Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Pengkhianat


__ADS_3

Renata mengambil kursi dan duduk di sebelah ranjang. Ia hanya terdiam menatap wajah Ardian yang nampak mengenaskan, ingin rasanya ia mengobati luka-luka itu namun jika teringat kembali pengkhianatan yang dilakukannya ia menjadi benci.


"Rena, kenapa kau libatkan dia dalam masalah kita?" tanya Ardian mencoba menegakkan kepalanya dan menatap Renata


"Aku tidak pernah melibatkan nya, tapi ia memang peduli padaku yang sedang terluka karena mu." ucap Renata dengan suara bergetar


"Sayang, percayalah padaku...aku tak seperti yang kau pikirkan. " sahut Ardian mencoba membela diri


"Jangan panggil aku sayang, mas....Apa kau tidak malu dengan pengkhianatan mu." kata Renata mencoba bersikap tenang


"Suruh dia melepaskan aku, ...aku bukan penjahat yang harus diperlakukan seperti ini. " Ardian berusaha memohon


"Tapi kau lebih kejam dari penjahat sekalipun, tak ber perasaan....masih untung kau tidak dibunuh olehnya." ucap Renata memalingkan wajahnya


"Rena, aku akan buktikan bahwa aku tak melakukan apa yang kau tuduhkan. Sampai kapan pun aku tetap mencintaimu dan setia padamu. Tunggulah sampai saat itu tiba, dan kita pasti akan berkumpul lagi sebagai keluarga yang bahagia." ucap Ardian menatap lembut wajah istrinya


"Cukup mas, kata-kata mu semakin melukai hatiku. Aku akan menyuruh Hendra melepas mu, tapi jangan pernah sekalipun kau menemui ku atau anak-anak. " Renata berdiri dan hendak melangkah keluar


"Rena, sebaiknya pulanglah...tak baik kau lama-lama dengan bedebah ini." ucap Hendra memasuki kamar tersebut


"Hendra, kamu pasti tahu kalo aku sangat mencintai Renata, aku tak mungkin berbuat serendah itu. Sebagai laki-laki yang sama-sama mencintai dengan tulus, kamu pasti mengerti." ucap Ardian mencoba meyakinkan Hendra


"Ucapan dan faktanya jauh berbeda, sulit untuk bisa dipercaya. " sahut Hendra singkat


"Hen, lepaskan dia...Cukup sudah dan biarkan ia pergi, aku sudah peringatkan dia untuk tak berusaha menemui ku atau anak-anak. " ucap tenang Renata pada Hendra

__ADS_1


"Apa kamu yakin, apa dia bisa dipercaya, apa tidak lebih baik lenyapkan saja orang seperti ini." ujar Hendra tampak menatap tajam ke arah Ardian


" Cukup sudah Hen, tak perlu berlebihan...setelah ini biarlah jadi urusan ku. Aku mohon jangan ikut campur lagi, aku tak enak pada Anita." Renata berucap pelan menatap wajah Hendra dan berjalan keluar dari kamar tersebut


Hendra menyusul Renata keluar dari kamar, meninggalkan Ardian yang masih terikat dan hatinya merasa takut melihat kebersamaan Renata dengan Hendra. Ia tak ingin Hendra mendekat lagi pada Renata, disaat hubungannya dengan istrinya sedang seperti ini.


Ardian masih berharap Renata akan kembali padanya, ia berjanji pada dirinya sendiri akan meluruskan semua kesalahpahaman ini. Ia tak akan menyerah begitu saja, sampai titik darah penghabisan ia akan berjuang membawa kembali Renata dan anak-anaknya.


"Kapan Anita akan datang ke sini , Hen?" tanya Renata saat sampai di teras belakang rumah


"Ia menunggu kabar dariku, begitu aku suruh ia pasti langsung berangkat ke sini." jawab Hendra berdiri disamping Renata


"Kalo begitu segera hubungi dia, aku ingin berbagi beban ini bersamanya." ucap Renata yang masih nampak kesedihan di wajahnya


"Ren, apa kau tak mau berbagi padaku juga." Hendra membalikkan tubuh Renata berhadapan dengannya


"Jadikan bahuku sebagai tempat bersandar mu, Ren... saat kau terluka hatiku ikut menangis, meski aku sudah berusaha sekeras mungkin tapi hati ini selalu mengarah padamu. " bisik Hendra tetap menatap lembut wajah Renata


"Aku mohon Hen, jangan seperti ini. Aku senang bisa berteman baik dengan Anita, aku juga tak ingin kita menyakiti hatinya, kalo begitu apa bedanya kita dengan mas Ardian. Aku tak mau jadi pengkhianat ...., apa yang ada diantara kita tetap seperti komitmen sebelumnya." jelas Renata sambil menarik mundur tubuhnya yang sudah terlalu dekat dengan tubuh Hendra


"Kamu memang wanita yang luar biasa...tak salah hatiku memilih mu sebagai pemiliknya." ucap Hendra berusaha mengerti dengan pendirian Renata


"Aku telah menyuruh penjaga untuk melepas Ardian, mulai saat ini berhati-hati lah. Jika ada sesuatu berjanjilah untuk segera menghubungiku atau Anita." ucap Hendra kemudian


"Iya,...terima kasih atas semuanya....aku bahagia memiliki kamu dan Anita sebagai bagian dari hidupku. Kalian seperti keluarga bagiku, namun begitu aku mohon jangan terlalu berlebihan dalam peduli denganku." Renata tak dapat membohongi hatinya yang selalu berdebar jika berdekatan dengan Hendra

__ADS_1


"Aku tahu apa yang kamu rasakan, karena aku juga merasakan nya. Jika tidak harus ditahan saat ini ingin sekali aku merengkuh mu dengan erat dan tak ingin ku lepaskan lagi." ucap Hendra berusaha mendekatkan lagi tubuhnya


"Stop Hen,... Jangan membuat semuanya tambah kacau, biarlah hubungan kita tetap seperti ini." Renata menahan tubuh Hendra dengan tangannya agar tak mendekat


"Aku mau pulang, sekali lagi terima kasih. Katakan pada Anita untuk menemui ku dirumah tanpa kamu." ucap Renata menekankan suaranya dan melangkah pergi


###


Ardian yang sudah di bebaskan kembali ke rumah kontrakannya. Sejak pergi dari rumah ia memang mengontrak sebuah rumah kecil tak jauh dari kantornya. Ia membersihkan dan mengobati sendiri luka-luka, tak ingin pergi ke klinik karena tak mau banyak pertanyaan padanya.


Saat perjalanan pulang tadi ia sempat bertemu dengan teman dekat sekaligus teman kantornya, ia yang membantunya membeli obat-obatan yang dibutuhkan. Dan kemudian mengantarkannya ke rumah, sekaligus membawakan nya makanan.


"Ardian, apa kau tak mau lapor polisi, ini sudah keterlaluan." tanya Rendy temannya itu


"Tidak Rendy,...Aku terima semua ini sebagai hukuman karena telah melukai hati istriku." jawab Ardian sambil mengobati lukanya


"Tapi dia itu orang luar, tak seharusnya ikut campur urusan rumah tangga mu." ucap Rendy yang merasa tak terima melihat temannya babak belur begitu


"Ini bisa dilaporkan sebagai penculikan dan penganiayaan sekaligus." lanjut Rendy marah


"Sudahlah Rendy, kamu tak tahu siapa dia...dia melakukan semua ini untuk Renata, aku ikhlas menerimanya jika bisa membuat lega hati Renata. " Ardian berusaha menenangkan hati temannya yang tak terima


"Rendy, maukah kau membantuku?" tanya Ardian pada teman baiknya itu


"Apa yang bisa aku bantu, katakanlah...Jika aku mampu pasti akan ku bantu dengan senang hati." jawab Rendy yang mulai tenang

__ADS_1


"Bantu aku untuk mencari bukti-bukti bahwa Dewi sudah menjebak ku, aku yakin tak melakukan apapun padanya saat aku mabuk dulu. Aku masih sadar betul dengan apa yang terjadi, jadi aku sangat yakin anak yang dia kandung itu bukanlah anakku." jelas Ardian bersemangat dan yakin


"Baiklah, kita harus mulai menyelidikinya..." sahut Rendy menganggukkan kepalanya


__ADS_2