
Sesuai yang sudah direncanakan, minggu ini Renata, Nia, Deni dan Tia pergi ke tempat acara reuni akan digelar yaitu almamater mereka. Mereka semua begitu terharu kembali berdiri di tempat tersebut, 15 tahun berlalu namun tampak baru kemarin mereka menjalani masa remaja mereka di tempat itu.
Kenangan akan keseharian mereka di sekolah , tentang kenakalan, kelucuan, keisengan dan juga kisah cinta pertamanya seakan benar-benar hadir kembali. Merindukan saat-saat terindah yang mereka lalui di masa remaja tersebut.
"Kalian kangen nggak masa kenakalan remaja kita dulu ?" ucap Nia sambil menatap ke segala penjuru
"Yeii....kalo kenakalan itu pasti cuma Deni yang kangen." sahut Renata
"Ya pastilah, kangen banget aku sama gengku dulu dengan segala polah tingkahnya, hehehe..." Deni nyengir dengan bangganya
"Huhh...nakal Kok bangga." sewot Tia kemudian
"Heii....iri bilang boss." goda Deni pada Tia
Mereka saling bercanda, tertawa lepas seakan benar-benar kembali ke masa saat masih sekolah dulu, lupa akan umur yang sudah tambah banyak. Sejenak melupakan segala masalah dalam hidup mereka masing-masing.
Setelah dari almamater mereka kemudian mengecek penunjang lainnya seperti konsumsi, hiburan dan lain-lainnya. Setelah semua di yakini beres, mereka mampir makan siang dulu sebelum pulang.
"Den, apa udah dapat konfirmasi darinya?" tanya Renata setelah selesai makan
"Dari siapa?" tanya balik Deni
"Pake nanya lagi,...Ya Hendra lah, emang ada yang lain." sahut Tia melotot ke arah Deni
"Iya-iya lagi nge lag tadi,..." jawab Deni nyengir
"Dasar lo la , loading lama..." sewot Tia
"Belum Ren, apa mungkin dia nggak bisa dateng kali. Soalnya yang aku dengar dia sibuk banget, dan kerjaannya nggak bisa ditunda apa lagi di cancel. " jawab Deni
"Dulu aku pernah ketemu Ibunya, beliau bilang dia bekerja jadi pengawal pribadi seorang pria kaya, memang iya?" tanya Renata pada Deni
"Wah..bodyguard dong..., cocok juga sih lihat penampakan nya yang kayak begitu." sahut cepat Nia
"Penampakan?,...emang dia apaan ." tawa Tia mendengarnya
"Iya kurang lebih begitu, katanya bodyguard seorang mafia." jawab Deni dengan tampang serius
"Wuihh...ngeri juga ya, pasti tampangnya sekarang tambah serem." tambah Nia
__ADS_1
"Nia kamu ini apaan sih, tadi penampakan sekarang serem emangnya dia film horor. " protes Renata
"Duhh, cayangnya sewot nih..." goda Nia diikuti tawa dari mereka semua
Begitu seru mereka ngobrol nggak terasa waktu sudah hampir sore. Mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing, tak lupa Nia mengantar Renata dulu sebelum pulang ke rumahnya.
###
"Hendra, bagaimana pekerjaan yang ku berikan kemarin, apa sudah beres?" tanya si boss di ruangannya
"Sudah boss, sesuai perintah." jawab singkat Hendra yang duduk di depan Dokter boss
"Boss, minggu depan apa saya bisa cuti?" tanya Hendra kemudian
"Mau kemana, apa urusan penting?" tanya balik si boss
"Saya ingin pulang ke kota asal saya, boss. Ada kepentingan keluarga." jawab Hendra
"Sama anak dan istrimu?" tanya lagi si boss
"Nggak boss, saya sendiri. " jawab cepat Hendra
"Hendra,... kamu mendengarnya tidak?" ucapan si boss mengagetkan Hendra
"Iya boss, saya akan pulang sendiri dulu, sekalian memberitahu keluarga saya tentang Anita dan Junior. " jawab Hendra kemudian
"Jadi selama ini keluarga kamu belum tahu tentang pernikahan mu dengan Anita?" selidik si boss
"Sudah boss, kalo soal Anita mereka sudah tahu tapi tentang Junior belum." jawab Hendra
"Baiklah, kamu boleh cuti tapi cuma dua hari, mengerti?" ucap si boss tegas
"Terima kasih boss, saya permisi dulu." pamit Hendra setelahnya diikuti anggukan kepala si boss
Hendra keluar dari ruangan dan bergegas menuju mobilnya. Entah mengapa Hendra sedang enggan untuk cepat pulang, ia tak ingin mendengar pertanyaan-pertanyaan Anita yang membuatnya pusing. Ia pergi lagi ke tempat biasa untuk menyendiri, dan melepas penat dalam hatinya.
Setelah tiba, Hendra berjalan ke tepi danau yang ada di sana, ia duduk bersandarkan pohon besar nan rindang sambil menatap jauh ke depan. Menghela nafas panjang menghempaskan sesak di dadanya.
Hendra mengenang kembali semua kisah dalam hidupnya, angan dan pikirannya flash back ke masa saat masih sekolah. Saat untuk pertama kalinya ia bertemu dan jatuh cinta pada pemilik hatinya, saat pertama kali memandang wajah dan mata indahnya. Hingga akhirnya harus terpaksa membunuh sendiri perasaannya, pergi menjauh dan memendam segala rasa sakitnya seorang diri.
__ADS_1
Ting...
Suara ponsel mengagetkan lamunannya, dengan sangat malas ia meraihnya. Hati nya menjadi berdesir saat melihat pesan yang masuk ternyata dari Deni, perlahan ia buka dan mulai membacanya.
"Hendra, gimana jadi datang ke acara reuni minggu ini?" tulis Deni
Hendra terdiam sejenak, ia masih merasakan keraguan dalam hatinya. Ia sangat ingin datang bertemu kembali dengan teman-temannya, namun ia juga takut jika harus kembali bertemu dengan Renata. Ia takut tak bisa mengendalikan akal sehat dan perasaannya, secara hingga detik ini hatinya masih sangat berharap untuk memilikinya kembali.
Setelah bergulat dengan perasaan dan hatinya, ia memutuskan untuk langsung menghubungi Deni. Bicara langsung pada Deni, mungkin bisa sedikit mengurangi sesak di hatinya.
"Hallo, Den...Apa kabar?" sapanya saat sudah terhubung
"Hei....Hallo my bro...kabar ku always happy lah." balas Deni riang
"Syukurlah.. " singkat Hendra
"Huhh...cuma gitu doang. Hen, aku jadi bayangin seberapa dinginnya kamu sekarang." oleh Deni
"Bisa aja kamu." singkat Hendra lagi
"Terserahlah...oke gimana nih jadi dateng dong, nggak sabar aku pengin lihat penampakan kamu sekarang." ucap Deni
"Entahlah Den, aku belum yakin..." jawab Hendra
"Lhah...kok nggak yakin, apa nggak dapat cuti?" tanya Deni
"Cuti sih udah dapat, tapi hati aku yang nggak yakin." jawab Hendra pelan
"Kenapa,...karena Renata?" tanya penasaran Deni
"Entahlah, Den..." lirih Hendra hampir tak terdengar
"Kamu ini Hen, ternyata nggak berubah, orang sekeras kamu jadi begitu lemah bila sudah menyangkut tentang dia. Lawan lah batin mu itu, jalani apa yang memang seharusnya kamu jalani. Mengenang boleh Hen, tapi jangan biarkan ia menghancurkan hidupmu. Maaf kalo aku jadi ikut campur urusan hatimu, aku ingin melihat Hendra yang dulu sebelum ia terpuruk." jelas Deni panjang lebar
"Sejujurnya Den,...aku masih sangat mencintai nya dan mengharapkan nya." Hendra berusaha keras menahan air matanya
"Hen, bukankah kalian telah memiliki kehidupan masing-masing. Saran ku, dicintai dengan tulus oleh seseorang itu jauh lebih baik daripada mencintai. Cukup hati kita yang terluka, jangan sampai menyakiti hati yang lain." ucap Deni
"Terima kasih atas support mu Den, aku usahakan bisa bertemu dengan kalian nanti." jawab Hendra dengan suara bergetar
__ADS_1