
Hendra mulai membuka lipatan kertas tersebut dan membacanya.
'Hendra, aku sangat mencintaimu
Suamiku tercinta , maafkanlah aku...
jika sampai saat ini selalu membuat mu
tidak nyaman, terima kasih telah
memberiku seorang buah hati yang
manis. Aku membawa Junior pergi
bersamaku, mungkin kamu akan merasa
lebih baik tanpa aku. Sekali lagi maaf, dan
ijinkanlah Junior tetap bersamaku.
Selamanya kami akan selalu
mencintaimu.......Anita & Junior'
Hendra terpaku sambil melipat kertas itu kembali, tanpa terasa air matanya menetes. Hatinya merasa pedih dan sakit, mengetahui Anita meninggalkannya. Di saat ia ingin memperbaiki semuanya, kini malah Anita pergi bersama Junior.
Dua hari ini Hendra uring uringan dan mengurung diri di kamar, makanan yang telah disiapkan bibi pun tak ia sentuh. Hendra tak menyangka jika kepergian Anita telah membuatnya begini, ia mulai bertanya dalam hati bagaimanakah sesungguhnya perasaannya pada Anita.
"Ya, boss..." Hendra menjawab panggilan di ponselnya
"Hei, kamu kemana saja...dua hari nggak kasih kabar." ucap keras si boss
"Maaf boss, saya tidak enak badan." jawab Hendra pelan
"Hahh... sejak kapan kamu manja begini...ada tugas penting." tegas si boss
"Tapi boss, saya...." belum selesai ucapan Hendra
__ADS_1
"Ini perintah...tak ada penolakan." singkat si boss lantas menutup ponselnya
Hendra terpaksa bangkit dari ranjang nya, dan hendak melangkah ke kamar mandi. Namun terdengar suara lagi dari ponselnya, cepat-cepat ia melihatnya dan berharap pesan dari Anita. Ia nampak sangat kecewa ternyata bukan dari dia, kini ia baru merasakan dan menyadari arti dari kehadiran Anita.
"Anita, pulanglah...Aku menunggu mu. " tulis singkat Hendra mengirim pesan untuk Anita
Kemudian ia bergegas memenuhi panggilan si boss, ia tak ingin membuatnya murka. Dalam keadaan apapun dan bagaimanapun ia harus siap memerima tugas. Setelah menyelesaikan tugasnya nanti ia berniat akan mencari Anita dan Junior.
Hendra telah mendatangi semua tempat yang kira-kira di tuju oleh Anita, namun nihil tak ada sedikitpun petunjuk keberadaan Anita. Hendra mulai gusar, ia bingung harus mencari kemana lagi. Ponsel Anita tidak aktif, pesan pun tak ada yang di balas.
"Anita, kamu dimana?" gumam Hendra lirih bersandar di jok mobilnya
"Kembalilah,...Aku ingin memperbaiki semuanya." lanjutnya lirih
###
Seminggu telah berlalu, Hendra tampak semakin kacau batinnya dan juga fisiknya. Ia seperti tak peduli lagi dengan diri sendiri, yang ia lakukan hanya bekerja dan bekerja. Si boss tampak sangat khawatir dengan Hendra, ia semakin kejam dan sadis terhadap targetnya. Ia seperti tak peduli lagi jika masih hidup atau harus mati.
"Anita." sapa si boss tanpa sengaja bertemu dengan Anita dan Junior di sebuah tempat makan
"Paman, tidak menyangka bisa bertemu disini. Bagaimana kabar Paman, sehat kan?" sapa Anita kemudian
"Maksud Paman?...ada apa dengan Hendra?" tanya Anita
"Pulanglah Anita...Aku tahu kamu sudah seminggu lebih pergi meninggalkan rumah kan, kasihan Hendra. " ucap si boss pada keponakannya itu
"Paman, mungkin kepergian ku bisa membuat tenang hidup Hendra. Seperti yang paman tahu sampai kapanpun perasaannya tidak akan berubah, mungkin sendiri lebih baik untuknya." jelas Anita
"Tapi tidak seperti itu yang aku lihat, kehidupannya sekarang sangat kacau, ia tak peduli lagi dengan dirinya sendiri. Aksinya pun semakin kejam dan sadis, tak peduli lagi hidup atau mati. Dia seperti tak punya semangat hidup." cerita si boss
"Hendra bilang kamu tak pernah membalas pesannya apa lagi menjawab panggilan, ia selalu bilang sudah terlambat dan tidak ada lagi kesempatan untuknya. Aku merasa ia mulai membutuhkan mu, ia baru menyadari bahwa kehadiranmu dan Junior sangat berarti baginya. " lanjut si boss
"Tapi Paman, apa mungkin Hendra punya perasaan seperti itu, sedangkan sikapnya tetap saja dingin." sahut Anita berkaca-kaca
"Kamu masih mencintainya bukan?, dan kamu pasti mengerti sifatnya. Andaikan saja dia memang mulai menerima mu pasti tak akan pernah mau mengakuinya." kata si boss meyakinkan Anita
"Paman tahu kan, sejak dulu bahkan untuk selamanya aku akan selalu mencintainya lebih dari diriku sendiri." ucap Anita mulai menetes air matanya
__ADS_1
"Daddy...ingin Daddy..." celoteh Junior seperti paham yang sedang mereka bicarakan
"Iya sayang, nanti ketemu sama daddy ya..." ucap Anita menenangkan Junior
"Lihatlah Anita, bahkan Junior saja ingin kembali ke daddy nya apalagi kamu. Aku yakin kamu juga sangat merindukannya. Pulanglah Anita, bawa kembali Junior pada daddy nya dan perbaiki lah rumah tangga mu, aku yakin Hendra akan berubah, percayalah..." ucap si boss kemudian berlalu meninggalkan Anita yang hanya terdiam di tempat tanpa mampu berkata apapun
Anita memeluk erat Junior yang terus saja menanyakan daddy nya, ucapan paman nya terus terngiang. Ia kemudian memantapkan hatinya dan memutuskan untuk kembali ke rumah, dan membahas kelanjutan nasib rumah tangganya bersama Hendra.
Jika memang Hendra bisa menerimanya maka ia dengan senang hati akan kembali, namun jika tidak maka ia ingin meminta perpisahan. Ia ingin semuanya menjadi jelas, ia sudah tak sanggup lagi jika harus menerima sikap dingin dan tak peduli Hendra seperti selama ini.
"Nyonya..." sapa bibi saat membuka pintu dan melihat Anita dan Junior
"Hendra di rumah kan, bi?" tanya Anita kemudian
"Tuan ada di kamar nyonya, kalo tidak sedang kerja tuan selalu menutup diri di dalam kamar." jawab bibi menjelaskan
"Bi, tolong jaga Junior, aku ingin bicara dengannya." ucap Anita menyerahkan Junior yang sedang tertidur ke gendongan bibi
Anita berjalan menuju kamarnya, ternyata tak di kunci jadi ia membuka pintu dan melangkah perlahan. Ia berdiri sejenak memandang pria yang sangat dicintainya itu sedang tertidur, ia menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya, perlahan ia melangkah mendekati ranjang. Ia duduk di tepi ranjang, matanya yang sembab menatap lekat wajah Hendra. Dengan ragu dan sangat hati-hati ia mencoba membelai wajah yang nampak kusut dan sedikit pucat itu.
"Anita." lirih Hendra membuka matanya saat merasakan belaian tangan Anita
"Apa kabar, Hen?" ucap pelan Anita sambil tersenyum hangat
"Anita, benarkah ini kamu atau aku sedang bermimpi?" tanya lirih Hendra memegang tangan Anita yang tengah membelai wajahnya
"Iya Hen, aku sudah pulang..." sahut Anita lembut
"Anita, jangan pergi lagi...Aku takut kehilangan mu." ucap Hendra yang tiba-tiba bangun dan memeluk erat istrinya
Hendra memeluk erat tubuh Anita, untuk pertama kalinya Anita merasakan pelukan hangat dan penuh kasih dari Hendra. Anita membalas pelukan itu dengan sepenuh hati, melepaskan rasa rindu nya yang tertahan selama ini.
"Anita, jangan pernah meninggalkan aku lagi, maafkanlah aku jika selama ini selalu menyakiti hati mu." bisik lirih Hendra di telinga Anita tanpa melepaskan pelukannya
"Hen, apa aku tidak salah dengar..." ucap Anita melepas pelukan dan menatap tajam wajah Hendra
__ADS_1
"Maafkan aku yang dulu begitu kejam menyakiti mu, aku ingin memperbaikinya dan memulai lagi dari awal, berikanlah aku kesempatan untuk menjadi suami dan juga ayah yang baik." Hendra berkata sambil menatap lembut wajah Anita