Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Mulai berubah


__ADS_3

Semakin hari Anita merasakan perubahan pada sikap Hendra, tak lagi kasar ataupun galak padanya. Kini ia lebih lembut dan perhatian padanya dan juga kandungannya.


Hari-hari berlalu tanpa ada tangisan pilu dari Anita, suasana di dalam rumah tak lagi tegang. Apalagi kini Anita lebih sering melihat senyum di wajah Hendra, meski terlihat dipaksakan namun Anita sangat menghargai sedikit perubahan pada sikap Hendra.


"Selamat pagi, silahkan." Anita menyodorkan sepiring nasi goreng pada Hendra


"Terima kasih Anita, duduklah kita makan bersama." ucap Hendra datar


"Iya, baiklah. " Anita duduk di


depan Hendra


"Kamu mau kemana?" tanya Hendra melihat Anita sudah bersiap pagi ini


"Mau ke dokter kandungan, hari ini jadwal kontrol rutin." jawab Anita sambil menyuap makanannya


"Aku akan mengantar mu." ucap Hendra tetap datar


Anita kaget mendengar ucapan Hendra barusan, ia menatap wajah suaminya itu dan tersenyum kecil. Meski dengan wajah datar dan dingin, ternyata dia mencoba memberi perhatian padanya.


"Benarkah, terima kasih." ucap Anita riang sambil memegang tangan Hendra


"Teruskan makannya." kata Hendra cepat


Setelah selesai sarapan, kini mereka berdua menuju ke tempat praktek dokter kandungan Anita. Anita merasa sangat bahagia, ia terus memandang wajah Hendra sambil tersenyum. Meski yang di pandang sedikitpun tak meliriknya.


Akhirnya tiba di tujuan, setelah antri sekitar setengah jam, Hendra dan Anita masuk ke ruang periksa. Dokter menyambut mereka dengan senyum heran, karena tumben mereka datang berdua.


"Anita, senang melihat mu datang bersama suami." ucap Dokter ramah


"Iya Dokter, kebetulan suamiku hari ini tidak terlalu sibuk." jawab Anita sambil berbaring


Dokter mulai melakukan USG pada Anita, dan menyuruh Hendra mendekat. Kini dia berdiri di sebelah Anita yang terbaring, ia menatap layar led yang menampilkan kondisi junior di dalam sana.

__ADS_1


Hatinya merasakan perasaan yang aneh, ia sedikit tersenyum tapi sekaligus berusaha keras menahan air matanya. Hendra sangat terharu, seumur hidupnya baru kali ini ia merasakan rasa ini.


"Kondisi kehamilan Anita sangat baik, janinnya juga sudah kuat, jadi anda sudah bisa tenang tak perlu was-was lagi." ucap Dokter kepada Hendra saat sudah duduk di mejanya


"Maksud Dokter?" tanya Hendra bingung sambil duduk di depan Dokter dan Anita di sebelahnya


"Hah...anda ini, masak saya harus bicara blak-blakan." senyum dokter melirik Anita


"Maksud saya mulai sekarang anda tak perlu lagi khawatir saat sedang menengok junior, karena dia sudah kuat dan bisa sering di jenguk sekaligus persiapan untuk kelahiran normal, biar lebih gampang." senyum Dokter tanpa sungkan menjelaskan


Anita ikut tersenyum kecil sambil melirik Hendra, namun yang dilirik hanya terdiam tanpa ekspresi. Anita tahu apa yang sedang ada di benaknya, setelah kejadian itu mereka memang tak pernah lagi melakukannya.


"Dokter bisa saja,...Baiklah kami permisi dulu, terima kasih. " ucap Anita sambil berdiri dan melangkah keluar diikuti Hendra di belakangnya.


###


Malam itu Hendra pulang tidak terlalu larut, entah kenapa sekarang ia lebih sering pulang awal. Tak seperti dulu yang pulang lewat tengah malam bahkan menjelang subuh, hanya untuk tidur dan pergi lagi paginya.


Anita telah memasak dan kini mereka telah selesai makan malam. Anita sangat bahagia dengan sikap suaminya kini, mau makan di rumah dan menghargai masakannya.


Malam itu Hendra terlihat gelisah, tanpa ia sadari Anita memperhatikan nya dari dalam kamar. Anita sebagai seorang wanita dewasa tentu sangat tahu apa yang sedang dialami suaminya saat ini.


Dengan ragu Anita keluar dari kamarnya dan menghampiri Hendra, ia menguatkan hatinya, ia siap menerima apapun kenyataan yang di dapatnya nanti. Bahkan jika harus menerima amukan dan makian dari suaminya itu.


"Hen, kamu belum tidur?" tanya Anita sambil duduk di sebelah Hendra


"Belum ngantuk, pergilah tidur sudah malam." jawab Hendra tanpa menoleh ke arah Anita


"Hen, aku tahu apa yang sedang kamu rasakan." ucap Anita ragu- ragu


"Biarkan aku membantumu..." ucapan Anita terbata


"Apa maksudmu?" Hendra spontan menoleh ke arah Anita

__ADS_1


"Aku tahu kamu sedang menahannya, ijinkanlah aku membantumu, aku janji tak akan melewati batas. Anggap saja aku sedang berterima kasih kepada mu karena telah sedikit membuka hatimu dan bersikap lebih baik padaku." ucap Anita hati-hati sekali


Hendra menatap Anita, jantungnya berdebar mendengar ucapan Anita. Apa benar ia mulai berubah, apa benar kini ia bisa sedikit membuka hati pada istrinya itu. Rasanya tidak mungkin, karena hampir tiap malam ia masih mengingat Renata sang pemilik hatinya.


"Hen, ..." tatap Anita yang kini bersimpuh di depan Hendra bertumpu pada kedua lututnya


"Anita, kenapa kamu ingin membantuku , sedang kamu tahu aku tak mencintaimu?" Hendra balas menatap tajam wajah Anita yang kini tepat di depannya


"Aku tahu kamu tak mencintaiku, tapi tolong setidaknya terimalah bantuan ku. Aku tak sanggup melihat mu tersiksa begini." Anita perlahan memberanikan diri meletakkan tangannya di paha Hendra yang hanya memakai boxer


Hendra tak menampik tangan itu, dan malah memejamkan matanya saat tangan Anita perlahan mulai bergerak ke pangkalnya. Hatinya merasa tak karuan, ia sedang berperang batin antara menolak atau menerima sentuhan lembut itu.


"Ahhh..." suara keluar dari mulut Hendra saat sesuatu yang menegang itu di sentuh Anita


Hendra bergetar menerima sentuhan itu, matanya terpejam dan angannya terbang entah kemana. Ia sudah tak bisa berfikir jernih lagi kala sentuhan itu berubah menjadi pijatan dan rem asan lembut.


"Cukup, ikutlah denganku." Hendra mengangkat tubuh Anita membawanya masuk ke kamar dan membaringkan di ranjang besarnya


"Aku siap menjadi korban halu mu lagi, Hen." lirih Anita di telinga Hendra


"Benarkah..." bisik Hendra yang meremang tubuhnya


"Lakukanlah, seperti yang kau mau, aku rela dan jujur sudah lama aku menginginkannya lagi." Anita balas berbisik


Tanpa disadari tangan kedua nya yang sejak tadi bekerja, telah membuat mereka berdua polos. Suhu tubuh mereka semakin panas, Anita merasa melambung tak peduli Hendra menganggap dirinya atau pun Renata seperti dulu.


"Lakukan Hen,..." des ah Anita manja saat tak bisa menahan lagi sensasi yang dirasakan karena permainan tangan, mulut dan lidah suaminya


Suara Anita membuat Hendra semakin lupa diri, dan melanjutkan aksinya dengan lembut. Sepertinya ia sadar bahwa Anita sedang hamil dan tak ingin membahayakan nya. Hendra yang dingin dan kasar kini bermain dengan panas namun lembut, benar-benar telah berubah.


Malam itu Anita sangat bahagia mendapati perlakuan suaminya, permainan panas mereka yang entah sampai berapa kali berakhir kala keduanya terkapar tak berdaya kehabisan tenaga.


"Mulai saat ini, tidurlah bersama ku disini, di kamar kita." ucap Hendra sebelum terlelap

__ADS_1


"Iya, dengan senang hati." jawab Anita yang ikut terlelap dengan senyum di wajahnya


__ADS_2