
Setelah Anita sedikit tenang, kini mereka berdua bergegas meninggalkan tempat tersebut. Mereka akan menjemput Junior di sekolahnya, dan kemudian mengantarkannya pulang ke rumah. Anita memang sengaja tak akan mengajak Junior saat dirinya dan Andi akan menemui Hendra.
Anita ingin memastikan dulu kondisi suaminya, ia tak ingin ada banyak pertanyaan dari Junior, biarlah si anak tahunya daddy nya sedang bekerja ke luar kota.
"Anita, boleh aku minta nomor Renata?" tanya Andi dalam perjalanan
"Untuk apa,...Aku mohon jangan kabari Renata dulu, aku ingin memastikan kondisi Hendra, aku tak ingin jika Renata datang itu berarti Hendra sedang berada di ujung takdirnya seperti perjanjian mereka, dan aku tak mau Hendra berada di saat itu sekarang...." kata Anita sambil berkaca-kaca
"Anita,... " sahut Andi hendak mengatakan sesuatu tapi ponselnya terlebih dulu berdering
"Halo Arya..." sapa Andi mengangkat panggilan di ponselnya setelah menepikan mobil
"Kamu ada dimana sekarang?" tanya Arya di seberang ponselnya
"Aku masih di perjalanan, sebentar lagi sampai....Apa kamu sudah disana?" tanya balik Andi
"Iya, saat ini aku berdiri di depan ruangan Hendra....Apa kau sudah yakin akan membawa Anita ke sini, kondisinya masih belum ada perkembangan yang baik." ucap Arya
"Iya, Arya....mungkin ini jalan yang terbaik, siapa tahu kehadiran Anita bisa memberi dampak baik. " kata Andi yang kemudian di lirik Anita yang duduk di sebelahnya
"Baiklah, semoga saja begitu....Aku tunggu di sini." ucap Arya lalu mengakhiri percakapannya
Andi dan Anita kemudian melanjutkan perjalanan, mereka menuju sebuah rumah sakit terbesar dan terbaik di ibukota ini. Jaraknya sudah tak terlalu jauh lagi, kira-kira 20 menit kemudian mereka telah sampai. Setelah memarkir mobilnya, mereka berdua bergegas berjalan menuju ruangan Hendra.
"Anita, kuatkan hatimu...Aku tak ingin kamu menjadi wanita yang lemah..." ucap Andi menggenggam tangan Anita
"Iya, aku janji akan berusaha sebaik mungkin untuk kuat..." sahut Anita yang sebenarnya merasa risih karena Andi berjalan sambil menggenggam erat tangannya
__ADS_1
"Arya,... dimana suamiku, bagaimana keadaannya?" tanya Anita saat bertemu dengan Arya
"Anita, aku turut bersedih akan semua ini dan aku juga minta maaf karena telah menyembunyikan kenyataan ini dari mu." kata Arya yang masih ragu
"Ayolah Arya, jangan basa-basi lagi...antarkan aku pada Hendra." sahut Anita tak sabar
"Sejujurnya aku masih ragu untuk mengantar mu melihatnya, aku harap kamu bisa kuat ..." ucap Arya kemudian
Arya melangkah menuju sebuah ruangan ICU diikuti oleh Anita dan Andi di belakang nya. Begitu tiba disebuah ruangan yang lumayan besar, Arya mengajak keduanya menuju sebuah kaca bening yang cukup besar yang memang diperuntukkan bagi keluarga yang ingin melihat pasien.
"Kenapa, kita tidak masuk saja..." tanya Anita sangat tak sabar untuk segera melihat suaminya
"Anita, ini ruang steril jadi sebaiknya kita lihat dari luar, sebenarnya bisa saja masuk tapi hanya satu orang, dan aku tak mau membiarkan mu masuk sendiri..." jelas Arya persis saat tiba didepan kaca tersebut
Anita segera berdiri di sebelah Arya dan menatap ke dalam ruangan tersebut, benar seperti dugaan Arya maupun Andi, Anita langsung lemas saat melihat Hendra yang terbaring dengan mata terpejam dan banyak selang yang terpasang di tubuhnya yang menghubungkan dengan alat-alat medis yang ada di sekitarnya.
"Daddy,....Aku ingin berada disampingnya, aku mohon Arya..." lirih Anita yang bersandar di bahu Andi dan menatap Arya
"Tidak Anita, kamu kelihatan sangat belum siap untuk semua ini,...." jawab Arya menenangkan Anita
Melihat Anita yang semakin lemas, akhirnya Andi membawa Anita duduk di bangku panjang yang ada di selasar rumah sakit tersebut. Arya segera menyusul dan memberikan air putih untuk Anita, setelah minum dan mengatur nafas Anita ingin beranjak lagi untuk melihat Hendra.
"Anita, duduklah dulu...tenangkan dirimu, baru setelah benar-benar kuat kamu bisa melihatnya lagi." ucap Andi dengan penuh perhatian
"Aku kuat Andi, biarkan aku melihatnya..." Anita segera bangkit dan berdiri di depan kaca melihat suaminya sambil terus terisak
"Andi, setelah ini jagalah Anita baik-baik....sejujurnya aku sangat pesimis dengan kondisi Hendra. Dia masih bertahan karena alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya, jika alat tersebut dilepas maka nyawa nya tak bisa tertolong lagi, dan kita harus bisa merelakan dirinya pergi." ucap Arya yang duduk disebelah Andi sambil menatap Anita yang sedang terisak pilu
__ADS_1
"Apa kau sudah memberi tahu si boss tentang kondisi Hendra?" tanya Andi pada Arya
"Sudah, dan si boss pun sama reaksinya seperti Anita, dia begitu shock hingga sempat drop lagi, tapi aku sudah memberinya penjelasan dan berusaha menenangkan hatinya agar bisa merelakan kepergian Hendra nanti." kata Arya yang tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya
"Aku tak percaya, pria dingin yang begitu tangguh itu kini sedang bertarung dengan maut..." sahut pelan Andi
"Aku pun juga merasa tak percaya, dan sekaligus merasa bersalah. Seandainya saja saat itu reflek ku lebih peka dan cepat pasti semua tak seperti ini." lirih Arya bersandar di dinding sambil meremas rambutnya
"Jangan menyalahkan dirimu,...ini semua sudah takdir." sahut Andi menenangkan
"Bagaimana dengan Renata, apa kau sudah menghubunginya....Hendra terus saja menyebut namanya. " tanya Arya kemudian
"Belum, saat aku ingin minta nomor dari Anita ia memohon untuk jangan dulu menghubunginya. Dia takut jika Renata datang itu berarti Hendra sedang berada di ujung takdirnya, artinya saat terakhirnya sudah tiba. Anita kelihatan sangat tidak siap kehilangan saat ini..." ucap Andi menjelaskan
"Aku akan mencari nomornya di ponsel Hendra, menurutku sebaiknya Renata dihubungi segera, mungkin memang Hendra sedang menunggunya untuk menepati janji mereka, dan bisa pergi dengan tenang..." ucap Arya dengan mata berkaca-kaca tak sanggup lagi menahan rasa sedihnya
"Baiklah, segera kirimkan padaku..." sahut Andi dengan ekspresi yang hampir sama
"Aku tinggal dulu, jaga Anita dan kuatkan hatinya...." pesan Arya yang kemudian bangkit dan melangkah pergi
"Iya, percayakan padaku...aku akan berusaha menguatkan hatinya. " sahut Andi pelan
Setelah Arya pergi, Andi bangkit dan berdiri disebelah Anita yang terus menatap suaminya sambil terisak pilu. Ia mengusap lembut punggung Anita, berusaha menenangkan hatinya.
"Duduklah Anita,... " lirih Andi pada Anita
"Aku tak ingin melepaskan pandangan ku darinya, jika bisa aku ingin menggantikannya berada di sana, biarkan aku saja yang terbaring di sana....Aku ingin pria dingin ku tetap baik-baik saja. " lirih suara Anita yang terdengar begitu pilu
__ADS_1
"Anita, kamu harus kuat dan tegar demi Junior...." sahut Andi memeluk pundak Anita