
"Apa kau tak ingin mengulang kembali kisah kita, Hen?" tanya Renata menatap mata Hendra penuh ketulusan
"Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku ingin berada disaat pertama kali bertemu dengan mu, Rena...dan aku akan perbaiki semuanya hingga kita bisa bersatu selamanya." jawab Hendra lirih
"Hen, kamu kenapa...istirahatlah dulu, jangan terlalu memaksakan untuk banyak bicara." ucap Renata tampak panik karena tiba-tiba detak jantung Hendra melemah
"Rena,....dingin...." lirih Hendra nyaris tak terdengar dengan wajah sangat pucat
"Sabar Hen, aku akan panggilkan dokter..." sahut Renata bertambah panik karena tubuh Hendra sedikit menggigil
Renata bangkit dari duduknya dan memeluk erat tubuh Hendra, ia merasakan tubuhnya begitu dingin dan wajahnya semakin pucat, apalagi detak jantungnya juga melemah. Renata merasa sangat takut, hingga air matanya menetes saat memeluk erat tubuh Hendra.
"Hen, aku mohon bertahanlah....jangan tinggalkan aku secepat ini." ucap Renata pelan di telinga Hendra
"Rena,...aku ingin selalu berada di pelukan mu, jangan pernah lepaskan aku lagi." lirih Hendra dengan suara bergetar
"Ada apa, Renata?" tanya Arya yang memasuki ruang ICU bersama dokter senior yang selama ini menangani Hendra
"Entahlah dokter, tiba-tiba dia merasa tubuhnya menjadi dingin dan detak jantungnya juga melemah. Tolong dokter lakukan yang terbaik untuknya, aku tak ingin berpisah dengannya..." ucap Renata dengan suara pilu
"Tenanglah Renata, kami akan berusaha semaksimal mungkin....berdoalah agar dia bisa melewati masa kritisnya ini." kata Arya menenangkan hati Renata
Cukup lama kedua dokter itu melakukan penanganan pada Hendra, termasuk juga memberikan beberapa injeksi ke tubuh maupun infus Hendra. Renata tampak sangat cemas dan khawatir, apalagi kini Hendra terpejam lagi tak sadarkan diri.
"Ia kembali tak sadarkan diri, kondisinya juga menurun lagi..." ucap Arya kemudian
"Dokter, aku mohon lakukan sesuatu padanya....aku masih ingin bersamanya." kata Renata sambil membelai wajah Hendra dengan lembut
__ADS_1
"Kuatkan hatimu, apapun bisa saja terjadi....berdoalah agar keajaiban Tuhan terjadi padanya, kami sudah berusaha semampunya tapi semua terserah yang diatas. " ucap Arya mencoba menjelaskan
Renata menangis pilu mendengar penjelasan Arya, hatinya terasa sangat pedih dan hancur. Ia tak ingin jika saat ini adalah saat terakhir nya bersama Hendra, ia kemudian memeluk erat tubuh Hendra dan terus membisikkan kata-kata penuh cinta di telinga Hendra.
"Renata, istirahatlah ...dan makanlah dulu, ingat jaga kesehatan mu juga." kata Arya mengingatkan
"Tidak, aku akan tetap di sini sampai dia bangun kembali, sedetik pun aku tak akan meninggalkannya sendiri." sahut Renata menggenggam erat tangan Hendra
"Terserah padamu,... nanti jika dia terbangun tolong panggil kami." ucap Arya sebelum melangkah keluar dari ruangan tersebut
Arya dan rekan dokternya keluar dari ruangan, ia tak mau memaksa Renata. Mereka nampak sangat terharu melihat keadaan Renata, sangat terlihat betapa sangat besar cinta Renata pada pria dingin yang kini benar-benar tengah terbaring dingin tak berdaya itu.
"Andi, tolong jaga dan kuatkan Anita...kondisi Hendra drop lagi dan kemungkinan apapun bisa saja terjadi, katakan juga pada suami Renata agar tetap membiarkan ia di dalam sana. Jujur aku begitu sangat terharu dengan cinta mereka berdua yang begitu kuat, sayangnya mereka tidak bisa bersatu." ucap Arya pada Andi saat ke luar dari ruang ICU
"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menenangkan hati Anita, ....sejak dulu aku sudah tahu betapa besar cinta mereka, meski tak ditakdirkan bersama namun sedikitpun perasaan itu tak pernah memudar." kata Andi melihat ke arah dalam ruangan dan melihat Renata sedang memeluk erat lengan Hendra
"Andi, apa kata dokter Arya?" tanya Ardian menghampiri Andi sementara Anita terduduk lesu di kursi panjang
"Mas, sepertinya kondisi Hendra drop lagi. Saat ini biarkan Renata tetap menemaninya didalam sana." jawab Andi pelan tak ingin didengar oleh Anita
"Aku mengerti,...dan sepertinya kau juga harus tetap berada dekat di samping Anita untuk menenangkan nya jika terjadi hal yang tak diinginkan. " ucap Ardian
"Mas, seandainya saja Hendra masih bisa bertahan dan ingin agar Renata selalu di sampingnya, apa kau akan merelakannya?" tanya Andi ingin tahu perasaan Ardian
"Sangat berat Andi, aku begitu besar mencintai istriku...." sahut Ardian pelan dengan raut mukanya yang muram
"Aku mengerti perasaanmu, aku juga pernah merasakannya...hingga butuh waktu cukup lama untuk bisa move on darinya. " ucap Andi menepuk bahu Ardian
__ADS_1
"Apa kau juga masih mencintainya?" tanya Ardian penuh selidik
"Kamu tak perlu khawatir atau cemburu padaku, seperti aku bilang tadi bahwa aku sudah berhasil move on darinya, kini perasaan cintaku hanya untuk Anita, dan kali ini aku tak akan pernah melepaskan cintaku lagi." jawab Andi tersenyum kecil sambil melirik ke arah Anita
"Meski pun dia sama sekali tak punya perasaan padaku..." senyum Andi berubah muram
"Jangan menyerah Andi, cinta itu belum tumbuh...dengan usaha keras dan ketulusan hati mu aku yakin dia akan bisa mencintai mu. " kata Ardian memberi support pada Andi
"Iya, tentu saja dan aku yakin itu..." sahut Andi
"Temanilah dia, tunjukkan ketulusan mu padanya..." ucap Ardian menepuk bahu Andi diikuti anggukan kepala Andi yang melangkah mendekati Anita
Ardian kemudian melangkah menuju kaca bening diruangan itu, ia berdiri memandangi istrinya yang tengah memeluk lengan Hendra dan dengan sabar menemaninya. Hatinya sedikit berdesir, jujur ia merasa cemburu namun demi kemanusiaan ia mencoba mengabaikan perasaan itu.
"Sayang, ternyata selama ini cintamu padanya masih tetap begitu besar...betapa beruntungnya pria dingin itu memiliki cinta sejati mu." lirih Ardian saat melihat ke arah Renata
Tanpa di sangka saat Ardian menatap ke arah Renata, ternyata saat itu pula Renata juga sedang menoleh ke arahnya. Renata merasa sangat tak enak pada suaminya, ia terus menatap wajah suaminya dari samping Hendra yang masih terbaring tak sadarkan diri. Perasaannya lalu menjadi lega saat melihat Ardian tersenyum kecil dan mengangguk padanya, ia benar-benar sangat beruntung memiliki suami yang sangat pengertian padanya.
Renata kemudian memalingkan pandangannya kembali ke wajah Hendra, namun pria pemilik hatinya itu masih terpejam. Ia kemudian membelai lembut wajah dingin itu, dan begitu terperanjat saat merasakan lagi jari Hendra bereaksi.
"Hen, bangunlah sayang....aku masih di sini untukmu." lirih Renata terus membelai wajah Hendra
"Ren..." sangat lirih suara Hendra
"Iya, sayang..." sahut Renata lembut sambil tangannya menekan tombol untuk memanggil dokter seperti pesan Arya tadi
"Aku harus pergi...." suara Hendra terdengar sangat lirih
__ADS_1
"Tidak, kamu tidak boleh pergi kemana pun....kita akan tetap disini dan selalu bersama." Renata mengeratkan genggaman tangannya dan menatap lembut wajah Hendra