Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Ingin ditemani


__ADS_3

Seperti keinginan Hendra, ia dibawa kembali ke kota asalnya dan dimakamkan disana. Hendra ingin kembali ke kota kelahirannya sekaligus lebih dekat selalu dengan Renata, dan juga orang tuanya.


Seminggu berlalu setelah hari pemakaman Hendra, namun Anita masih tetap tinggal dirumah mertua nya, ia belum ingin kembali ke ibukota. Selama disini Anita dan Junior menempati kamar Hendra yang memang masih di rawat dengan baik.


"Dad, ternyata memang begitu besar cintamu padanya....Renata cinta pertama mu, pemilik hati mu, cinta sejati mu sekaligus cinta terakhir mu." gumam Anita lirih saat melihat disetiap sudut kamar itu yang berisi kenangan tentang Renata


"Mom...kapan kita kembali ke rumah?" tanya Junior yang tiba-tiba masuk ke kamar


"Kenapa boy, apa kamu tak betah disini?" tanya balik Anita menoleh ke arah anaknya


"Aku merasa asing disini mom,....aku ingin mengenang daddy di rumah kita, kenangan ku bersama daddy ada disana." jawab Junior lirih lalu memeluk mommy nya


"Baiklah boy, kalo memang itu yang kau inginkan, mommy akan berkemas dan kita pulang besok." ucap Anita membelai lembut kepala anaknya


"Terima kasih, mom.... om Andi akan menjemput kita kan?" tanya Junior kemudian


"Kita pulang sendiri saja, jangan selalu merepotkan om Andi, mommy jadi nggak enak padanya..." jawab Anita pelan memberi pengertian


"Tapi om Andi bilang..." ucapan Junior segera dipotong Anita


"Sayang, tolong mengerti juga perasaan mommy ....Junior sayang kan sama mommy, nggak ingin mommy sedih..." ucap Anita segera


"Iya mom, aku sangat sayang sama mommy...." sahut Junior kemudian memeluk erat tubuh mommy nya


Setelah memberi pengertian pada anaknya, kini Anita mulai berkemas, ia juga sudah berpamitan pada mertuanya jika besok akan kembali ke ibukota. Sebenarnya mereka masih ingin tinggal bersama Anita dan Junior, namun setelah dijelaskan akhirnya mereka pun mengijinkan Anita dan anaknya pulang.


Selesai berkemas, Anita berniat pergi ke rumah Renata, ia ingin berpamitan sekaligus berterima kasih karena sudah ikut membantu selama proses pemakaman Hendra. Anita dan Renata adalah dua orang yang paling merasa kehilangan atas kepergian Hendra, namun dengan penuh ketabahan mereka pun berusaha merelakannya.


"Selamat sore, apa Renata ada di rumah?" tanya Anita saat Ardian membukakan pintu untuknya


"Anita, silahkan masuk...duduklah." sahut Ardian ramah

__ADS_1


"Renata ada kan, mas?" tanya Anita lagi saat sudah duduk di sofa


"Apa kamu tak menelponnya dulu tadi sebelum ke sini, ia belum pulang." jawab Ardian


"Tidak mas, aku langsung ke sini...aku pikir dia pasti ada di rumah, memangnya dia pergi ke mana?" tanya Anita


"Seperti biasa, setiap hari ia masih mengunjunginya...sebentar lagi juga pulang." jawab Ardian pelan dengan raut sedih


"Ke makam Hendra,..." sahut Anita yang tak menyangka jika sebesar itu perasaan Renata pada suaminya, bahkan mungkin sangat lebih besar darinya, dan dia baru menyadarinya


"Iya, aku sudah mencoba untuk memberikan pengertian padanya...tapi ia bilang Hendra masih ingin ditemani, dan tak ingin meninggalkan nya sendirian." ucap Ardian dengan ekspresi sedih


"Aku jadi malu padanya, aku yang istrinya saja tak berpikir sejauh itu, aku akui cintanya memang lebih besar dari aku." sahut Anita pelan


"Silahkan di minum, Anita..." ucap Ardian kemudian saat bibi sudah menghidangkan minuman untuk Anita


"Iya mas..." sahut Anita lalu meneguk segelas jus yang ada didepannya


"Anita,... maaf menunggu lama ya." kata Renata saat masuk rumah kemudian memeluk Anita sejenak


"Ah nggak kok, baru sebentar..." sahut Anita saat Renata ikut duduk di sana


"Kalian ngobrol aja, aku permisi harus menghubungi teman untuk urusan kerja." ucap Ardian lalu beranjak meninggalkan kedua wanita tersebut


"Rena, aku jadi malu padamu..." kata Anita tiba-tiba


"Malu kenapa?" tanya Renata heran


"Kamu tiap hari masih menemaninya, sedang aku tidak apalagi besok aku dan Junior akan pulang, aku membiarkannya disini sendirian. " jawab Anita sedih


"Jangan berfikir begitu, meski tak tiap hari menemani nya namun aku yakin setiap hari kamu pasti berdoa untuknya, saat ini kamu memang harus lebih fokus pada Junior, jangan biarkan anakmu terlalu larut merasakan kehilangan daddy nya." ucap Renata menenangkan

__ADS_1


"Iya Rena,...aku titipkan dia padamu..." sahut Anita


"Tak perlu kamu minta, aku akan selalu menjaga dan menemaninya, jujur aku masih tak percaya dia telah pergi..." kata Renata dengan raut penuh kesedihan


"Rena, aku mengerti betapa besar cinta kalian, tapi aku ingatkan juga padamu untuk menjaga hati suami mu, dia sudah menjadi suami yang sangat pengertian padamu, jangan sampai kamu membuatnya sedih karena semua ini. Biarlah Hendra tenang disana, dan jagalah yang masih ada di samping mu..." ucap Anita memberi pengertian


"Iya Anita, aku akan berusaha untuk tetap menjadi istri yang baik untuk mas Ardian, terima kasih telah mengingatkan..." sahut Renata tersenyum kecil


"Baiklah Rena, aku ke sini untuk pamitan...besok aku dan Junior akan kembali ke ibukota, sekali lagi terima kasih atas semuanya dan aku titipkan dia padamu." ucap Anita


"Sama-sama Anita, semoga kamu dan Junior kuat dan tegar dalam menjalani hidup ke depannya, apa Andi akan kembali bersamamu?" tanya Renata kemudian


"Maksudmu, Andi masih di kota ini?" tanya balik Anita yang merasa heran


"Iya Anita, ia masih disini...ia ingin selalu menjaga mu dan Junior meski kamu tak tahu, bahkan kemarin aku bertemu dengannya di makam, dia minta ijin dan berjanji pada Hendra untuk terus menjaga mu dan Junior." jelas Renata membuat Anita terdiam


"Aku pikir dia sudah kembali, dia tak pernah menghubungi mau pun menemui ku sejak acara pemakaman itu." kata Anita


"Iya, dia bilang padaku bahwa sengaja tak menghubungi mu, karena dia khawatir kamu akan merasa keberatan dengan kehadirannya, aku merasakan perasaannya padamu begitu tulus, Anita." ucap Renata meyakinkan


"Tapi jujur aku memang belum bisa menerima kehadirannya dalam hidup ku, hatiku masih selalu untuk Hendra." sahut Anita pelan


"Aku sangat mengerti dengan perasaan mu, Anita....setidaknya berilah dia kesempatan untuk membuktikan ketulusan nya, saran ku sebaiknya kalian pulang bareng." ucap Renata memberi saran


"Aku akan menghubunginya nanti....tapi aku tak yakin bisa membuka hati untuknya. " sahut Anita lirih


"Biarkan semuanya berjalan seiring waktu, tak perlu dipaksakan...jika memang kalian ditakdirkan bersama maka hati itu akan terbuka dengan sendirinya. " ucap Renata tersenyum kecil


"Terima kasih sarannya, kalo begitu aku pamit dulu....jika ada waktu aku ingin kita bertemu lagi, Renata....kamu masih mau menjadi teman dekat ku kan?" kata Anita memeluk erat tubuh Renata


"Tentu saja Anita, bahkan aku ingin kita bersaudara..." sahut Renata tersenyum bahagia

__ADS_1


__ADS_2