
Di saat Hendra tengah di landa perang batin yang maha dahsyat, Renata menjalani hari-hari bahagia bersama keluarga kecilnya. Di usia pernikahannya kini Renata maupun Ardian tampak semakin dewasa dan mapan dalam hal hati maupun finansial.
Namun begitu tak ada rumah tangga yang sempurna, sedikit banyak kadang juga ada masalah yang menerpa. Begitupun juga dengan rumah tangga Renata, kadang juga ada kerikil kecil yang menjadi sandungan, tapi itu membuat mereka lebih harmonis lagi karena lebih banyak belajar dari pengalaman.
Weekend ini Renata dan Ardian berencana mengajak anak-anak piknik, namun mendadak Ardian membatalkan nya karena ada meeting klien yang minta diundur di weekend. Mereka tampak kecewa terutama anak-anak yang sudah lama pingin sekali piknik.
Untuk mengobati rasa kecewa mereka, Renata mengajak anaknya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Anak-anak tampak bahagia meski tak jadi piknik namun mereka bisa main sepuasnya.
Saat menunggui anaknya main tak sengaja matanya memandang ke arah sebuah tempat makan, ia melihat Ardian sedang berduaan dengan wanita yang tidak dia kenal sebelumnya. Renata mulai berpikiran negatif terhadap suaminya itu, namun dia tidak menghampirinya tetapi malah mengajak anak-anak pulang.
"Malam sayang..." ucap Ardian saat pulang sambil mencium kening istrinya
"Anak-anak sudah tidur ya, katanya tadi jalan-jalan, kemana?" tanya Ardian bertubi
Renata tak menjawab satu pun pertanyaan Ardian, ia hanya terdiam. Renata masih kesal tentang kejadian yang ia lihat tadi, raut mukanya tampak masam.
"Sayang, kamu kenapa ?" tanya Ardian kemudian
"Masih marah ya karena batal pikniknya?" tanya Ardian lagi, namun Renata tetap terdiam
"Katakan sayang, apa aku melakukan kesalahan?" tanya lagi Ardian sambil memeluk istrinya dari belakang
"Pikir aja sendiri, apa yang barusan kamu lakukan." Renata melepaskan pelukan Ardian dan duduk di sofa
"Memang apa yang aku lakukan, katakan Rena...jangan membuatku bingung." Ardian memegang tangan Renata setelah duduk di sampingnya
"Bukankah barusan kamu sedang berduaan dengan seorang wanita, siapa dia?" jawab Renata memalingkan wajahnya
"Kamu sedang cemburu ya, sayang..." senyum Ardian akhirnya
"Enggak..." ucap Renata ketus
"Sayang, aku tadi meeting dengan klien. Kami berempat bukan berdua seperti yang kamu lihat, aku bersama Rendy dan klien ku juga datang berdua." Ardian mencoba menjelaskan
__ADS_1
"Mungkin waktu kamu melihatku, Rendy sedang menerima telepon dan teman klien ku sedang ke toilet." lanjut Ardian
" Paling cuman alasan mu aja." sahut Renata yang masih cemberut
"Sayang, jika kamu nggak percaya kamu bisa tanya langsung ke Rendy, kamu juga kenalkan sama dia. Kalo kamu mau aku bisa telpon dia sekarang juga." jelas Ardian dengan sabar
"Nggak perlu..." ucap Renata
"Aku senang kamu cemburu, sayang." Ardian tersenyum dan menatap wajah istrinya
"Beneran, mas Ardian nggak bohong." sungut Renata
"Demi Allah sayang, aku jujur padamu. Aku sangat mencintaimu jadi aku nggak akan mengkhianati mu, tolong percayalah padaku." mata Ardian menatap lembut Renata
"Tersenyumlah, jangan marah lagi ya..." ucap Ardian kemudian
"Iya mas, maaf ya karena sudah mencurigai mu dan berpikiran negatif padamu. " ucap Renata
"Tentu sayang, tanpa kau minta aku akan selalu memaafkan mu. Aku senang kamu cemburu, itu artinya kamu sayang padaku, peduli padaku, dan tak mau kehilangan aku." ucap Ardian dengan senyum mesra
"Iyalah...bener kan. Tapi kamu tetap dihukum karena sudah menuduhku macam-macam. " balas goda Ardian
"Dihukum?....apa?" manja Renata
"Malam ini aku harus membuat mu KO, mau berapa ronde?" ucap genit Ardian sambil mengangkat alisnya
"Uhh....dasar genit." sahut Renata
Tanpa pikir panjang Ardian langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke kamar. Malam itu keduanya merasa semakin memiliki, meski sempat ada sedikit kesalahpahaman namun kian menambah keharmonisan hubungan suami istri diantara keduanya.
###
Hendra yang sudah sangat putus asa, tak bisa berfikir jernih lagi. Setelah mentok dengan negosiasi nya kemarin dengan Anita, rasanya sudah tak ada jalan lain. Dia memutuskan untuk mencoba melawan takdir, dengan melarikan diri dari pernikahan yang sudah di depan mata.
__ADS_1
Walau pun kecil kemungkinan untuk bisa lolos dari pantauan si boss, namun dia tetap berkeras untuk pergi. Setelah membereskan beberapa barang yang akan dibawa, dia lantas memasukkan sebuah koper ke bagasi mobilnya.
Semua sudah siap, namun sayang saat akan memasuki mobil, salah satu anak buah si boss melihat dan menghampirinya.
"Hen, mau kemana kamu...buru-buru amat." tanya si anak buah
"Ahh...nggak kemana-mana, cuma mau keluar sebentar." ucap Hendra mengelak
"Iya tahu keluar, tapi kemana kan ada tujuannya ." desak si anak buah
Hendra tahu si anak buah sudah curiga padanya, tanpa menjawab dia langsung tancap gas meninggalkan rumahnya. Dia memacu mobilnya cukup kencang, berharap tidak akan terkejar.
"Boss, Hendra baru saja pergi dari rumahnya, kelihatan sangat buru-buru sekali." lapor si anak buah lewat ponsel nya
"Bodoh...kenapa diam saja, cepat kejar dan segera temukan, setelah itu bawa kesini." murka suara si boss
Si anak buah bergerak cepat, ia segera menghubungi teman-temannya yang lain. Ia tahu siapa Hendra, pasti tak akan mudah untuk mengejarnya. Secara Hendra lebih senior darinya, pengalaman dan sepak terjangnya selama ini sering membuat dirinya dan temannya yang lain takjub.
Hendra yang dikenal sebagai Mr. Perfect, yang tak pernah gagal menjalankan tugas dari boss. Apapun tugas yang diberikan, seberapa sulit atau bahayanya tugas tersebut, pasti bisa di beres kan dengan sempurna. Dan kini mereka malah harus mengejarnya, meski dengan susah payah dan harus berhasil, tidak ada kata gagal dalam kamus si boss.
Si boss tak mau tahu bagaimana caranya, yang penting Hendra harus segera di temukan secepatnya.
"Halo...gimana, apa sudah ada jejak?" tanya si boss via ponsel
"Belum boss,...kami sedang berusaha melacak ponselnya atau GPS di mobilnya. " jawab si anak buah
"Terserah kalian saja, aku tak peduli apapun caranya...yang penting segera temukan dan bawa kesini. " ucap si boss kemudian
Butuh waktu cukup lama, saat para anak buah si boss sudah hampir menyerah salah satu informan mengetahui keberadaan Hendra. Mungkin karena kurang hati-hati atau tanpa sengaja meninggalkan jejak akhirnya posisi Hendra diketahui.
Hari sudah menjelang malam tanpa buang waktu lagi semua bergerak menuju lokasi, tak mudah memang melumpuhkan orang setangguh Hendra. Meski dengan perlawanan yang sengit namun akhirnya Hendra berhasil ditangkap dan dibawa ke hadapan si boss.
"Bawa dan sekap di kamar itu, jangan lupa ikat tangannya yang kuat, jangan sampai melarikan diri lagi." perintah si boss
__ADS_1
Setelah perintah dilaksanakan para anak buah keluar ruangan, kini hanya tinggal Hendra yang duduk di kursi dengan tangan terikat ke belakang dan juga si boss di ruangan tersebut.