Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Mendominasi


__ADS_3

Hari sudah malam namun belum terlalu larut saat Hendra dan Arya tiba di kediaman Hendra. Dan benar saja begitu mendengar suara mobil berhenti, Anita bergegas keluar untuk melihat. Alangkah terkejutnya Anita saat melihat Hendra berjalan menuju rumah dengan menggendong tangan kirinya, diikuti Arya di belakangnya.


"Daddy,... apa yang terjadi denganmu?" tanya Anita spontan menghambur dan menatap tangan kiri Hendra


"Nggak apa-apa, jangan panik begitu....lenganku hanya sedang rindu ditembus peluru." jawab Hendra datar tanpa ekspresi


"Jangan bercanda begitu dong, aku sangat mengkhawatirkan keadaan mu, apalagi beberapa hari ini kau tak pernah menghubungiku." ucap Anita yang nampak begitu khawatir


"Iya maaf, aku tak sempat menghubungi mu...sekali-sekali buat kejutan boleh kan." sahut Hendra tetap bersikap datar


"Dasar pria dingin, istrimu minta dipeluk itu, makanya merajuk begitu...." ujar Arya tersenyum kecil sambil menepuk bahu kanan Hendra


"Dokter Arya, ...kamu juga kenapa nggak memberitahuku jika suami ku sedang terluka." ucap ketus Anita menatap wajah ke arah Arya


"Nah kan,...apa kataku...aku lagi yang disalahkan oleh istrimu." sahut Arya menepuk lagi bahu Hendra namun lebih keras


"Udah terima saja nasib mu,... ayo masuk dulu." kata Hendra sambil memasuki rumah dan duduk di ruang tamu


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah, Arya dan Hendra duduk di ruang tamu, sedangkan Anita ke belakang untuk membuatkan minum buat keduanya. Tak selang berapa lama Anita telah kembali dengan membawa dua cangkir teh hangat.


"Ayo diminum, ..." ucap Anita setelah meletakkannya dan ikut duduk di sebelah Hendra


"Dad,...kenapa sampai terluka begini, apa mereka begitu tangguh. " tanya Anita manja saat duduk disebelah Hendra


"Lumayan, mungkin aku yang kurang hati-hati." jawab singkat Hendra


"Hen, jadi pria nggak peka banget sih....peluk atau cium istri kamu, terlihat jelas dia rindu berat pada mu. " ucap Arya tersenyum saat melihat sikap manja Anita


"Arya,...."Anita menatap tajam ke arah Arya


"Benarkah mom,..." tanya Hendra menatap istrinya

__ADS_1


" Pakai nanya lagi, lihat aja sikapnya...habis ini kamu pasti diterkamnya, ya sudah kalo begitu aku nggak mau jadi pengganggu, aku langsung pamit pulang saja." ucap Arya menghabiskan minumnya dan hendak beranjak


"Arya,... dasar dokter nyebelin, kalo ngomong nggak disaring dulu." gerutu Anita yang jadi salah tingkah karena Hendra meliriknya sambil tersenyum simpul


"Hehehe...harusnya kamu berterima kasih pada ku Anita, kalo aku nggak ngomong begitu mana mungkin suamimu itu peka." ucap Arya kemudian berjalan keluar


Hendra dan Anita mengikuti langkah Arya dan mengantarnya sampai di depan rumah. Arya kembali tersenyum kecil ketika menoleh ke belakang dan melihat sikap manja Anita pada suaminya.


"Sudah sana jinak kan dulu istri kamu, ...aku pulang." ujar Arya pamit dan kemudian masuk ke mobil dan melaju meninggalkan rumah Hendra


"Kenapa kau memandangi ku begitu Dad,..." tanya Anita yang tampak merona saat Hendra terus menatapnya


"Benarkah yang di bilang Arya tadi, apa aku memang tidak peka..." kata Hendra mencoba tersenyum namun membuat Anita jadi salah tingkah


Anita merasa malu dan salah tingkah, ia tak percaya jika sikapnya terlalu berlebihan hingga dokter Arya saja bisa membaca isi hatinya yang memang sedang rindu berat pada suaminya. Ia bergegas masuk ke dalam rumah dan berdiam di kamarnya, meninggalkan Hendra yang sedang mengunci pagar dan pintu rumah.


"Kamu seperti gadis abg saja,..."senyum Hendra saat melihat Anita duduk di ranjang sambil tersenyum sendiri


"Masa,... se rindu itu sampai-sampai Arya saja bisa merasakannya. " ucap Hendra dengan cuek hingga membuat Anita sewot


"Daddy,... beneran nggak peka, bener juga kata dokter Arya. " sewot Anita kini duduk di sebelah Hendra


Hendra hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Anita yang cemberut, ia sebenarnya juga merasakan perasaan istrinya itu namun emang dasarnya dingin ya begitulah reaksinya hanya datar saja. Dia tak bisa menunjukkan ekspresi yang berlebihan seperti itu.


"Baru juga seminggu aku pergi, biasanya juga tak begini." ucap Hendra menatap lembut wajah istrinya


"Habis cerita Renata membuatku pengen juga..." gumam Anita tak dapat menahan ucapannya


"Maksud mu?" tanya Hendra tampak kaget seketika mendengarnya


"Hah, aku keceplosan..." Anita menutup mulutnya dengan tangan

__ADS_1


"Ayo cerita ada apa?" desak Hendra tak dapat menyembunyikan rasa penasaran jika sudah menyangkut Renata


Anita akhirnya bercerita jika Renata dan Ardian sudah baikan, masalah mereka sudah beres dan kebenaran sudah terungkap. Anita juga bercerita tentang hukuman yang diberikan Ardian pada istrinya itu. Wajahnya langsung merona saat menceritakannya, namun lain dengan apa yang dirasakan oleh Hendra saat mendengar cerita tersebut. Dalam hatinya Hendra merasa sangat cemburu dan terlihat gusar, meski Ardian adalah suami Renata namun tetap saja ia masih belum sepenuhnya ikhlas menerima.


"Daddy, kamu kenapa...kok ekspresinya begitu, emang nggak suka kalo mereka baikan." tanya Anita memperhatikan wajah Hendra


"Tentu saja aku senang dan lega mendengarnya, kini mereka bisa hidup bahagia dan damai lagi. " sahut Hendra segera menghilangkan perasaan tak enaknya dan mencoba sedikit tersenyum


"Dad, setelah mendengar cerita itu, aku jadi pengin dihukum seperti dia." bisik Anita manja di telinga Hendra


"Tapi kamu lihat sendiri bagaimana kondisi ku saat ini." jawab Hendra sambil melirik tangan kirinya yang digendong


"Kalo begitu biar aku yang menghukum mu...." lirih Anita yang telah me lu mat bibir hangat di depannya


Hendra tampak kaget dengan sikap agresif Anita, namun ia tak ingin membuat kecewa istrinya itu. Ia kemudian membalas dan mengimbangi lu mat an Anita, hingga membuat Anita semakin bersemangat lagi.


Malam itu Anita yang menguasai Hendra sepenuhnya, meski terbaring dengan tangan kiri terluka namun Anita yang mendominasi di atasnya berhasil membuatnya ber gai rah. Semalaman ini Anita benar-benar menghukumnya habis tanpa ampun lagi.


"Kau sungguh di luar dugaan, mom..." de sah Hendra merasakan ke agresif an Anita di atas tubuhnya


"Ini hukuman untukmu karena tak punya waktu untuk sekedar menghubungiku beberapa hari ini." lirih Anita terus bergerak lincah membuat Hendra terpejam merasakan sensasi baru dari istrinya


"Aku rela menerima hukuman mu, mom..." lirih Hendra membalas ke agresif an Anita meski dengan satu tangannya


Anita tambah bersemangat lagi menerima perlakuan nakal satu tangan suaminya, ia tak peduli lagi dengan keringat yang mengucur deras membasahi tubuhnya. Terus bergerak mendominasi hingga membuat Hendra terpejam dan tak mampu mengendalikan tiap de sah an yang keluar dari bibirnya.


"Terima kasih, mom...kamu sungguh luar biasa, capek ya..." pelan ucap Hendra sambil mengusap peluh di kening Anita yang telah terbaring disampingnya


"Iya, sepertinya lumayan banyak membakar lemak ku, cukup bagus untuk olahraga malam..." senyum Anita yang terlihat begitu puas


"Aku janji akan membalas mu nanti...." Hendra mengecup kening istrinya dan kemudian terlelap bersama

__ADS_1


__ADS_2