
Setelah puas menyerang bibir kini Hendra mulai mengincar leher jenjang Anita, hingga membuatnya menger ang merasakan sensasi yang sudah lama di inginkan nya. Mendengar er angan Anita membuat Hendra semakin menggila, ia mulai mengeksekusi dua bukit kembar dan terowongan rahasia milik Anita berbarengan.
Pertempuran sengit itu telah sampai pada giliran sang meriam yang masuk ke dalam terowongan rahasia yang sempit dan gelap. Baik si pemilik terowongan dan meriam sama-sama menger ang merasakan sensasi kenikmatan yang baru pertama kalinya mereka rasakan.
"Hendra kamu memang luar biasa." des ah Anita yang kepayahan meladeni dahsyatnya invasi Hendra
"Tentu saja Renata sayang..." sahut Hendra dengan arogan
"Patung es ini ternyata perkasa sekali." senyum Anita mesra
"Yeahh...dan kini nikmatilah invasi kedua ku." suara serak Hendra mengiringi aksinya yang kedua
Malam itu bagai Perang Dunia versi kamar yang maha dahsyat sehingga membuat keduanya terkapar tak berdaya kehabisan tenaga, hingga terlelap dalam tidur nyenyak nya dengan berhias senyum kepuasan.
###
Hari sudah menjelang siang, saat Hendra terlebih dulu membuka matanya. Betapa terkejutnya saat dia menoleh dan melihat Anita tidur di sebelahnya dan lebih terperanjat lagi saat menyadari bahwa keduanya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka.
Seketika Hendra bangkit hingga membuat Anita yang terus memeluk lengannya saat tertidur, terbangun namun tak mau melepaskan lengan kekar Hendra.
"Lepaskan...." ucap keras Hendra
"Hen..." Anita tetap memeluk erat lengannya
"Dasar wanita si alan...kamu menjebak ku saat mabuk, sungguh licik..." bentak kasar Hendra
"Hen, aku sama sekali tak menjebakmu...apa kau sudah lupa bahwa kau sendiri yang menginginkannya." jelas Anita
"Omong kosong...kamu pasti sudah merencanakan nya." sahut Hendra cepat
"Hen, percayalah aku tak mungkin melakukannya. Demi cintaku padamu aku rela menjadi korban halusinasi mu pada Renata. " ucap Anita kemudian
"Stop...jangan asal kalo ngomong, dan darimana kamu tahu nama Renata." Hendra menarik paksa lengannya yang dipeluk Anita
"Bukankah semalam kamu sendiri yang memanggil ku dengan nama Renata. " kata Anita mengingatkan
"Bohong...." wajah Hendra memerah menahan emosi
__ADS_1
"Hen, semalam kau begitu luar biasa dan aku tak menyangka di balik wajah dinginmu ternyata tersimpan sosok pria yang sangat perkasa. Aku rela dan tak menyesalinya meski hanya sebagai korban halusinasi mu." Anita menatap tajam wajah Hendra
"Hentikan... ku bunuh kau jika terus membual." teriak keras Hendra dan bergegas ke kamar mandi
Di bawah guyuran air dari shower Hendra berteriak sekerasnya, dan terus mengumpat serta memaki dirinya sendiri yang sudah begitu bodoh. Tangannya meninju tembok kamar mandi bertubi-tubi hingga memar kemerahan, untuk menyalurkan amarah yang sedang menguasai dirinya.
Hendra terperanjat saat merasakan tangan Anita telah memeluk pinggangnya dari belakang.
"Hentikan Hen,...Aku mohon jangan sakiti dirimu sendiri." Anita memohon
"Bukan urusan mu." jawab Hendra cepat
Hendra segera menghentikan aksinya, melepas paksa pelukan Anita dan mendorongnya hingga terjerembab ke lantai. Kemudian ia berlalu pergi tanpa mempedulikan Anita yang tersungkur sambil terus terisak. Hatinya sangat pedih dan hancur menerima perlakuan kasar Hendra, kemarahan membuatnya bagai monster yang ingin menghabisi korbannya.
Anita berusaha bangkit, setelah membersihkan diri dan berpakaian ia terduduk diam meratapi kejadian yang dialaminya. Mencoba tegar dan menata kembali hatinya yang hancur berkeping-keping.
###
Di lain tempat Ardian mulai penasaran dengan kegiatan Renata yang semakin sibuk, diluar tugasnya sebagai istri dan juga ibu rumah tangga. Ardian melihat Renata lebih sering bertemu dengan teman-temannya, meskipun sebenarnya juga tak terlalu mengganggu kewajibannya.
"Mas Ardian sudah pulang, tumben jam segini udah nyampe rumah. " Renata balas bertanya
"Iya, kebetulan sudah nggak ada kerjaan dan pengen cepat pulang, ehh....malahan istriku yang cantik ternyata tidak ada di rumah." ucap Hendra sedikit tersenyum
"Maaf mas, habis kamu nggak bilang dulu kalo mau pulang cepet." ucap manja Renata sambil duduk disebelah suaminya
"Pengin bikin kejutan sih tapi ..." ucapan Ardian terpotong
"Iya-Iya, sekali lagi maaf aku juga tadi nggak bilang dulu sama mas Ardian kalo mau keluar. Tadi setelah jemput sekolah aku minta bibi untuk nemani anak-anak, karena aku ada janji ketemu sama temen-temen." jelas Renata menatap wajah Ardian
"Sayang,...akhir-akhir ini kamu kok sering keluar sama temen kamu, boleh aku tahu ada apa ?" tanya Ardian hati-hati
"Maaf ya mas kalo itu membuat mu tak senang, aku dan teman-teman sedang merencanakan acara reuni." jawab Renata
"Reuni..." ucap singkat Ardian yang raut mukanya berubah
"Kenapa mas, apa kau keberatan?" tanya Renata setelah melihat ekspresinya
__ADS_1
"Bukannya aku keberatan sayang,... tapi sejujurnya aku merasa takut mendengar kata reuni. Aku takut kehilangan mu." kata-kata Ardian terdengar pilu
"Apa maksudmu, Mas?" tanya Renata lembut
"Renata sayang, berjanjilah kau tak akan pernah meninggalkan aku. Meskipun suatu saat nanti kau bertemu dengannya, berjanjilah untuk tetap setia menjadi istriku." ucapan Ardian semakin terdengar pilu
"Mas, apa kau sedang meragukan aku..." lirih Renata menatap tajam suaminya
"Rena, aku tak akan pernah meragukan mu, tapi jujur jika ini tentang dia aku merasa takut, aku takut dia akan mengambil mu kembali dengan cara apapun." mata Ardian menatap tajam Renata
Renata terdiam mendengar ucapan Ardian barusan, tanpa disadari benaknya kembali mengenang Hendra namun ia cepat-cepat menghentikannya. Ia tak ingin menyakiti perasaan Ardian yang telah membuktikan ketulusan nya selama ini.
"Mas...Aku mohon untuk selalu percaya padaku, kamu adalah masa kini dan masa depanku. Aku tak mungkin mengorbankan nya demi sebuah masa lalu." ucap Renata meyakinkan
"Tapi apakah dia akan datang nanti..." ucap Ardian yang masih khawatir
"Entahlah mas, sejak meninggalkan kota ini tak ada yang tahu keberadaan nya sekarang. Entah datang atau tidak , percayalah hal itu tak akan pernah mengubah hubungan kita. Berhentilah khawatir dan ragu mas, aku mohon selalulah berada di sampingku, terus menjaga dan membimbingku." pinta Renata pada suaminya
"Aku sangat mencintaimu, Sayang." lirih Ardian memeluk tubuh istrinya
"Terima kasih atas semua yang telah kau berikan untukku, Mas." Renata mencium pipi Ardian manja
Ardian merasa lega, kini ia semakin percaya diri bahwa siapapun tak akan bisa memisahkan dirinya dengan Renata. Bahkan oleh Hendra sekalipun, andaikan terjadi ia akan berjuang keras mempertahankan sampai titik darah penghabisan.
Ardian memeluk erat istrinya, dan menciumi kening dan wajahnya berulang kali. Renata menatap wajah suaminya dan tersenyum bahagia atas semua perlakuan Ardian.
"Btw...menurutmu aku dan dia gantengan siapa?" goda Ardian yang menaik turunkan alisnya
"Mas...please deh." Renata mencubit pinggang Ardian hingga membuatnya menggeliat geli
"Rena, geli tau..." Ardian memegang tangan Renata
"Biarin, siapa suruh godain duluan, ini rasakan..." Renata kembali mencubit, bertubi-tubi
"Ooo...bilang aja kalo mau diterkam, sini aku turuti permintaan mu, nggak ada ampun pokoknya...." seketika Ardian hendak menangkap tubuh istrinya
Renata mengelak dari tangkapan Ardian dan berlari kecil menuju kamar, Ardian pun mengejarnya. Setelah mengunci pintu Ardian langsung menerkam tubuh Renata dan menghempaskan tubuh kedua nya ke atas ranjang. Selanjutnya bisa di tebak apa yang sedang berlangsung didalam sana.
__ADS_1