
"Tidak Rena, aku tak sanggup...Aku tetap menginginkan mu." ucapan Hendra membuat Renata berdesir
"Tapi Hen,..." Renata kembali menatap mata Hendra yang basah
Belum selesai Renata mengucapkan kata, seketika Hendra mencengkeram kedua bahu Renata dan menatap matanya tajam. Tatapan matanya penuh dengan amarah dan kecewa, hingga Renata berdebar hebat merasakan sesuatu yang menyesak di dadanya.
"Sampai kapan pun aku tak rela melepas mu, aku sangat menginginkan mu." ucap serak Hendra kemudian bangkit dan berlalu begitu saja dengan membawa rasa kecewa dan pedih di hatinya
"Hen, tunggu..." teriak Renata
Namun Hendra sama sekali tak menghiraukan suaranya, secepatnya bergegas meninggalkan Renata yang terpaku di tempatnya. Ia merasa sangat khawatir, karena Hendra pergi dalam keadaan emosi yang tak terkendali.
Renata sangat mengerti sifat Hendra, ia tak ingin dia nekat hingga mungkin membahayakan keselamatan dirinya sendiri maupun orang lain. Renata terduduk kembali, air matanya terus mengalir mencoba mencerna kembali apa yang barusan terjadi.
Cukup lama Renata berdiam di sana, ia sudah tak peduli lagi dengan acara reuni yang tengah berlangsung. Ingin rasanya ia berlari dan berteriak sekeras mungkin, untuk melepaskan sesak di dadanya.
"Rena, kamu mau kemana?" tanya Nia saat melihat Renata hendak melangkah pergi
"Aku... " Renata menoleh ke arah Nia yang telah memegang pundaknya
Nia ternyata telah melihat Renata dan Hendra sejak tadi, ia lantas memeluk erat sahabatnya itu. Mencoba menenangkan hati Renata, sangat mengerti dengan apa yang sedang dirasakan olehnya.
" Menangislah Ren, aku mengerti perasaan mu saat ini." ucap Nia meletakkan kepala Renata di bahunya
"Aku takut, dia akan kehilangan kontrol dan melakukan sesuatu..." isak Renata
"Tenang lah, jangan berfikir macam-macam." tenang Nia
"Aku tahu bagaimana sifatnya, dia pergi dalam keadaan seperti itu, membuatku sangat khawatir. " Renata tetap terisak
"Rena aku benar-benar tak menyangka kalo Hendra akan datang, Deni yang memberi tahu. Dan aku mengerti perasaan mu saat ini, aku tahu bahwa kalian masih saling mencintai, meski kamu mungkin mencoba mengalihkannya dengan menerima hati lain. Namun memang sangat terlihat jelas di mata mu kalo cinta itu masih begitu besar. " ucap Nia sambil mengusap pundak Renata
"Rena, apa yang terjadi?" tanya Deni yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka berdua
"Nggak usah ditanya, kamu pasti telah mengetahui nya." jawab Nia
__ADS_1
"Rena, Ibunya Hendra barusan menghubungi ku..." Deni berhenti sejenak
"Ada apa Den, katakanlah." lirih Renata mengangkat kepalanya dari bahu Nia
"Ibunya terdengar sangat khawatir, sepertinya terjadi sesuatu pada Hendra. " ucap Deni hati-hati
Renata spontan bangkit dari duduknya, ia ingin segera pergi dan berlari melihat apa yang terjadi dengan Hendra. Namun buru-buru Deni menahannya, hingga Renata menghentikan langkahnya.
"Rena, biarlah aku yang melihatnya...kamu tetap di sini saja. " ucap Deni kemudian
"Nggak Den, aku ikut. Aku ingin menemuinya ...semua ini karena aku." Renata memaksa ikut
Akhirnya Deni dan Renata pergi menuju rumah Hendra, sedangkan Nia tetap disana memastikan acara tetap berlangsung baik dan memberi pengertian pada teman-teman yang sempat melihatnya.
###
"Ibu, bagaimana keadaan Hendra? apa yang terjadi?" tanya Deni saat tiba dirumah Hendra
"Renata...." gumam Ibu terkejut melihat kedatangan Renata
"Ibu tahu sekarang kenapa Hendra begini." ucap Ibu menatap ke arah Renata
"Ada apa Bu, bilang pada Rena Bu..." Renata tampak sangat khawatir
"Hendra tadi tiba-tiba pulang dan langsung mengunci diri di kamar, dari dalam kamarnya terdengar suara barang pecah dan teriakan Hendra. Teriakan nya terdengar sangat menyayat hati, ditambah suara dinding kamar yang bergetar dan berdebum seperti dihantam sesuatu. " Ibu berhenti sejenak
"Setelah cukup lama, suara kembali tenang namun sayup-sayup terdengar isak tangis yang terasa pilu." lanjut Ibu dengan wajah khawatir
"Ibu, apa ada kunci cadangan untuk kamar ini?" tanya Deni kemudian
"Coba Ibu cari dulu." sahut Ibu
Selama menanti Ibu mencari kunci, Renata tampak sangat khawatir. Dia terlihat mondar mandir mendekati pintu kamar, menempelkan telinganya pada pintu, mencoba mencari tahu keadaan di dalam.
"Ini dia kuncinya." Ibu menyerahkan pada Deni
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Deni langsung membukanya, betapa terkejutnya mereka saat pintu telah terbuka. Kamar sangat berantakan penuh dengan barang-barang yang pecah, dan pakaian berhamburan di lantai.
Tampak Hendra duduk meringkuk di sudut kamar, keadaannya sangat kacau. Perlahan Renata mendekatinya, sementara Ibu dan Deni tetap di luar, membiarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya.
Renata tertegun dan bersimpuh di depan Hendra, tampak olehnya keadaan Hendra yang sangat kacau. Pakaiannya berantakan, rambutnya acak-acakan dan yang paling membuat hati Renata miris, kedua tangan Hendra tampak memar dan berdarah seperti habis meninju sesuatu.
Renata menoleh ke arah dinding, tampak disana bekas noda darah dari tangan Hendra. Rupanya dinding itu menjadi sasaran kemarahan dan kekecewaannya yang tak terbendung lagi.
"Hen,..." Renata mengusap lembut kepala Hendra yang tertunduk dan bertumpu di kedua lututnya
Hendra tetap terdiam dengan suara isak yang sangat lirih, Renata merasakan hatinya sangat teriris melihat keadaan Hendra. Perlahan Renata mengangkat kepala Hendra yang tertunduk, di tatapnya wajah pilu dengan mata basah itu.
"Kenapa kau menyakiti dirimu seperti ini?" lirih Renata menatap mata Hendra
"Aku nggak sanggup, Rena." jawab lirih Hendra kemudian memeluk erat Renata
Renata membalas pelukan Hendra, satu tangannya mengelus lembut kepala Hendra, mencoba menenangkan nya. Sedang Hendra masih lirih terisak meletakkan kepala di bahu Renata, hingga bahu itu basah oleh air matanya.
Ibu dan Deni yang melihat dari ambang pintu tampak terenyuh melihat keduanya. Ibu tak kuat lagi menahan air matanya menetes, sedang Deni tampak tertegun penuh haru, tak percaya melihat sahabatnya yang sangat kuat itu tampak begitu hancur. Hendra yang kuat, keras, dingin dan bahkan sadis terlihat sangat lemah dan begitu menyedihkan.
Ibu dan Deni lantas melangkah meninggalkan mereka berdua, tak sanggup melihat keharuan tersebut. Memberikan kesempatan kepada mereka berdua untuk menyelesaikan urusan hatinya.
"Rena, biarkan aku mati saja...Aku sungguh tak sanggup." ucap pelan Hendra
"Jangan pernah berkata seperti itu..." Renata melepaskan pelukan Hendra dan menatap wajahnya
"Andai kau tahu, apa yang aku rasakan saat ini..." ucap pilu Hendra
"Aku tahu, dan percayalah aku juga merasakan hal yang sama, namun kita harus kuat." jawab Renata mencoba kuat
"Rena, ikutlah denganku...kita pergi berdua ke tempat yang sangat jauh, hanya berdua aku tak ingin lagi berpisah dari mu." air mata Hendra belum berhenti mengalir
Renata merasakan hatinya sangat teriris mendengar permintaan Hendra, ia mencoba tenang dan menjaga akal sehatnya tetap berjalan. Ia tak ingin gegabah mengikuti kata hatinya, berusaha berfikir dengan jernih agar tak terhanyut mengikuti keinginan Hendra.
"Tenang dan renungkanlah kembali Hen, saat ini jangan biarkan emosi menguasai mu. Aku yakin kamu bisa..." Renata mencoba menguatkan hatinya
__ADS_1
"Belum cukupkah penantian dan penderitaan panjang ku." lirih Hendra