
Hari ini setelah sarapan Hendra langsung bergegas berangkat ke tempat dimana Andi bekerja dengan si boss selama ini. Sebelumnya ia sempatkan sejenak menemani Junior yang sedang makan di suapi oleh Anita.
"Makan yang banyak boy, cepat besar ya...." ucap Hendra pada anak lelakinya
"Iya daddy, aku sudah setinggi daddy sekarang..." sahut Junior tersenyum sambil berdiri bertolak pinggang
"Iya benar, nanti daddy pasti kalah tinggi dari kamu." kata Hendra menciumi wajah anaknya
"Daddy, aku ini cowok...jangan ciumi aku begitu lagi." protes Junior pada Hendra dengan ekspresi tak senang
"Oh...oke , jadi hanya mommy yang boleh mencium mu." ucap Hendra sambil melirik Anita yang tersenyum geli
"Iyalah, mommy kan cewek jadi boleh terus menciumi aku." sahut Junior lagi
"Sudah-sudah, nanti daddy kesiangan berangkatnya." kata Anita menengahi perdebatan dua cowok jagoannya
"Oke, daddy berangkat...jaga mommy baik-baik. " ucap Hendra kemudian mengecup kening Anita dan berjalan keluar
"Siap boss ..." sahut Junior
Hendra pun memacu mobilnya ke tempat yang dituju, tak lupa ia membawa berkas yang di peroleh dari si boss kemarin. Selama perjalanan, pikirannya merasa tak tenang, ia belum tahu harus bicara apa saat nanti bertemu lagi dengan Andi. Di tempat itu nanti, Hendra akan berpura-pura menjadi anak buah yang sedang dipindah tugas kesana.
Sebelumnya Hendra memang sudah berkoordinasi dengan pimpinan disana, mereka sudah bersepakat untuk menyembunyikan posisi asli Hendra. Jadi semua personil disana tahunya dia hanya orang biasa sama seperti yang lainnya. Kebetulan kantor ini tak terlalu besar, hanya ada beberapa orang pegawai yang mengurusi ekspedisi.
"Perkenalkan ini Hendra, mulai hari ini dia dikirim dari kantor pusat untuk membantu kita disini." ucap pimpinan mengenalkan Hendra saat meeting pagi dan Andi juga tampak disana
"Hendra, apa kabar....tak menyangka bisa bertemu kamu disini." ucap Andi basa basi saat mendekati Hendra setelah meeting
Andi bersikap seolah kaget dan tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Hendra, padahal tanpa disadari oleh Hendra ternyata dia sudah sangat lama dan memang sengaja memantau kehidupannya.
"Andi....senang bertemu denganmu, semoga kita bisa bekerja sama." sahut Hendra tersenyum dan mengulurkan tangannya
"Oh ya, bisa kita makan siang bareng nanti?" tanya Hendra kemudian
"Tentu saja, Hen." sahut singkat Andi dan kemudian berjalan menuju ruangannya
__ADS_1
Hendra pun bergegas menuju ruangannya, ia duduk bersandar di kursi sambil menghela nafas panjang. Ia terus menatap ke arah ruangan Andi yang memang tampak dari tempatnya duduk, dan hanya dipisah dengan kaca bening.
"Andi,...Aku merasa kamu sangat misterius, entah mengapa aku yakin ada sesuatu dengan kamu." ucap pelan Hendra pada dirinya sendiri masih menatap ruangan Andi
###
Setelah sempat makan siang bersama, namun hanya berbincang biasa, tak banyak yang bisa diketahui oleh Hendra. Sosok Andi masih terkesan misterius di mata Hendra, apalagi Andi yang sekarang memang mirip dengannya, sangat dingin dan sedikit bicara, tak seperti dia yang dulu sangat mudah bergaul.
Hari demi hari berlalu begitu saja, saat Arya telah kembali ke ibukota bersama istrinya, Hendra pun sempat membahas masalah Andi dan minta saran padanya. Tentu saja Hendra meminta Arya untuk merahasiakan semua ini dari siapa pun.
"Jadi dia tak banyak bicara padamu..." tanya Arya saat berbincang di rumah Hendra
"Iya, dia dulu dan sekarang sangat berbeda..." jawab Hendra
"Apa sebenarnya dia sudah tahu siapa kamu." tanya lagi Arya mulai ikut berfikir
"Entahlah, tapi menurut si boss dia belum tahu apapun tentang aku. Jadi aku harus pakai cara apa untuk bisa membuatnya bicara?" tanya balik Hendra yang merasa bingung
"Baru kali ini aku merasa tak tahu harus berbuat apa, sempat aku mencoba basa basi dengan membicarakan tentang masa lalu kami, tapi ekspresinya datar saja tak begitu antusias." lanjut Hendra
"Ayo, silahkan minum dulu..." kata Anita yang datang membawa dua cangkir teh hangat untuk keduanya
"Kelihatannya serius banget,..." lanjut Anita yang kemudian duduk di sebelah Hendra
"Iya, Anita...dua pria dingin bertemu dan tak tahu harus bicara apa." sahut Arya menyeruput teh hangatnya
"Maaf nyonya, bunganya di taruh mana?" tanya bibi yang datang sambil membawa buket bunga di tangannya
"Bunga dari siapa, bi?" tanya Hendra tampak kaget
"Entahlah tuan, seperti tahun-tahun sebelumnya...tiap hari ulang tahun nyonya, pasti ada kiriman bunga." jawab bibi terus terang
"Dad, kenapa kamu bertanya begitu...Aku kira selama ini bunga ini dari kamu. Aku hanya diam karena tahu bagaimana sifat mu." ucap Anita menatap wajah suaminya
"Tidak,...dan maaf jika selama ini tak pernah memperhatikan mu di hari ulang tahun mu." kata Hendra menggenggam erat tangan Anita
__ADS_1
"Tunggu...jadi siapa yang mengirim bunga ini." sahut Arya dengan wajah penuh penasaran
"Bi, coba bawa sini....mungkin ada petunjuk disitu." Arya meminta buket itu dari tangan bibi
Arya dan Hendra mengamati seksama buket bunga itu, Arya mengambil kertas ucapan dan membacanya. Disana hanya tertulis ucapan selamat ulang tahun, tanpa ada nama pengirimnya.
"Bi, siapa yang mengantar bunga ini tadi...apa kurir?" tanya Hendra melihat ke arah bibi
"Tidak tuan, bukan seperti kurir...seorang pria dengan penampilan yang sangat rapi dan lumayan ganteng, dan sepertinya setiap tahun pria itu juga yang selalu mengirim meski dengan penampilan yang berbeda." jelas bibi sambil mengingat
"Bibi kok nggak pernah cerita tentang pria itu padaku?" tanya Anita setelah mendengar penjelasan bibi
"Anita, apa kamu punya pengagum rahasia?" tanya Hendra menatap istrinya
"Dad, apa maksudmu....aku hanya mencintaimu dan aku selalu setia padamu." jawab Anita yang merasa dicurigai
"Aku percaya mom, makanya aku menyebutnya pengagum rahasia..." terang Hendra melegakan hati Anita
"Ingat-ingatlah kembali Anita, mungkin ada pria yang pernah jatuh cinta padamu..." ucap Arya dengan serius pada Anita
"Sepertinya tidak ada yang istimewa, dan lagi aku tak banyak kenal dengan pria." jawab Anita setelah mencoba mengingat masa lalunya
"Tunggu,...mana berkas mu kemarin Hen?" tanya Arya tiba-tiba pada Hendra
Hendra kemudian menyuruh Anita mengambil berkas di meja kerjanya, lalu menyerahkannya pada Arya. Arya tampak membuka berkas tersebut dan mengambil foto-foto yang ada dalam berkas tersebut dan mengamatinya.
"Bibi, kemarilah ..." ucap Arya menyuruh bibi mendekat padanya
"Apa maksudmu Arya, kenapa dengan foto itu..." tanya Hendra tak mengerti
"Entah kenapa tiba-tiba terbesit di benak ku jika dia ada hubungannya dengan semua ini, ..." jawab Arya kemudian menunjukkan foto itu kepada bibi
"Apa pengantar bunga itu, mirip dengan pria ini?" tanya Arya pada bibi yang melihat foto itu dengan seksama untuk beberapa saat
"Benar tuan, pria ini..." ucap bibi merasa yakin
__ADS_1