ini ia bisa sedekat ini dengan pria yang sangat dicintainya itu.
"Renata..." ucap Hendra tiba-tiba sambil menggenggam tangan Anita
"Iya..." tanpa sadar Anita menjawabnya
"Benarkah ini kamu Renata sayang..." Hendra menggenggam erat tangan Anita dan menatap wajahnya
"Iya Hen, ini aku Renata." Anita sengaja mengakuinya
Meski hatinya serasa pedih karena dianggap Renata, namun karena cintanya yang besar pada Hendra dan keinginan besarnya untuk merasakan sentuhan Hendra, ia rela menjadi bayangan Renata. Dan benar saja, karena menganggap nya Renata Hendra nampak tersenyum dan mencium tangan Anita.
Jantung Anita berasa copot ketika tiba-tiba Hendra menarik tubuhnya, kini ia berada diatas tubuh Hendra merasakan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang. Beberapa detik kemudian Hendra membalikkan tubuhnya hingga kini Anita berada di kungkungan Hendra.
"Renata, aku rindu sekali padamu." ucap Hendra yang langsung menyerang bibir Anita sekilas
"Hendra..." lirih Anita saat Hendra melepaskan bibirnya
__ADS_1
Namun suara Anita terhenti karena Hendra yang telah menganggap bahwa dirinya adalah Renata telah menyerang kembali bibirnya, kini serangan itu lebih dahsyat dan semakin panas. Anita yang memang telah lama merindukan ini membalasnya dengan sengit, terjadilah perang lidah diantara mereka. Dengan nafas yang saling memburu mereka nampak sangat menikmatinya.