Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Menerima


__ADS_3

Hari ini , sejak pagi Renata sudah mulai uring-uringan, jujur ia masih galau apalagi sejak pertemuannya dengan Andi kemarin. Renata mencoba mendengarkan kata hatinya, tapi apa yang mau di dengar hatinya saja juga masih bimbang.


Seharian ini di kantor Renata benar-benar tidak fokus. Daripada pekerjaan di kantor berantakan Renata memutuskan untuk ijin pulang setengah hari.


Syukurlah ijinnya di ACC oleh Pak Anto atasannya, jadi hari ini siang ia sudah bisa pulang. Siang ini cuaca sungguh panas, Renata yang pulang naik sepeda motor tak dapat menahan gerahnya. Ia berhenti di warung es buah langganannya, sekedar mendinginkan tubuhnya yang kepanasan.


"Hendra." desahnya pelan sambil meletakkan sendok es, saat ia melihat sosok yang duduk agak jauh di depannya.


Renata hendak bangkit dari duduknya untuk menghampirinya, namun tanpa disangka Ardian telah berdiri di sampingnya.


"Rena, kamu mampir ke sini rupanya." kata Ardian selanjutnya


"Mas Ardian,...kok bisa di sini?" ucap Renata terkejut


"Ya bisalah, jangan kaget begitu dong. Aku tadi ke kantor tapi katanya kamu pulang setengah hari, jadi aku bermaksud untuk ke rumahmu tapi saat didepan situ aku lihat motor kamu, makanya aku ke sini." jelas Ardian panjang, namun Renata hanya terdiam


"Rena,...kok malah bengong." ucap Ardian sambil meraih tangan Renata


"Ehh.. iya, gak apa-apa mas." ucapnya terbata


Renata merasa deg-degan, matanya masih memandang ke arah Hendra di depan sana. Bagaimana kalo Hendra melihatnya bersama Ardian, dan bagaimana kalo keduanya saling bertemu.


"Rena, kamu kenapa....kamu sedang lihat apa sih?" tanya Ardian sambil menoleh ke arah dimana mata Renata memandang


"Ahh...gak kok mas, kita pulang aja yuk aku udah selesai kok makannya." ajak Renata terburu-buru


"Aku kan belum pesen, masak udah mau pulang." jawab Ardian


"Iya mas, aku harus segera pulang tadi pagi Ibu sudah memintaku untuk membantunya masak buat nanti malam." jelas Renata dengan gugup


"Ya sudah kalo gitu kamu pulang aja duluan, kamu bawa motor sendiri kan. aku mau pesen es dulu, gerah banget nih." ucap Ardian tenang sambil melepaskan tangannya dari tangan Renata


Renata akhirnya meninggalkan Ardian ditempat tersebut. Setelah kepergian Renata, Ardian memesan es untuk menghilangkan gerahnya.


Tanpa Renata sadari sebenarnya Hendra telah melihatnya bersama Ardian. Walau dari jarak yang lumayan jauh tapi Hendra bisa melihat kedekatan Renata dengan Ardian. Setelah Renata pergi Hendra memberanikan diri untuk menghampiri Ardian yang duduk sendiri.


"Maaf mas, boleh gabung?" tanya Hendra ragu


"Oh.. silahkan saja." jawab Ardian cepat sambil menatap sosok Hendra

__ADS_1


"Kenalkan saya Ardian." sapa Ardian sambil mengulurkan tangannya


"Hendra." jawab Hendra singkat sambil menjabat tangan Ardian


"Maaf nggak apa-apa kan saya panggil mas." ucap Hendra membuka pembicaraan


"Nggak apa-apa, lagian sepertinya kamu memang jauh lebih muda dari saya." jawab Ardian sambil tersenyum


"Maaf mas, tadi saya lihat ada Renata di sini." tanya Hendra


"Oh...iya, tapi dia buru-buru pulang mau bantu Ibunya masak. kamu kenal sama Renata?" jawab Ardian bersemangat


"Ehh..iya mas, kebetulan dulu satu SMA." ucap Hendra sedikit tersenyum


"Oh...teman SMA...berarti kamu tahu dong mantannya Renata.?" selidik Ardian


"Maksudnya bagaimana ya mas?" Hendra pura-pura bingung


"Renata pernah bilang kalo dia belum bisa move on dari masa lalunya, harusnya kamu tahu dong mantannya kan satu sekolah." jelas Ardian


"Maaf kalo boleh saya tahu, hubungan mas sama Renata ini.." tanya Hendra penasaran


Hendra langsung terdiam membeku, bagaikan petir di siang bolong jawaban Ardian membuat jantungnya serasa mau berhenti berdetak.


"Hendra, kok diem kenapa?" tanya Ardian yang melihat Hendra bengong


"Nggak apa-apa mas, kaget aja." Hendra berusaha tersenyum kecil


"Kaget kenapa, karena saya terlihat jauh lebih tua dari Renata, memang sih usia kami selisih hampir sepuluh tahun, tapi mungkin sudah jodohnya begitu." senyum Ardian


Hendra merasa sudah tak sanggup lagi menahan gejolak di dalam hatinya. Rasanya ia ingin menghajar habis pria di depannya ini, yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai calon suami Renata.


"Maaf mas, saya permisi dulu, saya masih ada kelas harus kembali ke kampus." pamit Hendra tampak tergesa-gesa.


"Iya...iya silahkan." senyum Ardian yang merasa heran dengan sikap Hendra.


###


Sambil membantu ibunya masak, Renata masih memikirkan kejadian siang tadi. Ia tersenyum kecil saat mengingat kembali wajah Hendra tadi siang walaupun dari kejauhan.

__ADS_1


"Hendra, apakah perasaan mu masih seperti dulu, datanglah dan temui aku, Hen." bisik Renata dalam hati


"Ren, kok malah ngelamun... udah sana mandi trus siap-siap." suruh Ibu saat melihat Renata melamun


"Iya, Bu nanti aja."


"Kok nanti ini udah hampir jam 7, sejam lagi . lagian semuanya udah beres." desak Ibu sambil sedikit mendorong tubuh Renata


Renata bergegas mandi dan masuk ke kamarnya untuk siap-siap. Saat duduk di depan cermin riasnya ia memandangi wajahnya sendiri. Ia benar-benar masih belum yakin harus menerima lamaran Ardian atau tidak.


"Kenapa, nak... apakah kamu belum punya keputusan untuk hidup mu?" tanya Ibu yang sudah ada disampingnya


"Bu, Rena tadi siang melihat Hendra. jujur hati Renata masih mengharapkannya, mungkin nggak kalo lamaran ini di tunda dulu. Rena masih butuh waktu." ucap pelan Renata sambil menahan air matanya menetes


"Rena, berulang kali ibu mengingatkan tentang hubungan mu dengan Hendra, harusnya kamu sudah bisa mengerti nak. Saat ini Ibu tak akan mengatakan apapun, inilah waktunya kamu menentukan masa depan." ucap Ibunya sambil meninggalkan Renata sendiri di kamar.


Renata masih termenung di dalam kamarnya, saat terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Hatinya berdebar kencang detak jantungnya semakin cepat, ingin rasanya ia berlari sejauh mungkin.


Selang beberapa saat terdengar suara orang saling berbincang dengan akrab. Namun Renata tak ingin beranjak dari tempatnya.


"Rena, ayo nak semua orang sudah menunggu." ajak Ibu yang masuk untuk menjemputnya


"Tapi Bu, Renata benar-benar belum siap."


"Rena, kamu sudah bukan remaja lagi, berfikiran dewasa lah, nak. ini saatnya bagimu untuk membuka lembaran baru dan menatap masa depan." ucap Ibu dengan sabar


Akhirnya Renata bangkit dari duduknya, berjalan menuju ruang depan diikuti Ibunya. Renata terus menundukkan kepalanya dan duduk di kursi disebelah orang tuanya.


"Ahh, cantiknya..." ucap Ibu Ardian yang baru pertama kali bertemu dengan Renata.


Renata terus menundukkan kepalanya selama perbincangan tersebut, sampai akhirnya sang ayah memegang pundaknya.


"Bagaimana Rena, apa kamu menerima lamaran nak Ardian?" tanya ayahnya


Renata tidak langsung menjawab, ia masih menunduk dan terdiam, ia masih mencoba menenangkan gejolak di dalam hatinya. Sampai akhirnya ia pun harus menentukan masa depannya.


"Rena, jawablah nak apa keputusan mu?" ucap Ayah dengan sabar


"Iya,...saya menerimanya." ucap Renata pelan sambil menatap ke arah Ardian

__ADS_1


__ADS_2