Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Tidak tahan


__ADS_3

Arya serius dengan ucapannya pada Dina, sebulan setelah mereka jadian Arya berencana untuk melamar dan langsung menikahi Dina. Mereka berencana minggu depan akan pulang ke kota asal Dina, setelah melamar mereka akan menikah di sana.


"Jadi juga kamu akan menikah minggu depan Arya?" tanya si boss saat mereka bertiga yaitu Arya, Hendra dan si boss makan bersama di sebuah restoran langganan


"Iya boss, jadi saya mohon pamit mulai minggu depan hingga seminggu setelahnya saya akan tinggal disana." jawab Arya tampak sumringah


"Iya-iya pasti, aku turut senang akhirnya buaya darat ketemu pawangnya juga..." ucap si boss tertawa lepas


"Iya boss, kasihan juga keburu tua si buaya darat..." sahut Hendra menambahi


"Enak saja, aku itu bukannya tua tapi dewasa...setelah petualangan panjang ku akhirnya aku menemukan belahan jiwaku. " ucap Arya dengan bangga


"Iya, apalagi pawangnya seorang gadis perawan yang masih sangat muda, benar-benar beruntung." kata si boss menggoda Arya


"Memang boss, Arya ini termasuk om om genit, jadi yang diincar tentu saja gadis perawan yang masih orisinil. " tambah Hendra menepuk pundak Arya


"Bisa saja, si pria dingin ini menggoda ku boss....tapi tak apa sih kamu dingin, kalo tidak pasti calon istri ku itu kamu sambar juga." ujar Arya sebal sambil menatap tajam ke arah Hendra


"Pasti, bukankah sebelumnya gadis itu memang jatuh hati pada Hendra..." ucap si boss tersenyum simpul


"Sudah boss jangan bahas itu, bikin aku sensi aja kalo ingat hal itu." sahut Arya dengan wajah penuh cemburu


"Jangan khawatir, kebetulan teman mu ini tak berminat pada gadis muda mu itu..." kata Hendra tersenyum kecut


"Oh ya boss, anda jadi datang ke pernikahan saya minggu depan kan?" tanya Arya pada si boss


"Maksudmu aku harus datang ke pulau X, maaf Arya aku merestui mu dari sini saja, kamu tahu sendiri kondisi kesehatan ku bagaimana. Biar Hendra saja yang mewakiliku ke sana bersama istri dan anaknya, sekalian liburan kasihan juga Anita selama menjadi istri pria dingin ini tak pernah diajak liburan, bisa-bisa dia ikutan membeku." ucap si boss tersenyum kecil ke arah Hendra

__ADS_1


"Ahh si boss kalo berkata selalu benar..." sahut Arya tertawa senang melirik Hendra


"Sudah, kok jadi aku yang kena..." ucap Hendra datar tanpa sedikitpun senyum di wajahnya


Akhirnya setelah selesai menikmati seluruh hidangan mereka bertiga berpisah dan kembali ke kediaman masing-masing. Hendra langsung pulang ke rumah untuk segera memberitahu Anita agar bersiap untuk pergi ke pulau X minggu depan. Si boss dengan dikawal dua bodyguard terbaiknya kembali ke kediamannya untuk segera beristirahat, karena kondisi kesehatannya sedang menurun akhir-akhir ini.


Lain halnya dengan Arya yang tak langsung pulang, setelah menghubungi Dina kemudian ia bergegas menuju rumah kontrakan Dina. Rupanya ia memang tak bisa lama-lama berpisah dengan calon istrinya itu, baru sebentar saja rasanya sudah rindu setengah mati.


"Arya,... ada apa, malam-malam begini mampir?" tanya Dina dengan polosnya


"Aku sedang sakit..." jawab singkat Arya yang masuk dan duduk di sofa ruang tamu


"Hah, sakit...sakit apa?" tanya cemas Dina kemudian duduk di sebelah Arya


"Sakit rindu, rindunya setengah mati..." jawab pelan Arya menarik pinggang Dina dan mendekatkan tubuhnya


Dina tersentak kaget namun segera mengerti dengan kebiasaan calon suaminya itu, ia bisa mengerti jika hasrat Arya memang mudah sekali meluap, secara dia memang pria dewasa yang sudah sangat matang bukan abg seperti dirinya.


Usia Arya dan dirinya memang selisih cukup jauh, hampir dua puluh tahun. Arya memang selama ini tak terlalu memikirkan untuk berumah tangga, ia terlalu fokus dengan karirnya. Entah mengapa saat bertemu dengan gadis yang usianya saja belum genap 20 tahun ini membuatnya bersemangat untuk membina sebuah rumah tangga.


"Arya...sabar lah." lirih Dina saat kedua nya melepas tautan bibir dengan nafas terengah-engah


"Aku sudah tidak tahan, baby..." bisik Arya di telinga Dina hingga membuatnya meremang


Dan lagi kedua tangan Arya telah menjelajah dengan nakal ke setiap inchi tubuh Dina. Sementara bibirnya kembali menyambar bibir Dina yang mulai bengkak karena dirinya terlalu bersemangat.


"Arya, hentikan...tahan dulu, jangan sampai khilaf...kamu sudah berjanji padaku." ucap pelan Dina yang sekuat tenaga mengendalikan dirinya agar tak ikut terhanyut dalam sensasi kenikmatan yang dihasilkan oleh sentuhan Arya

__ADS_1


"Hah, maaf...aku benar-benar sudah hilang kendali." sahut Arya melepaskan bibirnya dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Dina


Arya bersandar pada sofa merasakan kepalanya yang terasa berat menahan hasrat nya yang memuncak, apalagi adiknya sudah sangat ingin beraksi. Ia menghela nafas panjang dan mencoba mengatur nafas dan detak jantungnya yang menggebu.


"Arya, kamu baik-baik saja?" tanya Dina tak terlalu paham dengan apa yang sedang dirasakan oleh Arya


"Kamu belum mengerti apa yang sedang aku rasakan sekarang, tetapi aku maklum...Jangan khawatir, aku ke kamar mandi dulu..." ucap pelan Arya yang kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar mandi


Dina merasa sangat heran karena Arya di kamar mandi cukup lama, ia kemudian menyusulnya dan mengetuk pintu kamar mandi karena merasa sangat khawatir.


"Arya, apa kamu baik-baik saja,...kenapa lama sekali di kamar mandi?" tanya Dina dari depan pintu kamar mandi


Arya tak menjawab namun sebentar kemudian ia telah keluar dan tersenyum melihat ekspresi wajah Dina yang tampak khawatir. Ia kemudian mengusap kepala Dina dengan lembut, sambil terus tersenyum membuat Dina menatapnya heran.


"Dasar anak kecil,...." ucap pelan Arya melangkah kembali ke sofa di ruang tamu


Arya duduk kembali, dan berapa lama kemudian Dina ikut duduk di sebelahnya sambil membawakan secangkir teh hangat untuknya. Dina masih menatap wajah Arya dengan penuh penasaran, ia masih belum mengerti apa yang terjadi pada Arya dan ia menyebutnya anak kecil.


"Sudah jangan dipikirkan lagi, nanti aku jelaskan padamu jika sudah waktunya...." ucap Arya yang tersenyum sambil mencubit pipi Dina


"Apa aku terlalu bodoh ya, ..." sahut Dina malu


"Bukan bodoh tapi belum berpengalaman dan masih polos, tapi aku suka....nantinya aku yang akan jadi guru mu, akan aku ajarkan semua yang ingin kamu tahu dan aku akan membuat mu sangat pandai." senyum Arya


"Kenapa tidak sekarang ..." tanya Dina semakin penasaran


"Hahaha...Dasar bocah, kalo sekarang kamu malah membuatku tersiksa nanti." sahut Arya mengusap kepala Dina

__ADS_1


"Tunggu nanti setelah kita menikah, bukan hanya teori tapi kita praktek sekaligus." ucap Arya tersenyum simpul


__ADS_2