
Anita telah bertemu dengan Renata, ia membawa serta Junior. Untuk beberapa hari Anita dan Junior akan menginap di rumah Renata, mereka semua tampak bahagia. Apalagi anak-anak Renata sangat senang dengan kehadiran Junior, mereka selalu bermain bersama bercanda dan tertawa lepas.
Untuk sejenak Renata bisa melupakan kehancuran hatinya, melihat keceriaan anak-anak telah mengembalikan senyum di wajahnya. Anita juga senang melihat Renata tersenyum kembali meski sesaat, saat malam tiba dan tinggal mereka berdua maka Renata kembali menumpahkan segala penat di hatinya.
"Kuatkan dirimu Ren, kamu harus tetap tegar demi anakmu, aku yakin kamu bisa karena kamu wanita yang tangguh." ucap Anita memberi semangat
"Terima kasih Anita atas dukungan dan perhatian mu, senang rasanya ada seseorang yang bisa untuk berbagi." balas Renata mencoba tersenyum
"Rena, aku dengar katanya Ardian bersikeras bahwa semua ini hanya salah paham, dan saat ini Ia sedang berusaha membuktikannya. " kata Anita kemudian
"Dia bilang begitu, namun sampai semua jelas aku tak mau bertemu dengannya dulu." sahut Renata
"Rena, bagaimana dengan hatimu...Apa hatimu percaya jika Ardian sanggup melakukan semua ini, secara selama ini telah terbukti bahwa ia sangat mencintaimu." tanya Anita tenang
"Anita, apa kau sedang membelanya?" tanya balik Renata
"Bukan begitu Rena, apa tidak sebaiknya kamu ingat bagaimana Ardian selama ini, ketulusan nya, kesabaran nya, dan pengertian nya pada mu meski apapun yang terjadi. Selalu menerima semua keadaan mu dengan ikhlas dan setulus hati, dan kini saat dia yang berada posisi salah kamu meninggalkan nya begitu saja tanpa sedikitpun kesempatan." jelas Anita hati-hati mencoba memberi pengertian pada Renata
Renata terdiam, ia termenung setelah mendengar ucapan Anita. Tak dapat dipungkiri memang selama ini Ardian selalu bisa menerima semua kesalahan Renata apapun itu. Dan saat kini terjadi sebaliknya, apa dia terlalu kejam dan egois telah meninggalkan nya tanpa sedikitpun kesempatan.
"Rena, bukannya aku ingin membela Ardian, namun sebaiknya biarkan dia membuktikan semua ucapannya. Apa semudah ini hatimu jadi membencinya?" Anita memegang lengan Renata menenangkan
"Aku tidak membencinya, hanya kecewa...tak menyangka suami terbaik ku yang sangat aku percaya bisa seperti ini." lirih Renata berkaca-kaca
"Dia juga manusia biasa, disaat sedang kecewa atau marah bisa lemah juga, tinggal masih bisa kontrol atau tidak. Jangan terlalu kejam padanya, biarkan semua menjadi jelas, jika memang nantinya ia terbukti bersalah terserah pada mu jika ingin meninggalkannya." ucap Anita pelan sambil menatap lembut wajah Renata
"Iya, kamu benar Anita...mungkin aku terlalu kejam padanya, apalagi jika kau tahu keadaannya kemarin saat Hendra menyekapnya. Apa aku begitu egois..." sahut Renata merasa bersalah
__ADS_1
"Sudahlah yang berlalu kemarin lupakanlah, sekarang jangan terlalu keras biarkan ia membuktikan ucapannya. Dan menurutku biarkan ia tetap bersama anak-anak, ini semua urusan kalian berdua jangan biarkan emosi anak-anak jadi terpengaruh tak baik untuk psikologi mereka. " jelas Anita lagi diikuti anggukan kepala Renata
" Kamu benar Anita, betapa bodoh dan egoisnya aku telah mengorbankan perasaan anak-anak dan melupakan dampak psikis pada mereka." ucap Renata menghela nafas panjang
Anita memang sudah bisa memberi pengertian pada Renata, kini Renata bisa menyadari ke egoisan nya. Ia pun akan berusaha memperbaiki keadaan, meski harus berkorban perasaan namun di depan anak-anak ia akan menunjukkan bahwa orang tua mereka baik-baik saja.
Saat Anita dan Junior harus kembali lagi ke ibukota, Renata pun mulai memperbaiki keadaan. Ia ingin rumah tangganya terlihat baik-baik saja, demi untuk anak-anak mereka, ia tak ingin anak-anak yang menjadi korban dari perselisihannya dengan Ardian.
"Renata." Ardian sangat kaget saat membuka pintu dan mendapati kenyataan bahwa istrinya itu datang menemuinya
"Boleh aku masuk?" tanya Renata kemudian
"Ahh tentu saja, masuklah...Silahkan duduk, mau aku ambilkan minum?" Ardian tampak canggung dan salah tingkah
"Tidak perlu mas, duduklah aku hanya ingin bicara." ucap Renata berusaha tenang
"Pulanglah ke rumah, mas." ucap Renata pelan
"Apa aku tidak salah dengar, kau sudah memaafkan aku Rena?" tanya Ardian tak menduga akan ucapan istrinya itu
"Aku memintamu pulang demi anak-anak, aku tak ingin kondisi psikis mereka terganggu karena permasalahan kita. Aku minta di depan mereka kita tampak baik-baik saja, namun harus kamu tahu sebelum semuanya jelas jangan pernah mendekati ku." jelas Renata dengan ekspresi wajah datar
"Rena, terima kasih telah sedikit membuka hatimu. Aku janji akan buktikan jika aku tak melakukan semua ini, ini hanya salah paham saja." ucap Ardian senang dengan perubahan sikap Renata
" Semoga saja begitu, aku pulang...kembalilah kapanpun kamu siap." kata Renata dingin sambil berdiri hendak berjalan keluar
" Rena..." Ardian tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Renata, kini mereka saling berdiri berhadapan
__ADS_1
Renata mau tak mau menatap wajah Ardian yang kini berada tepat di depannya, tampak olehnya bekas luka dan memar yang belum pulih benar. Hatinya berdesir, ia merasa begitu kejam telah membiarkan Hendra menyiksa Ardian sampai seperti itu. Namun ia tak ingin terlihat lemah di depan Ardian, buru-buru ia mengalihkan pandangan.
"Sekali lagi terima kasih Rena, aku akan pulang besok." ucap pelan Ardian melepaskan tangannya dari tangan Renata
"Terserah...permisi, aku pulang." ucap judes Renata dan berlalu cepat meninggalkan Ardian
Dan benar saja kebetulan hari ini adalah Minggu, saat Ardian tiba di rumahnya anak-anak langsung menghambur padanya. Mereka sangat senang menyambut kedatangan papanya, yang mereka tahu memang papanya sedang tugas keluar kota.
"Papa pulang....hore...Papa pulang." teriak anak-anak berbarengan langsung memeluk papanya
"Kakak, adek...." panggil Renata yang mendengar teriakan anaknya dan menyusulnya ke teras
"Ma...lihat Papa sudah pulang." ucap kakak saat melihat kehadiran Renata
"Biarkan papa masuk dulu, kenapa kalian menghentikan papa diluar." kata Renata masuk ke dalam rumah
Mendengar perkataan Renata, Ardian melepaskan pelukan anak-anak dan berjalan masuk ke rumah diikuti anak-anaknya. Mereka terus memegang tangan papanya, terlihat kedua anak itu sangat rindu padanya.
"Bi, tolong bawa koper dan tas mas Ardian ke dalam kamar." perintah Renata pada bibi saat mereka semua sudah berkumpul diruang tengah
"Papa, wajahnya kenapa begitu?" tanya adek saat memperhatikan wajah papanya yang masih terlihat memar dan bekas lukanya
"Papa kayak habis dipukuli orang, siapa yang berani memukul papa?" tanya kakak juga memperhatikan
Renata tak menyangka anak-anaknya akan bertanya seperti itu, ia menatap ke arah Ardian yang hanya terdiam tak menjawab pertanyaan anak-anaknya. Ardian pun juga menatap Renata seakan ingin menanyakan jawaban apa yang harus ia katakan.
"Kemarin papa menolong seorang ibu yang sedang dirampok, eh ternyata penjahatnya jago juga, jadi deh papa babak belur." jawab Ardian sekenanya
__ADS_1
"Wah, papa jagoan....penjahatnya ketangkap kan pa?" tanya kakak malah terlihat bangga