Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
GPS Tracking


__ADS_3

Ardian berdiri dari kursinya, dan segera beranjak keluar, ia tak ingin Hendra menjadi perhatian koleganya lebih lama lagi. Dengan penuh tatapan heran dari para koleganya ia pun pamit untuk meninggalkan ruang meeting.


"Hendra, kenapa kamu ada disini?" tanya Ardian saat sudah diluar ruang meeting dan menatap wajah Hendra yang penuh amarah


"Jangan banyak tanya, ikut denganku..." ucap keras Hendra dan bergegas keluar kantor diikuti Ardian di belakangnya


Hendra sampai di parkiran dan segera masuk ke mobil, diikuti Ardian yang duduk di sebelahnya. Hendra masih terdiam, belum mengucapkan sepatah katapun, namun tetap saja membuat hati Ardian merasa sangat gusar.


"Mau kemana kita?" tanya Ardian saat Hendra menyalakan mesin mobil dan mulai memacunya dengan cukup kencang, namun tak ada jawaban


Mobil melaju menuju sebuah tempat yang telah disiapkan oleh Hendra. Hanya dalam 10 menit mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar dengan dikelilingi tembok yang cukup tinggi. Di depan dua orang pria tegap telah membuka pintu gerbang, Hendra menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk.


"Turun, breng sek...." maki kasar Hendra menarik Ardian keluar dengan kasar dari dalam mobil dan menggelandang nya masuk ke rumah tersebut


Belum sempat berucap sepatah katapun, Hendra langsung menghajar habis Ardian saat tiba di ruang tengah. Ardian tak sanggup melawannya, Hendra benar-benar seperti orang kesurupan. Dengan penuh amarah yang tertahan, ia terus memukul sambil memaki Ardian.


"Kau pantas untuk dilenyapkan?" ujar Hendra tampak mencengkeram leher Ardian yang sudah tampak kacau, penuh luka lebam dan darah yang mengalir


"Apa kau sudah gila?" tanya Ardian pelan yang nafasnya terasa sesak


"Bukan aku yang gila, tapi kamu breng sek....tampang mu sok baik, tapi ternyata kelakuan mu sungguh bejat, tak ber perasaan. " sahut Hendra yang sekali lagi menghantam wajah Ardian dengan bogemnya


"Tak perlu aku jelaskan lagi, kamu tentu sudah tahu dengan apa yang telah kau lakukan pada Renata." ucap Hendra mendorong tubuh Ardian yang sudah lemas hingga tersungkur membentur tembok


Hendra sengaja melepas cengkeraman tangannya, ia bersusah payah mengendalikan amarahnya. Mudah saja baginya untuk melenyapkan nyawa Ardian, namun ia tak ingin melakukannya. Ardian tak kuasa lagi untuk berdiri, ia terduduk di lantai bersandarkan tembok, nyaris saja pingsan saat Hendra meninggalkannya sendirian.


###


Sementara keadaan kantor Ardian tampak heboh, semua karyawan tampak panik melihat kejadian barusan. Bahkan seketika meeting dibatalkan dan para kolega pun di minta untuk pulang. Salah seorang karyawan Ardian berinisiatif untuk menghubungi Renata dan menceritakan kejadian tersebut.


"Halo, dengan ibu Renata?" tanya karyawan tersebut setelah Renata mengangkat panggilannya

__ADS_1


"Iya benar, maaf ini siapa ya?" tanya balik Renata karena mendapat panggilan dari nomer tak dikenal


"Saya karyawan di kantor pak Ardian, bu." jawab karyawan tersebut


"Oh iya, ada yang bisa di bantu. " sahut Renata tenang


Karyawan tersebut mulai menceritakan seluruh kejadiannya, sejak Hendra datang sampai membawa Ardian pergi dengan mobilnya. Renata terperanjat mendengar cerita karyawan tersebut, ia langsung bisa menerka bahwa Hendra lah orang yang dimaksud.


"Apa namanya Hendra?" tanya Renata kemudian


"Benar bu, pak Ardian sempat mengucapkan nama itu." jawab karyawan tersebut yakin


"Apa kamu tahu, ia dibawa kemana?" tanya lagi Renata


" Maaf Bu, saya tidak tahu...orang itu langsung memacu mobilnya cukup kencang, tanpa mengucapkan apapun." jawabnya


"Baiklah, terima kasih atas informasinya. " ucap Renata menutup ponselnya


"Anita, kenapa tak memberitahuku jika Hendra datang ke sini?" tanya Renata membuka percakapan saat panggilan ponselnya pada Anita tersambung


"Maaf Rena, Hendra sebenarnya ikut mendengarkan percakapan kita berdua kemarin, dan langsung bergegas ke sana." jawab Anita merasa bersalah


" Apa kau tahu kemana dia membawa mas Ardian, aku harus menghentikannya dan tak ingin dia nekat." ucap Renata dengan suara bergetar


"Entahlah Rena, aku tidak tahu....ehh tunggu, aku cek gps tracking di ponselnya aktif atau tidak." sahut Anita kemudian


"Baiklah Anita, cepat kabari aku...Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi ." ucap Renata kemudian memutus panggilannya


Tak selang beberapa lama, sebuah pesan dari Anita masuk ke ponselnya. Anita mengirimkan lokasi Hendra berdasarkan gps di ponselnya. Tak buang waktu lagi Renata segera bergegas setelah dirasa tahu lokasi yang dimaksud.


Setelah berkendara sekitar 30 menit, Renata sudah tiba di sebuah rumah yang diduga tempat Hendra membawa Ardian. Renata menghentikan mobilnya di depan gerbang dan bertanya pada penjaga di sana, namun dua penjaga tersebut sangat tak kooperatif.

__ADS_1


"Katakan pada Hendra, kalo Renata ingin bertemu, ia pasti tahu...." ucap Renata meyakinkan penjaga


"Silahkan tunggu dulu, ..." ucap satu penjaga, sedangkan satunya tampak menghubungi seseorang


"Baiklah nyonya,...Silahkan masuk, tuan sudah menunggu." kata penjaga yang selesai bicara di ponselnya, dan tuturnya pun berubah sangat sopan


"Rena..." lirih Hendra membuka pintu untuk Renata, ia tampak tak terkejut karena rupanya Anita telah memberitahu tentang kedatangan Renata


"Di mana mas Ardian, ...Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Renata saat itu juga


"Duduklah dulu Ren, ...tenang saja aku masih waras, jadi tak akan membunuhnya." ucap Hendra tampak tenang


"Nggak usah, aku ingin melihatnya..." sahut Renata berusaha menerobos masuk


"Rena, buat apa kamu melihat bedebah itu, yang pasti ia akan menyesal telah melakukan semua ini padamu." Hendra menarik tangan Renata, hingga mereka kini saling berhadapan


"Hen, biar aku sendiri yang menyelesaikan semua masalah ini, tolong jangan ikut campur." pelan Renata menatap wajah Hendra


"Aku tak dapat mengendalikan hatiku yang ikut terluka saat mendengar cerita mu kemarin, aku tak akan pernah rela bahkan pada suamimu sendiri, jika ia menyakiti hatimu dan membuat mu terluka." balas pelan Hendra juga menatap wajah Renata


"Hen, tolong hargai keputusan ku...terima kasih telah peduli padaku, namun biarlah semua ini aku sendiri yang selesaikan tanpa kekerasan. " ucap Renata mencoba tenang


"Sekarang, biarkan aku melihatnya." lanjut Renata


"Ikuti aku." sahut singkat Hendra tak kuasa menolak keinginan Renata


Hendra mengajak Renata menuju sebuah kamar, kemudian membuka pintunya. Renata sangat terkejut melihat apa yang ada di depan matanya, Ardian terduduk di atas ranjang dengan kedua tangannya terikat ke sisi kanan dan kiri, kepalanya tertunduk lemas.


Tubuh Ardian penuh dengan luka memar dan darah yang mengalir di beberapa bagian tubuhnya. Renata hendak berjalan mendekat, namun tangan Hendra menahannya. Renata menatap tajam wajah Hendra, seakan minta untuk melepas tangannya, Hendra pun akhirnya melepasnya.


"Tak usah mendekatinya." bisik Hendra namun tak di pedulikan oleh Renata

__ADS_1


"Rena....akhirnya kamu datang." lirih suara Ardian hampir tak terdengar, saat ia mengangkat lemah kepalanya melihat kedatangan Renata


__ADS_2