Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Sakit?


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, meski tetap dingin namun sikap Hendra tak sekasar sebelumnya. Anita merasa kini Hendra lebih menghargainya, lebih peduli dan perhatian, meski tak ada sinyal cinta darinya.


Hari ini weekend tidak seperti biasanya Hendra pasti pergi seharian penuh, namun hari ini ia tetap dirumah. Hari sudah menjelang siang saat ia terbangun, kemudian melakukan fitness seperti biasanya.


Anita sedang nonton tv di ruang tengah, saat melihat Hendra menuju dapur dan membuka kulkas mencari sesuatu.


"Hen, kamu cari apa?" tanya Anita menghampirinya


"Apa aja yang bisa dimakan." jawabnya cepat


"Ya Tuhan, Hen...kamu lapar? kenapa nggak bilang, aku kan bisa masak buat mu." ucap Anita perhatian


"Aku kira kamu mau pergi seperti biasanya. " lanjut Anita


"Duduklah, kamu mau makan apa?" tanya Anita


"Apa saja, terserah." kata Hendra sambil nyemil krupuk yang ada di meja makan


"Nasi goreng mau?" tanya Anita lagi


"He em..." mulut Hendra penuh krupuk


Tak sampai sepuluh menit Anita telah selesai membuat nasi goreng spesial untuk Hendra.


"Silahkan...selamat menikmati. " ucap Anita tersenyum kecil


Hendra tak menjawab ucapan Anita, ia langsung melahap nasi goreng di depannya. Saking laparnya karena habis olah raga hingga mulutnya pun belepotan, Anita yang duduk di depannya refleks mengambil tissue dan mengelap lembut mulut Hendra.


"Maaf...mulut mu belepotan." ucap Anita tersenyum


Hendra menatap ke arah Anita sekilas tanpa sepatah kata, dan melanjutkan makannya.


"Kamu sakit? " tanya Hendra tiba-tiba


"Enggak, memang kenapa?" tanya balik Anita


"Kamu kelihatan pucat." jawab Hendra datar

__ADS_1


"Nggak apa-apa, ..." kata Anita yang menyembunyikan kondisinya


Memang sejak beberapa hari ini Anita merasakan badannya kurang sehat, kepalanya sering pusing dan perutnya mual. Sebenarnya Anita telah menyadari keadaannya, namun ia sengaja menyembunyikan dari Hendra. Karena tak ingin Hendra curiga dengan wajahnya yang pucat, ia segera berdiri dan berjalan ke dapur.


Brukkk.


Klontang...


Hendra segera menoleh ke arah suara, tepatnya dari dapur. Alangkah terkejutnya Hendra saat melihat Anita telah jatuh ke lantai. Seketika ia meninggalkan makannya dan bergegas menuju dapur.


"Anita...Anita. kamu kenapa?" Hendra menggoyang tubuh Anita


Hendra merasa panik karena Anita tak menyahut, dia pingsan dan wajahnya sangat pucat. Segera Hendra membopong tubuh Anita, membawanya masuk ke mobil dan bergegas ke klinik terdekat.


Selama perjalanan Hendra tampak sangat khawatir, baru kali ini ia merasakan sangat gelisah melihat kondisi Anita yang tengah pingsan. Hendra memacu mobilnya cukup kencang hingga tak kurang dari sepuluh menit sudah tiba di klinik terdekat dari rumahnya.


"Dokter, tolong periksa kondisi istri saya." ucap Hendra saat membawa Anita ke ruang periksa


"Baiklah, akan saya periksa dulu. Tolong tunggu di luar untuk memberi ruang buat pasien." pinta Dokter


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Hendra saat melihat dokter keluar dari ruang periksa


"Istri anda baik-baik saja, ini biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil muda." kata Dokter yang membuat Hendra terperanjat


"Apa...maksud Dokter, Anita hamil?" kaget Hendra tak percaya


"Benar, pak...Istri anda sedang hamil dan usia kandungan nya sudah hampir tiga bulan. Memang anda belum mengetahuinya?" ucap Dokter yang merasa heran


Hendra tak menjawab pertanyaan Dokter, pikirannya kacau setelah mendengar kondisi Anita. Setelah mendapat obat dan cukup kuat Hendra segera membawa Anita pulang. Hendra memilih rawat jalan saat dokter memberikan pilihan rawat inap atau rawat jalan.


Selama mengemudi pulang, Hendra nggak fokus hingga beberapa kali harus mengerem mendadak. Hal itu membuat perut Anita nggak nyaman dan mulai mual.


"Hen, tolong hati-hati lah." pinta Anita yang menahan rasa mualnya


"Sudah diam, jangan manja." bentak Hendra membuat Anita kaget


"Hen, kamu kenapa?" tanya pelan Anita

__ADS_1


Hendra hanya diam hingga tiba dirumah, dan segera turun duluan dari mobil. Ia duduk bersandar di sofa sambil meremas kepalanya, wajahnya memerah menahan amarah.


"Duduklah..." ucapnya kasar saat Anita masuk ke rumah


"Kamu sengaja kan menyembunyikan nya dari aku?" teriak keras Hendra


Anita tersentak dengan teriakan Hendra, kini ia menyadari bahwa Hendra telah mengetahui kehamilan yang selama ini memang sengaja ia tutupi. Anita merasa takut kalo Hendra akan melenyapkan janin dalam kandungannya.


"Jawablah Anita, apa kamu sudah bisu sekarang." ucap kasar Hendra menatap tajam wajah Anita


"Hen, maafkan aku. Aku mohon biarkan anak ini lahir, aku sangat menginginkannya." ucap pelan Anita dengan tatapan penuh harapan


"Nggak bisa, ini salah Anita...ini sebuah kesalahan besar." Hendra menurunkan nada suaranya


"Hen, kehamilan ini mungkin hasil dari sebuah kesalahan tapi anak ini nggak salah, kita yang salah. Dan sejujurnya aku memang sangat menginginkan kehadirannya. Ijinkanlah aku merawat nya." Anita memohon


"Anita kamu tidak tahu, apa yang aku rasakan, aku benar-benar tidak bisa. Cukup kamu saja yang tersakiti, aku tak mau ada satu hati lagi yang nantinya terluka. Apalagi seperti kau bilang, ia tidak salah." wajah Hendra semakin serius


Anita kaget dengan alasan Hendra, ia merasakan hati Hendra mulai melunak. Ia tak mengira ternyata Hendra memiliki pemikiran seperti itu. Dia pikir selama ini Hendra benar-benar jahat dan kejam, sadis tak punya hati, namun ternyata dia salah.


"Hen, biarlah anak ini lahir, biarkanlah dia nanti yang akan menemaniku jika kelak kamu meninggalkan aku. Setidaknya kamu telah memberikan aku sebuah kenangan terindah, seorang buah hati dari orang yang sangat aku cintai." air mata Anita mulai menetes dan suaranya mulai serak


"Jadi kamu menganggap bahwa aku akan meninggalkan mu kelak?" tanya Hendra pelan


"Sejak menikah aku sudah mempersiapkan hatiku, jika suatu saat kamu akan pergi. Aku sadar diri kalo sampai kapanpun kamu tak akan bisa mencintaiku, hatimu sudah tertutup untukku. Meski sekeras apapun aku berusaha membukanya, namun tetap tak ada celah untukku." Anita semakin berurai air mata, menahan rasa pedih di hatinya


Hendra menatap Anita yang berurai air mata, entah mengapa hatinya merasa tak tega. Ia tak menyangka setulus itu Anita mencintainya, apa selama ini ia sudah sangat kejam padanya. Apa dia sudah sangat dalam menyakiti hatinya, apa dia sedikitpun tak punya perasaan pada istrinya itu.


Hendra teringat kembali nasehat Ibu padanya saat ia mencurahkan isi hati nya dulu. Ia menyesali pikirannya tadi yang tidak menginginkan kehamilan Anita, hampir saja ia membuat dosa besar lagi.


"Hampir saja Tuhan akan murka padaku, apa belum cukup dosa-dosaku selama ini." lirih Hendra dalam hati


"Hen, bicaralah..." Anita memohon dan menggenggam tangan Hendra


"Baiklah...biarkan junior lahir." ucap pelan Hendra menatap lembut wajah istrinya


"Benarkah....terima kasih Hen, aku mencintaimu." Anita tersenyum bahagia dan spontan mencium pipi Hendra kemudian memeluknya erat

__ADS_1


Hendra merasa sedikit lega satu beban berat di hatinya serasa telah hilang, dan untuk pertama kalinya ia membalas pelukan Anita. Betapa bahagianya Anita merasakan pelukan Hendra yang terasa begitu hangat dan nyaman.


__ADS_2