
Renata hanya terdiam terpaku, ia masih membuka matanya dan mencoba menenangkan hatinya yang berdesir karena kelakuan Hendra. Sedangkan Hendra yang belum mendapat respon positif, masih berusaha keras untuk meruntuhkan dinding pertahanan Renata.
Nafas Hendra yang terdengar memburu serta ses apan dari bibir hangatnya yang terus dilancarkan tak mau menyerah, membuat hati Renata luluh juga. Pelan namun pasti ia mulai merespon dengan lembut, matanya kini terpejam merasakan kehangatan dan gelora dalam hatinya.
"Aku merindukan mu, Rena." bisik Hendra saat melepaskan sejenak bibirnya dan tersenyum hangat sebelum melu mat lagi bibir lembut itu
Kini lum atan yang pada awalnya lembut jadi kian menuntut, saat lidah sudah berhasil menerobos masuk maka permainan pun semakin panas. Mereka berdua telah terhanyut dalam sensasi kenikmatan yang sudah mulai membara, hingga tak menyadari ada suara mesin mobil berhenti di depan rumah.
"Renata..." pekik Ardian yang terperanjat melihat istrinya sedang beradegan live tepat di depan matanya
Ardian membeku mendapati kenyataan di depannya, tubuhnya serasa lemas tak bertenaga. Ia benar-benar syok dibuatnya, hingga tasnya terjatuh dari pegangan dan tubuhnya ambruk ke belakang bersandar pada pintu.
"Mas Ardian..." lirih Renata refleks melepaskan bibirnya dan mendorong tubuh Hendra, saat mendengar suara dari sosok yang tak asing baginya
"Mas,..." Renata hendak maju mendekati suaminya
"Stop, diam disana...jangan mendekat." ucap Ardian keras
"Mas, aku bisa jelaskan semuanya." ucap Renata mencoba tenang
"Mas, maaf ini salahku..." Hendra kemudian berpaling menghadap Ardian
"Dasar breng sek ...." Ardian tak dapat menahan emosinya dan melancarkan bogem mentah ke arah Hendra
Hendra hanya terdiam dan pasrah menerima pukulan telak dan tertubi-tubi dari Ardian. Tak sedikit pun ia berusaha untuk membalasnya, ia menyadari bahwa perbuatannya sudah membuat Ardian naik pitam.
"Mas, hentikan...Aku mohon." ucap Renata saat melihat betapa murkanya Ardian, hingga darah terlihat menetes dari sudut bibir juga hidung Hendra yang dihajar habis oleh suaminya itu
"Pergi dari sini, breng sek ...sebelum aku tak bisa mengendalikan diri dan membunuhmu." usir Ardian kasar sambil mendorong tubuh Hendra hingga terjerembab di lantai
__ADS_1
Hendra bangkit menatap Renata, ia yang merasa sangat bersalah tak sanggup melihat air mata Renata yang telah menetes membasahi kedua pipinya. Namun hal itu malah semakin membuat Ardian hilang kesabaran.
"Aku bilang pergi, si alan...." teriak kasar Ardian mendorong lagi tubuh Hendra keluar dan membanting pintu
Setelah Hendra pergi, Ardian menatap sekilas Renata dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Dengan bersandar ia meremas rambut di kepalanya, amarahnya telah sampai ke ubun-ubun. Namun bagaimanapun juga ia tak bisa kasar pada Renata, ia hanya menghela nafas panjang mencoba menenangkan diri.
"Mas, maafkanlah aku, aku memang bersalah..." ucap Renata yang bersimpuh di depan Ardian
"Pergilah Rena,...pulanglah ke rumah Ibu, aku ingin sendiri." ucap Ardian bergetar menahan amarahnya
"Mas, aku mohon jangan mengusir ku, kita bicarakan lagi dengan kepala dingin, aku nggak mau berpisah dengan mu dan anak-anak. " ucap Renata memohon pada suaminya
"Harusnya kamu berfikir dulu, aku tak menyangka kau tega melakukan ini padaku. Pergilah sebelum hilang kesabaran ku." ucap Ardian menatap tajam dan sedikit mendorong tubuh Renata menjauh darinya
Renata merasa hancur berkeping-keping, namun ia juga sadar telah membuat kesalahan yang sangat besar. Ia telah melanggar janjinya sendiri dan mengkhianati kepercayaan Ardian.
"Anak-anak biar aku yang urus, jangan kau temui mereka." ucap Ardian saat menatap kepergian Renata
Renata menoleh ke belakang saat mendengar ucapan Ardian, hatinya terasa pedih karena Ardian menjauhkan nya dari anak-anak. Ingin rasanya ia berteriak sekerasnya untuk melegakan hatinya, namun membuka mulutnya saja ia tak mampu.
###
Renata tiba dirumah Ibu dengan taxi, ia memang sengaja tak membawa kendaraan sendiri. Sejenak Renata termangu di depan pintu, ia merasa ragu dan tak ingin membuat Ibunya khawatir. Tak ingin kondisi Ibu yang sering sakit-sakitan jadi drop memikirkan masalah rumah tangganya bersama Ardian.
"Renata, ...kenapa hanya berdiri di depan pintu, ayo masuklah." ucap Ibu kaget saat melihat Renata berdiri mematung
"Iya Bu,..." sahut singkat Renata melangkah masuk, kemudian duduk di ruang tengah dan terlihat sangat lemah
"Bu, bolehkah Rena menginap disini?" tanya Renata pelan kepada Ibu
__ADS_1
"Tentu saja boleh, nak...Namun ada apa sebenarnya, ceritakan pada Ibu." ucap lembut Ibu sambil mengelus lembut kepala Renata
"Bu, Rena capek ingin istirahat dulu." lirih Renata menatap Ibu dengan wajah sayu
"Baiklah, istirahatlah dulu...ceritanya nanti saja." ucap lembut Ibu
Sejak awal datang dan berpamitan ingin istirahat, sampai hari telah malam namun Renata tak kunjung keluar dari kamar. Ia mengunci diri di kamar, hingga Ibu yang sebenarnya penasaran akan apa yang terjadi tak berani untuk mengganggunya.
"Selamat malam, Bu..." sapa Ardian langsung menjabat dan mencium tangan Ibu setelah membuka pintu
"Ardian,...kebetulan kamu datang. Duduklah dan ceritakan pada Ibu apa yang terjadi, sejak siang tadi hingga kini Renata mengunci diri di dalam kamar, Ibu sangat khawatir. " kata Ibu yang mulai khawatir
"Bu, Ardian kesini mau mengantar pakaian Renata, untuk sementara ini biarlah ia tinggal disini." ucap Ardian hati-hati
"Sebenarnya ada apa, apa kamu mengusir Renata dari rumah, apa salahnya?" tanya Ibu yang kaget mendengar ucapan Ardian
Dengan berat hati Ardian mulai bercerita, ia berusaha untuk berbicara hati-hati agar Ibu tidak semakin khawatir hingga membuat kesehatan nya menurun. Ibu yang mendengarnya sungguh tak menyangka, Renata telah tega menyakiti hati suaminya seperti itu, dan lagi-lagi karena Hendra.
"Kenapa dia lagi yang membuat Renata menjadi begini, tak bisakah dia membiarkan Renata hidup tenang." ucap Ibu yang merasa sangat marah pada Hendra
"Sejak dulu Ibu memang tidak terlalu respect pada dia, Ibu seperti sudah punya firasat yang tidak baik tentang dia, namun sayangnya Renata telah begitu dalam mencintainya. Ibu tak terima, Ibu akan mendatangi dan menegurnya." lanjut Ibu yang nampak semakin emosi
"Tidak Bu,...biarlah kami yang menyelesaikan, Ibu tidak usah terlalu khawatir, jangan sampai kesehatan Ibu menurun." ucap Ardian menenangkan Ibu
"Tapi nak,...Ibu tidak bisa hanya diam saja, kali ini dia sudah sangat keterlaluan." balas Ibu bersikukuh
"Percayalah pada Ardian Bu, biarkan Renata untuk sementara disini dulu, Ardian akan menyelesaikan masalah ini." ucap Ardian meyakinkan Ibu
"Nak, Ibu harap kamu bisa memaafkan Renata, Ibu ingin keluarga kalian tetap utuh, berjanjilah untuk berusaha mempertahankan hubungan rumah tangga kalian." pinta Ibu pada menantunya itu
__ADS_1