
Hari-hari Renata kini sendiri lagi, tak ada lagi Andi di sisinya. Tak ada lagi yang selalu jahil menggodanya, tak ada lagi tertawa lepas karena kekonyolannya.
Meskipun begitu ia mulai rutinitas kerjanya kembali, ia tak ingin berlarut dalam masalah ini. Hidupnya harus terus berjalan.
Namun sekuat apapun ia mencoba, kadang disaat bekerja ia masih sering bengong sendiri. Teman kerjanya selalu memperingatkan jika ia mulai melamun, seperti siang itu.
"Maaf, maafkan saya." Renata cepat mengambil kertas yang berhamburan.
Rupanya saat itu ia tengah berjalan sambil melamun, tak sengaja ia menabrak seorang klien yang sedang berjalan menuju ruang atasannya.
"Sekali lagi, maafkan saya tidak sengaja."
"IYa nggak apa-apa, lain kali tolong hati-hati."
Renata hanya menganggukkan kepalanya, ia merasa sangat malu. Namun pria itu hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Rena, makanya hati-hati...sudah sana kembali kerja. " ucap mbak Dewi rekan kerjanya.
"Iya mbak, maaf." jawab Renata sambil berlalu.
"Maafkan rekan saya mas, dia memang begitu sering nggak fokus." kata mbak Dewi kepada pria tersebut.
"O iya nggak apa-apa kok, jadi dia juga karyawan disini?" tanya pria tersebut.
"Iya mas. Mas Ardian mau bertemu dengan Pak Anto, mari saya antar." lanjut mbak Dewi.
"Iya."
Hari itu cuaca cukup panas saat Renata ditugaskan untuk mengambil berkas ke kantor klien. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar setengah jam ia sudah tiba.
Kantornya cukup besar , ternyata sebelahnya adalah sebuah kampus universitas swasta. Renata bergegas masuk, tak begitu lama setelah menyelesaikan pekerjaannya ia menuju motornya.
"Hendra..." tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
Renata sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengucek matanya, untuk memastikan penglihatannya. Ia benar-benar tak percaya, ia melihat Hendra keluar dari kampus di sebelah kantor yang ia masuki tadi.
Renata refleks memalingkan wajahnya ketika Hendra menoleh ke arahnya, ia tak ingin Hendra melihat keberadaannya. Renata tersenyum kecil, tak menyangka bisa melihat wajah orang yang sampai sekarang masih betah berada dalam hatinya.
Hendra tak berubah, dia masih manis seperti dulu, dengan gayanya yang cool abis. Walaupun cuma melihat sekilas ia sungguh sangat bahagia.
Saat ia amati lagi ternyata kampus itu adalah kampus tempat Andi juga kuliah di sana. Renata sedikit cemas bagaimana kalo keduanya saling bertemu, mengingat mereka berdua dulu sempat berselisih.
"Maaf mbak bisa minggir, saya mau lewat." kata seseorang di belakang motornya, lamunannya buyar seketika.
"Oh iya, maaf maaf mas." jawab Renata cepat sambil menyalakan motornya dan berlalu pergi.
###
__ADS_1
Hari itu setelah melihat Hendra keluar dari kampus, entah kenapa Renata selalu memutar arah agar bisa lewat di depannya, padahal jalan tersebut bukan rute pulangnya setiap hari.
Sementara di dalam kampus, ternyata Andi baru menyadari kalo selama ini dia dan Hendra satu kampus, satu fakultas lagi. Mereka tak sengaja bertemu di depan ruang dekan.
"Hendra...."
"Andi...."
"Ternyata kamu juga kuliah di sini, Hen?" sapa Andi suatu ketika saat pertama bertemu Hendra.
"Iya." jawab Hendra enteng dengan cueknya.
"Fakultas teknik juga kan, ambil jurusan apa?"
''Iya, jurusan teknik informatika." masih dengan cueknya.
"Hen, nanti pulang kita bisa bicara sebentar?" ajak Andi
"Mau ngomong apaan sih."
"Ntar aja, tak tunggu di kedai depan sambil ngopi." ucap Andi sambil berjalan menuju ruang dekan.
Setelah selesai urusan dengan dekan, Andi mengambil motornya dan berlalu menuju kedai kopi depan kampusnya. Cukup lama ia menunggu, ia sempat berpikir apakah Hendra nggak akan datang.
"Hai, sorry nunggu lama." ucap Hendra enteng sambil duduk di depan Andi.
"Hen, apa kamu masih mencintai Renata" Andi dengan hati-hati membuka pembicaraan.
"Apa." Hendra nampak terkejut dengan pertanyaan Andi.
"Maaf kalo aku lancang, tapi aku ingin tahu."
"Kenapa, apa kamu pengen pamer kemesraan padaku." keadaan mulai tegang.
"Sabar , Hen...aku hanya..."
"Aku sudah tahu kalo kamu pacaran sama dia, aku pernah lihat kemesraan kalian. cuihh...lebay." cibir Hendra.
"Mungkin kamu pernah melihat kami, tapi itu dulu... sekarang aku sudah tak bersamanya lagi." jelas Andi
"Kalian putus ?" tanya Hendra penasaran.
"Iya Hen, setahun aku jalan dengannya. Aku pikir sudah bisa membuatnya jatuh cinta, tapi ternyata pikiran dan hatinya masih untuk mu." ucapan Andi membuat Hendra tersentak.
"Apa kamu yakin...darimana kamu tau?" desak Hendra
"Aku merasakannya, saat bersama ku ia membayangkan dirimu. Mungkin aku bisa memiliki raganya tapi pikiran dan hatinya masih milikmu." suara Andi bergetar.
__ADS_1
"Kalo mungkin kembalilah padanya, Hen. aku yakin dia masih mengharapkan mu, kamu masih mencintainya, kan?" lanjut Andi.
"Entahlah...aku belum mendapat solusi untuk perbedaan kami." ucap lirih Hendra.
"Dengarkan kata hati mu, aku kembalikan dia padamu. Mungkin dia cinta sejati mu, mungkin juga belahan jiwa mu, jadi pikirkanlah baik-baik." Ucap Andi sambil menepuk pundak Hendra dan meninggalkannya.
Tanpa mereka berdua sadari dari tadi Renata terus memperhatikan, ia berdiri tak jauh dari parkiran motor.
"Rena, kamu disini?" Andi kaget ketika memergoki Renata.
Dengan cepat Renata menarik Andi agar mereka tidak terlihat oleh Hendra.
"Sejak kapan kamu disini, Ren?"
"Sejak tadi, saat aku melihat Hendra keluar dari kampus." jawab Renata berbisik.
"Jadi kamu udah tau kalo Hendra kuliah di sini?" tanya Andi disambut anggukkan Renata.
"Kenapa tak kau temui dia, kau pasti rindu kan padanya?"
"Nggak Ndi, aku hanya sanggup menatap wajahnya dari kejauhan." ucap Renata pilu
"Harusnya kamu temui dia, kalian harus bicara untuk memberi kepastian akan perasaan kalian berdua." saran Andi
"Aku masih butuh waktu, Ndi." jawab Renata sambil bergegas pergi.
"Ren, kamu mau kemana?" ucapan Andi sudah tak terdengar oleh Renata.
Renata bergegas pergi, kini ia bimbang, haruskah ia menemui Hendra seperti saran Andi. Tapi ia merasa gengsi, cowoknya kan Hendra, harusnya dia yang menemui duluan.
Pikirannya yang terbang kemana-mana membuatnya tak fokus berkendara, tiba-tiba ia menabrak mobil di depannya. Seketika ia menghentikan motornya, ia benar-benar takut membayangkan si pemilik mobil ngamuk padanya.
"Bisa naik motor nggak sih, minggir dulu." seorang pria turun dan menghampirinya.
Renata menepikan motornya dengan gemetaran, kemudian membuka helmnya.
"Kamu...." ucap pria tersebut heran
"Maaf, saya lagi gak fokus, saya nggak sengaja." suara Renata terbata-bata.
"Kamu karyawan kantor ekspedisi itu kan , yang pernah nabrak saya waktu itu." tanya pria tersebut.
"Ehh ..iya, maaf mas." jawab Renata ketika menatap wajah pria tersebut.
"Kamu itu sebenarnya kenapa kok sering banget nggak fokus?" tanya pria tersebut pelan.
Renata jadi heran, ternyata pria ini nggak marah-marah malahan ucapannya terdengar menenangkan.
__ADS_1