Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Curahan hati


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu, Hendra belum pulang dan tanpa memberi kabar pada siapapun. Bahkan si boss kebingungan menghubunginya, ada beberapa tugas yang belum di beres kan. Ini tidak biasa terjadi, sebelumnya Hendra selalu menyelesaikan tugasnya dulu di atas apapun.


"Paman memanggil ku?" tanya Anita datang menemui si boss


"Duduklah Anita...katakan di mana Hendra?" tanya balik si boss


"Maaf paman, Anita juga tidak tau, sudah seminggu ini dia tidak pulang." jawab Anita


"Apa kalian sedang bertengkar ?" tanya si boss lagi


"Ahh...tidak Paman, kami baik-baik saja. " Anita coba menutupi


"Aneh, tidak biasanya dia begini. Kalaupun akan menghilang dia pasti beres kan dulu kerjaan dan selalu kasih kabar. Aku yakin pasti ada sesuatu." ucap si boss menatap Anita


"Paman...ini hanya masalah rumah tangga biasa, jangan khawatir semua pasti baik-baik saja. " Anita coba menenangkan paman nya


"Dengar Anita, aku tidak mau tahu apa masalahnya yang penting tidak merugikan bisnis ku. Cepat kau temukan dia, masih banyak tugas yang harus di beres kan. " ucap keras si boss


"Maaf boss, ...Hendra sudah ada di ruang kerjanya. " lapor salah satu anak buah


"Cepat suruh ke sini." perintah si boss


"Baik Boss."


Tak beberapa lama Hendra mengetuk pintu dan telah masuk ke dalam ruangan si boss. Hendra kaget melihat Anita yang duduk di sana, dia merasa tak nyaman saat mengetahui Anita berada di sana juga. Pasti apa yang akan dibahas ada hubungan nya dengan Anita.


"Duduklah,..." perintah si boss


"Berdiri saja boss, apa ada sesuatu yang penting? Banyak deadline yang harus dikejar." ucap Hendra berusaha mencari alasan agar segera keluar dari ruang tersebut


"Baiklah, selesaikan dulu kerjaan mu. Kita bicara lain waktu saja." ucap si boss kemudian


Hendra melangkah keluar ruangan dengan lega, alasannya bisa di terima si boss. Ia memang tak ingin membahas masalahnya dengan Anita, karena Hendra yakin itu yang akan di bicarakan oleh si boss tadi.

__ADS_1


Hendra kembali ke ruang kerjanya, ia mulai menyelesaikan pekerjaan nya yang telah ia tinggalkan seminggu ini. Tak ada seorang pun yang tahu jika ternyata seminggu ini dia kembali ke kota asalnya. Namun hanya Ibunya saja yang mengetahui kepulangannya, ia hanya ingin mencurahkan beban berat di hatinya hanya pada Ibu.


"Nak, ini semua mungkin sudah takdirmu, rencana Tuhan yang memang digariskan untukmu. Kamu tak bisa menyalahkan siapapun, mulailah ikhlas menerima kenyataan ini. Dan janganlah kau jadikan istrimu itu kambing hitam dari semua ini, harusnya kamu bersyukur karena dia bisa menerima mu apa adanya. Dicintai dengan tulus itu adalah anugrah, jangan sampai kau sia-sia kan." nasehat Ibu terus mengiang di telinga Hendra


"Boleh aku masuk?" suara Anita membuyarkan lamunan Hendra


Hendra memandang ke arah Anita namun tak menjawabnya, ia hanya terdiam kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya. Anita melangkah masuk dan duduk di kursi depan Hendra, meski tak menjawab namun Hendra juga tak mengusirnya.


"Hen, apa aku menganggu?, bisa aku bicara sebentar?" tanya Anita ragu


"Ini kantor, pulanglah bicara nanti saja di rumah." jawab Hendra cepat tanpa melihat ke arah Anita


"Baiklah, aku akan menunggu mu. Cepatlah pulang..." ucap Anita pelan sambil berdiri dan melangkah meninggalkan tempat tersebut


###


Malam itu Hendra pulang tidak terlalu larut, Anita yang sudah menunggu sejak tadi tersenyum bahagia menyambutnya. Ia sengaja memasak malam ini, dan berharap Hendra suka dengan makanan yang disiapkannya.


Selain mencurahkan isi hati nya pada Ibu, saat itu dia juga sempat mengikuti keseharian Renata, walau hanya dari kejauhan. Ia tidak punya nyali untuk menemuinya langsung, meski saat itu hatinya sangat ingin.


Hendra merasa sedikit lega, kerinduan yang selama ini ia rasakan sedikit terobati saat melihat wajah Renata yang semakin cantik dan dewasa. Ternyata Renata telah memiliki keluarga yang bahagia, ia melihat Renata sedang mengantar kedua anaknya ke sekolah.


"Hen, boleh aku masuk." ucapan Anita mengagetkan Hendra yang sedang melamun


Hendra menoleh ke arah Anita, namun hanya terdiam tak menjawabnya. Anita masuk dan duduk di sebelah Hendra, ia sudah tahu betul walau tak menjawab berarti dia diijinkan masuk karena kalo tidak pasti Hendra sudah membentaknya untuk keluar.


" Hen, makanlah dulu...Aku sudah memasak untukmu." ucap Anita melihat wajah dingin Hendra


"Nanti saja, aku belum lapar." jawab singkat Hendra tanpa menoleh ke arah Anita


" Kalo boleh aku tahu, sebenarnya seminggu ini kamu kemana. Aku sangat khawatir padamu, kamu tidak memberi kabar sedikitpun." tanya Anita dengan suara lembut


"Ada urusan keluar kota." jawab Hendra cepat

__ADS_1


"Hen, maafkanlah aku jika memang aku salah, aku mungkin sudah membuat mu marah dan kecewa. Namun asal kamu tahu, aku sangat mencintaimu dan sedikitpun aku tak bermaksud untuk membuat mu kecewa. Aku benar-benar menyesalinya." ucap Anita pelan dengan air mata yang telah mengalir


"Lupakanlah, anggap saja tidak terjadi apapun." jawab Hendra tetap memalingkan wajahnya


Anita merasa lega dengan jawaban Hendra, ia mengira akan di maki habis olehnya. Ia merasakan sikap Hendra mulai berubah, entah apa yang terjadi seminggu ini, namun jujur ia sangat bahagia. Meski tetap cuek dan dingin namun setidaknya dia tidak kasar lagi padanya.


"Apa itu berarti kau telah memaafkan aku? " ucap Anita memastikan


"Hen,..." Anita memberanikan diri meraih tangan Hendra


Hendra terkejut dan spontan menoleh ke arah Anita, terlihat olehnya mata yang sembab dan basah. Mata itu menatapnya lembut, penuh harapan.


"Jawablah Hendra..." lanjut Anita


"Iya, dan aku juga minta maaf." ucap Hendra tiba-tiba


Anita kaget mendengar ucapan Hendra barusan, ia tak menyangka kata maaf keluar dari mulutnya. Seorang Hendra tak pernah meminta maaf kepada siapapun, tapi kini ia mendengarnya, ia bahkan mengira kalo telinganya yang salah dengar. Ia tersenyum bahagia dan spontan memeluk tubuh Hendra.


"Lepaskan, jangan berlebihan..." ucap Hendra sedikit keras namun tak melepas paksa pelukan Anita


"Maaf..." Anita melepaskan pelukannya


"Terima kasih, aku tak akan membuat mu kecewa lagi, aku akan menerima dengan ikhlas semua perlakuan mu padaku." ucap Anita pelan sambil mengusap air matanya


"Aku mencintaimu Hendra, aku akan selalu menunggu mu. Walaupun mungkin untuk selamanya kamu tidak akan bisa membalas cintaku, aku rela dan aku tetap menghargai apapun perasaan mu padaku." ucap Anita yang menatap lembut wajah suaminya itu


Hendra hanya terdiam, hatinya sedikit bergetar mendengar ucapan Anita, namun ia berusaha menutupinya. Renata masih betah tinggal di dalam hatinya, hingga belum ada celah untuk yang lain.


"Aku lapar..." ucap Hendra tiba-tiba berdiri


"Ah..iya maaf." sahut Anita yang ikut berdiri


Hendra berjalan menuju ruang makan, sedangkan Anita mengikutinya dari belakang. Anita tersenyum senang, akhirnya Hendra mau juga makan bersama dan merasakan makanan buatannya. Memang sejak menikah Hendra tak pernah mau makan bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2