Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Tugas penting


__ADS_3

Karena sudah mendapat kabar bahwa kondisi Renata sudah membaik, keesokan harinya Hendra membawa keluarga kecilnya pulang. Jarak yang cukup jauh ditambah harus membawa serta Junior yang masih balita, membuat perjalanan pulang jadi sering berhenti untuk istirahat.


Setelah sehari semalam berkendara akhirnya mereka tiba dirumah, Hendra merasa sangat letih. Ia harus menyetir sendiri dan selalu fokus, membuatnya kini merasa tubuhnya tegang semua. Ia berniat untuk rileks sejenak melepaskan penat di tubuhnya, namun panggilan si boss mengurungkan niatnya.


"Ya, boss..." Hendra menjawab panggilan si boss saat ponselnya berdering


"Gila kamu ya...baru sekarang bisa dihubungi, cepat kesini sekarang juga...penting!!" omelan si boss di ujung ponsel dan langsung memutus panggilannya


"Mau kemana, Dad?" tanya Anita menghampiri Hendra yang beranjak dari ranjang


"Si boss memanggil, sepertinya ada masalah serius." jawab Hendra cepat sambil mengganti pakaiannya


"Tapi kamu kan masih capek, biar aku pijit dulu." ucap manja Anita yang memeluk tubuh Hendra dari belakang


"Nanti saja mom, aku nggak mau si boss jadi ngamuk." sahut Hendra melepas pelukan Anita dan berbalik menatap wajah istrinya


"Aku sudah salah, beberapa hari ini tak mengabarinya. Entah apa hukuman darinya nanti,...Aku pergi dulu." ucap Renata berpamitan dan mengecup kening istrinya


"Hati-hati Dad,...cepat pulang ya." pesan Anita saat mengantarkan suaminya sampai ke mobil


Tak butuh waktu lama, Hendra telah sampai di tempat si boss. Seorang bodyguard langsung menghampirinya dan menyuruhnya cepat masuk, karena si boss sudah menunggu.


"Masuk..." sahut si boss dari dalam saat Hendra mengetuk pintu


"Selamat siang boss..." sapa Hendra terhenti melihat raut wajah penuh amarah si boss yang menatapnya


"Dasar asisten si alan...kemana saja hah..." damprat si boss seketika


"Maaf boss, ada sedikit masalah keluarga yang harus saya selesaikan." jawab Hendra tenang


"Dengar ya, aku senang hubungan mu dengan Anita membaik, tapi urusan bisnis ku tetap jadi prioritas nomer satu, mengerti...!!!" ucap si boss dengan nada tinggi


"Mengerti boss, sekali lagi maaf." sahut Hendra cepat

__ADS_1


"Ini tugas penting sekaligus hukuman buat kamu..." ucapan si boss berhenti sejenak untuk mengambil sebuah berkas


"Pergi ke pulau X, bisnis kita disana sedang bermasalah, segera selesaikan dan jangan pernah kembali sebelum semuanya beres." perintah si boss sambil menyerahkan berkas ke tangan Hendra


Hendra menerima berkas tersebut, dan melihatnya sekilas. Raut wajahnya berubah, saat menyadari tugasnya kali ini cukup berat. Sempat terlintas sedikit keraguan di hatinya, namun mau tak mau perintah si boss tak bisa ditolak.


"Baik, boss...besok pagi saya akan berangkat dengan penerbangan pertama." jawab Hendra kemudian


"Tidak...berangkat sekarang juga, tiketmu sudah disiapkan, lebih cepat lebih baik. Aku tak mau ada alasan apapun." ucap keras si boss


"Bawa barang secukupnya dan sekalian pamit sama istri dan anakmu, bodyguard akan langsung mengantar mu." lanjut si boss menutup pembicaraan dan melangkah keluar meninggalkan ruangannya


Hendra termenung sesaat, suara seorang bodyguard mengejutkannya dan kemudian bergegas pulang ke rumah untuk bersiap. Ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa, meski tubuhnya masih terasa penat ia harus tetap berangkat sekarang juga.


"Aku harus berangkat sekarang." ucap Hendra pada Anita yang mencoba membujuk untuk berangkat besok


"Kamu masih capek, Dad...Aku nggak mau kamu sakit nanti." Anita berkata sambil membantu Hendra mempersiapkan keperluannya


"Aku nggak apa-apa, nanti bisa tidur di pesawat, jangan khawatirkan aku jaga saja Junior baik-baik. Aku pergi dulu." ucap Hendra mencium kening dan bibir Anita sekilas tanpa hasrat


"Cukup mom,...Aku berangkat dulu." bisik Hendra menatap Anita yang berkaca-kaca


"Aku mencintaimu,... kapan kamu akan kembali?" tanya pilu Anita yang mulai menangis


"Aku belum tahu, setelah semua beres aku akan segera pulang. Aku akan menghubungi mu setiap hari." ucap lembut Hendra menenangkan hati Anita


"Jaga diri kamu baik-baik, dan segeralah kembali...Aku dan Junior akan selalu merindukan mu." isak Anita menciumi wajah suaminya


Dengan berat hati Hendra melepaskan tangan Anita, setelah menciumi pipi anaknya yang sedang tertidur ia kemudian bergegas pergi. Bodyguard yang sudah menunggunya di depan langsung memacu mobilnya cukup kencang.


Anita masih terdiam sejenak menatap mobil yang di kendarai Hendra semakin lama semakin tak tampak. Air matanya masih saja menetes, entah mengapa kali ini ia begitu berat melepas Hendra, padahal ini sudah sering terjadi. Hendra memang kerap pergi jauh bahkan sampai keluar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan nya, tapi kali ini hatinya terasa sangat berat.


"Daddy...cepatlah pulang, aku mencintaimu." lirih Anita sambil mengusap air matanya

__ADS_1


###


Sementara itu, setelah hampir seminggu di rumah sakit, akhirnya Renata bisa pulang kerumah. Kondisinya sudah sangat baik, hingga kini bisa berkumpul lagi dengan suami dan anak-anak nya.


Anak-anak sangat bahagia melihat mamanya telah kembali ke rumah, mereka memang tak tahu perselisihan orang tuanya. Yang mereka tahu mamanya pergi ke rumah nenek untuk menemaninya, karena kondisi nenek yang sering sakit.


"Terima kasih mas, akhirnya aku bisa kembali lagi ke rumah kita. Aku sangat merindukannya..." ucap Renata duduk di tepi ranjang dan mengamati seluruh ruangan kamarnya


"Kamu merindukan rumah ini, tidak rindu padaku?" sahut Ardian sewot dengan muka cemberut


"Hehehe...kamu ini, cemburu kok sama rumah." balas Renata tersenyum kecil sambil mencubit pinggang Ardian


"Kamu sih nggak peka, orang suaminya ada disebelah malah bilang rindu pada rumah, harusnya bilang aku rindu padamu suamiku." sungut Ardian manja


"Iya-iya...Aku sangat merindukan mu suamiku." ucap Renata kemudian sambil menatap lembut wajah suaminya


"Aku sangat mencintaimu, Rena...berjanjilah kau tak akan pernah meninggalkan aku lagi." ucap pelan Ardian mencium kening istrinya


"Lhah...kan mas Ardian yang menyuruhku pergi." sewot Renata menggodanya


"Sudah jangan dibahas lagi,...dan berjanjilah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." jawab Ardian membelai lembut wajah Renata


"Maafkan aku mas, aku sangat menyesal..." raut muka Renata berubah muram


"Aku bilang lupakan semua, jangan dibahas lagi...entah mengapa aku selalu bisa memaafkan mu, apapun itu." bisik lembut Ardian di telinga Renata


" Ahh...geli mas, kamu membuatku merinding." lirih Renata yang gemetar tubuhnya


"Sengaja,...sudah lama tak melihat mu menggeliat kegelian begini." bisik lagi Ardian kini menelusuri leher jenjang istrinya


"Mas..." de sah manja Renata menerima perlakuan suaminya


"Sayang, kamu sudah benar-benar sehat kan...sudah siap menerima agresi militer ku, meriam ku sudah tak sabar untuk memulai pertempuran." bisikan Ardian terdengar semakin berat

__ADS_1


"Tentu mas, tapi pelan-pelan saja ya...kendalikan dia agar tidak brutal, secara sudah lama nganggur." balas lirih Renata menggigit lembut telinga Ardian


"Ahh...yes, thanks u honey. " de sah Ardian memulai agresinya dengan pelan namun pasti


__ADS_2