
Hendra kini merasa sangat letih, ia membaringkan tubuhnya dengan kepala berada di pangkuan Renata. Ia menolak ketika Renata hendak mengobati luka di tangannya, dengan lembut Renata terus mengusap kepala Hendra.
"Tidurlah Hen, biarkan hatimu tenang dulu, nanti kita bicarakan lagi dengan pikiran yang lebih jernih." ucap lembut Renata
"Tidak, aku sama sekali tak bisa memejamkan mata. " lirih Hendra
Setelah melihat Hendra mulai tenang, membuat hati Renata lega. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan agar Hendra bisa melupakan amarah dan rasa kecewanya.
"Hen, apa kau sudah memiliki seorang anak?" tanya Renata hati-hati
"Junior...ya aku memiliki seorang anak laki-laki. " jawab Hendra kemudian
"Berapa usianya, ia pasti sangat tampan dan lucu." ucap Renata mencoba menenangkan
"Satu tahun lebih, ia baru saja bisa berjalan, meski belum lancar ia selalu berjalan menghampiri ku saat melihat aku pulang." jawab Hendra
"Kau pasti sangat mencintainya bukan, apa kau tega meninggalkan malaikat kecil mu itu?" Renata mulai membuka hati Hendra
"Iya, aku selalu merindukannya, sebentar saja pergi aku sudah kangen untuk mencium pipinya yang tembem itu, pipi bakpao nya itu. " ucap Hendra mulai sedikit tersenyum
"Hen, tetaplah di samping Junior mu, teruslah hidup untuk mendampinginya hingga dewasa." pinta Renata
"Tapi hatiku selalu mengarah padamu, entah mengapa aku nggak bisa sedikitpun membuka hatiku untuk mommy nya Junior." jawab Hendra menatap wajah Renata
"Bukankah dia sangat mencintaimu dan dengan ikhlas menerima mu selama ini, siapa namanya?" tanya Renata lembut
"Anita, ia memang mencintai ku dan itu membuatku selalu merasa bersalah." jawab Hendra datar
"Belajarlah menerimanya, meskipun tidak mencintai setidaknya hargai dia." bujuk Renata hati-hati
Hendra bangkit dan kini duduk di depan Renata, menatap wajah Renata dengan lembut. Ia kemudian meraih tangannya dan menggenggam erat.
"Aku sudah mencobanya tapi tetap saja tidak bisa." jawab Hendra datar tanpa ekspresi
"Hen, aku yakin kamu bisa...ikhlaskan semua yang terjadi pada hubungan kita, simpanlah sebagai kenangan indah yang akan selalu berada di hati kita untuk selamanya." jawab Renata menatap mata Hendra
"Apakah kamu akan tetap mencintai ku atau akan melupakan aku, Ren?" tanya Hendra dengan suara bergetar
"Percayalah Hen, sampai kapanpun perasaan ku padamu tak pernah berubah, kamu selalu ada di hatiku." jawab Renata mencoba tersenyum
"Baiklah meski berat akan kucoba, namun sebelum kita terpisah lagi bolehkah aku minta satu hal padamu?" tanya Hendra
"Apa, katakanlah Hen?" Renata merasa Hendra mulai tenang
"Berjanjilah Rena...saat aku sampai di ujung takdir ku, kamu akan menjadi orang terakhir yang aku lihat." pinta Hendra yang menatap makin dekat
"Iya aku berjanji padamu, dan jika aku yang sampai di ujung takdir lebih dulu maka kamu juga harus menjadi orang terakhir yang aku lihat di dunia ini." balas Renata lembut
__ADS_1
Mendengar ucapan Renata membuat hati Hendra tenang, ia mulai tersenyum dan tanpa sadar bibir mereka telah menyatu dengan mata yang tetap saling menatap, saling merasakan hembusan nafas masing-masing.
Semakin lama bibir itu lebih dari sekedar menyatu, seakan terhanyut pada kenangan masa indah dulu mereka mulai saling mengecap, dan melu mat dengan lembut. Nafas mereka saling memburu seiring dengan lidah yang saling membelit, tak ada setiap sudut pun yang terlewat di rongga mulut keduanya.
Hendra semakin menekan tengkuk Renata untuk memperdalam ciu mannya, sedangkan Renata mencengkeram punggung Hendra merasakan sensasi kenikmatan yang telah sangat lama tidak ia rasakan.
"Cukup, Hen." des ah Renata saat Hendra melepaskan bibirnya untuk mengambil nafas
"Tapi aku sangat merindukannya." jawab Hendra dengan cepat melu mat lagi
###
Ting...
"Nia, kenapa ponsel Renata nggak bisa di hubungi?" pesan Ardian di ponsel Nia
"Mungkin low batt mas." jawab singkat Nia
ting...
"Apa acaranya belum selesai, ini sudah sore lho." tulis Ardian lagi
"Iya mas, ini tinggal beres-beres aja kok." balas Nia
ting...
"Iya mas, secepatnya. " singkat Nia
Setelah menerima pesan dari Ardian, Nia menghubungi Deni agar membawa Renata kembali. Ia tak ingin Ardian curiga atau bahkan menyusul ke tempat acara.
"Ada apa Den?" tanya Ibu Hendra yang melihat Deni gusar
"Ini Bu, suami Renata sudah nanyain...suruh cepat antar pulang jangan sampe kemalaman, bisa -bisa di susulin suaminya." jelas Deni
"Ya sudah, cepat kamu kasih tau Renata, sepertinya Hendra sudah tenang." suruh Ibu Hendra
Deni pun beranjak menuju kamar Hendra, karena pintu tidak terkunci dan sedikit terbuka, Deni pun langsung masuk. Alangkah terkejutnya Deni saat melihat adegan live di depannya, ia buru-buru mundur lagi tapi Renata terlanjur mengetahui kedatangannya.
"Ada apa Den?" tanya Renata melepaskan pelukan dan ciu man Hendra
"Ishh...ganggu aja." gumam Hendra pelan
"Nia udah nanyain kamu, takut kemalaman." jawab Deni nyengir
Renata mengerti dengan maksud Deni, mas Ardian pasti sudah menghubungi Nia, karena ia memang sengaja mematikan ponselnya. Renata hendak bangkit namun tangan Hendra menahannya.
Deni yang melihatnya kemudian mundur keluar dari kamar tersebut, dan menunggu Renata di depan.
__ADS_1
"Rena, aku masih ingin bersamamu." ucap Hendra pelan
"Jangan mulai lagi ya, kita sudah janji kan. Kamu pasti bisa,... aku selamanya akan tetap ada di sini." jawab Renata sambil menyentuh dada Hendra
"I Love You, Rena..." Hendra mengecup kening Renata
"I Love you too, ..." balas Renata tersenyum kecil
Renata berjalan keluar kamar diikuti Hendra disampingnya, ia terus menggandeng tangan Renata seakan tak rela melepasnya.
"Bu, Rena pamit ya." pamit Renata pada Ibunya Hendra
"Terima kasih Rena, sudah menenangkan Hendra." ucap Ibu
"Sama-sama Bu,...Hendra begini kan juga karena Rena." jawab Renata sambil melirik Hendra
"Iyalah sudah tenang, udah dapat obat penenang nya sih." sahut Deni nyengir dan melihat ke arah Hendra
"Ishh...apaan, mau ini?" ucap Hendra melotot ke arah Deni sambil mengepalkan tangannya
"Hen, besok pulangnya ajak Deni ya , biar bisa gantian nyetirnya. " ucap Renata menatap wajah Hendra
"Nggak usah, aku masih kuat nyetir sendiri." jawab Hendra cepat
"Hen, aku mohon...perjalanan kamu cukup jauh, setidaknya ada yang menemani mu." pinta Renata
"Iya-iya, besok aku ajak Deni." jawab Hendra melirik Deni
"Oke deh sekalian jalan-jalan...pengen tahu juga kehidupan seorang bodyguard." sahut Deni senang
"Nggak ada,...Aku turunin di stasiun, langsung pulang naik kereta." jawab Hendra ketus
"Hen, jangan begitulah...memangnya masih mau main rahasia meski sama Deni, biar dia menginap dulu di sana." ucap Renata merajuk
"Iya sayang...apapun buat kamu." jawab Hendra mengecup kening Renata
"Idihh ...istri orang itu." sahut Deni keki
"Dieemm...." Hendra melotot serem
"Aku pulang dulu, hati-hati di perjalanan besok. Maaf aku nggak bisa nganter..." ucap Renata tersenyum
"Rena, bagaimana kalo aku kangen..." jawab Hendra merajuk
"Ingat janji mu, atau tidak sama sekali." Renata menatap tajam
"Iya..." sahut lirih Hendra
__ADS_1