
Hari Minggu yang cerah, tak terlalu panas tapi tidak juga mendung. Hari itu Andi dan Renata pergi nonton, kebetulan ada film baru pemeran utamanya adalah aktor favorit Renata. Sejak mulai tayang perdana Renata sudah meminta Andi untuk mencari tiket, maklumlah selalu sold out.
"Makasih ya, Ndi... akhirnya bisa nonton juga." ucap Renata saat memasuki ruangan.
"Iya, sama-sama, sayang." balas Andi sambil mencium ujung kepala Renata.
Mereka duduk sesuai nomor yang tertera di tiket, ruangan tampak penuh penonton. Selama film diputar, tampak sesekali Andi menatap wajah Renata dari samping.
"Andi, layarnya di depan bukan di samping..." ucap Renata sembari menolehkan kepala Andi ke depan.
"Tapi aku lebih suka menatap wajah yang ada di sampingku." Andi meraih tangan Renata dan menggenggamnya erat.
Renata terlihat sangat menikmati film yang diputar, sesekali tersenyum, cemberut bahkan kadang terlihat kesal. Hampir dua jam lebih akhirnya film selesai, mereka keluar ruangan antri cukup lama karena penontonnya memang penuh.
"Gimana, bagus kan filmnya." tanya Renata.
"Nggak tahu deh, ..." sahut Andi enteng.
"Lho emang gimana tadi nontonnya kok nggak tau."
"Lhah, aku kan nonton artis yang duduk disebelah aku." lirik Andi
"Makanya kalo lagi nonton fokus, mata jangan kemana-mana" Renata mencubit pinggang Andi
"Aduh,...geli Ren"
"'Biarin,...ni mau lagi."
"Nggak, .. nggak... ampun." Andi menangkap tangan Renata yang akan mencubitnya lagi.
"Sekarang mau kemana?" tanya Andi.
"Pulang lah, kan mau lanjutin baca novel yang tadi." jawab Renata cepat.
"Iya deh, tapi beli cemilan dulu ya, ntar aku gak ada kerjaan nungguin kamu baca." ajak Andi sambil menggandeng tangan Renata menuju parkiran motor.
Setelah mampir ke sebuah mini market untuk beli cemilan, mereka langsung pulang ke rumah.
"Kok sepi amat pada kemana ya." ucap Renata mendapati rumah tampak sepi.
"Jangan-jangan pintu dikunci lagi." tambah Andi.
"Tenang aja kalo kunci pasti ada di tempat biasa kok." Renata mengambil kunci dan membuka pintu.
__ADS_1
"Silahkan masuk, tunggu ya tak buatin minum." ucap Renata meninggalkan Andi diruang tengah.
Tak lama Renata muncul membawa segelas es sirup jeruk kesukaan Andi.
"Oke, ini minumnya dan silahkan di nikmati bersama cemilannya." senyum Renata.
"Terima kasih, sayang" ucap Andi sambil mencoba mencium pipi Renata.
"Eitss,...duduk manis nggak boleh ganggu, aku mau menghayati novelnya." Renata menarik wajahnya.
"Aku bantu kamu buat menghayatinya."
Tangan Andi memeluk pinggang Renata dan menariknya, mendekat ke tubuhnya. Wajah mereka saling beradu sangat dekat, mata saling menatap. Renata dapat dengan jelas mendengar desah nafas Andi yang memburu, sedetik kemudian bibir lembutnya telah dicium Andi.
Renata memejamkan matanya ketika Andi mulai ******* lembut, menyesapnya, hingga lidahnya kini bebas bermain di rongga mulutnya. Dadanya berdetak kencang, ia mulai membalas permainan lidah Andi, saling membelit, saling mengejar bagaikan main petak umpet, semakin seru hingga mereka berhenti karena nyaris kehabisan nafas.
"I love u Rena,...." bisik Andi sambil mencium telinga Renata.
"I love u too, Hendra...." desah Renata tanpa sadar akan kata-katanya.
Seketika Andi melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Renata sedikit ke belakang, Renata kaget dan membuka matanya.
"Apa,...apa yang kamu bilang tadi" Andi menatapnya tajam.
"Ma..maaf Ndi, aku nggak sengaja."
ucap Renata cepat ketika menyadari kesalahannya.
"Rena, aku nggak menyangka ...."
"Andi, maafkan aku...bukan maksudku untuk menyakiti hatimu." potong Renata.
"Rena, apa setahun ini nggak ada artinya buat kamu, selama ini kukira kau sudah tulus menerima ku." ucapan Andi bergetar.
"Ternyata aku sudah gagal, aku gagal membuat mu jatuh cinta pada ku. Selama ini ragamu bersama ku tapi pikiran dan hati kamu tetap padanya." lanjut Andi pilu
"Maafkan aku, karena telah menyakitimu, jujur aku memang belum sanggup untuk melupakan nya." ucap lirih Renata yang kini telah mengalir air matanya.
Andi terdiam sejenak, hatinya benar-benar hancur saat ini. Ia merasa sangat kecewa, marah, entah apalagi namanya yang pasti sangat sakit.
Namun ia kemudian tersadar, dulu ia yang memaksa Renata untuk belajar mencintainya. Dan kini saat mendapati bahwa Renata tak bisa melupakan masa lalunya, ia harus berusaha menerimanya.
"Andi, sekali lagi maafkan aku. aku telah membuat mu kecewa." Renata meraih tangan Andi.
__ADS_1
"Nggak, Ren..kamu nggak perlu minta maaf, ini adalah konsekuensi yang harus aku terima. Dulu aku memaksakan perasaan ku padamu, kini harus ku akui bahwa cintamu memang tetap miliknya." Andi menatap lembut wajah Renata.
"Andi, kamu cowok yang baik nggak seharusnya aku menyakitimu begini." lirih Renata.
"Aku nggak apa-apa, Rena. aku mencoba ikhlas menerimanya. Tapi maafkan, aku nggak sanggup lagi bersama mu." Andi mulai melepas genggaman tangan mereka.
"Selamat tinggal, Rena....aku tetap menyayangi mu." Andi mengecup kening Renata kemudian berdiri dan meninggalkan nya.
###
Semalaman Renata mengurung diri di kamar nya. Ia sangat menyesali apa yang telah terjadi, tak seharusnya ia menyakiti hati Andi.
Sebenarnya setahun ini ia sudah berusaha untuk mencintai Andi, tapi entah kenapa bayangan Hendra tak pernah bisa hilang.
Semakin keras ia berusaha melupakannya, justru malah makin merindukannya. Seandainya bisa ia ingin mengulang kembali
dari awal.
"Rena, apa kamu sudah tidur?" terdengar Ibu mengerti pintu kamarnya.
"Belum Bu, ada apa?" Renata menemui ibunya.
"Bisa Ibu bicara sebentar?" tanya ibu diikuti anggukkan Renata, keduanya duduk di ruang tengah.
"Nak, apa yang terjadi. tadi siang pas ketemu nak Andi di teras kok seperti orang habis nangis, apa kalian berantem?" tanya ibu dengan hati-hati.
"Bu kami nggak berantem, tapi kami memutuskan untuk berpisah." jawab Renata pelan.
"Kenapa nak, Andi itu kan laki-laki yang baik Ibu sangat menyukainya. apa dia menyakitimu?"
"Nggak Bu, justru aku yang udah menyakiti hatinya, aku udah bikin dia kecewa."
"Maksudnya bagaimana, Ibu kok tidak mengerti?" ingin tahu Ibu.
"Bu, setahun ini Renata sudah berusaha untuk mencintai Andi , tapi tetap saja bayangan Hendra tak pernah bisa hilang. Renata masih menyayanginya." terangnya sambil meneteskan air mata.
"Kenapa, nak ...apa kamu masih mengharapkan dia?"
"Kadang ingin rasanya untuk menemuinya lagi, jujur Rena rindu sama Hendra, Bu."
"Rena, kamu harus move on. Simpanlah rapat-rapat masa lalu mu di dalam hati, tataplah masa depan. Tak ada laki-laki yang rela pasangannya masih terus mengenang mantannya." nasehat Ibu
"Dan lagi kamu dan dia itu beda, perbedaan kalian hampir nggak mungkin disatukan. Cobalah mengerti, Rena." lanjut ibu
__ADS_1
"Entahlah Bu, Rena sudah berusaha tapi sampai saat ini belum bisa." lirih suara Renata.