
Renata ditemani Ibunya berangkat dengan menggunakan kereta, sebelumnya Anita sudah di kabari jadi pas tiba di stasiun Anita sudah disana untuk menjemput. Saat melihat Renata, spontan Anita memeluk erat tubuhnya hingga membuat Renata terenyuh.
"Renata,... Hendra Ren?" isak Anita dalam pelukannya
"Sabar Anita,...tenangkan hatimu, aku yakin dia pasti baik-baik saja." ucap Renata mencoba menenangkan
Mereka kemudian bergegas pergi ke rumah Anita, jarak stasiun dengan rumah Anita memang tak terlalu jauh. Sepuluh menit melajukan mobil dengan kecepatan sedang, akhirnya mereka tiba dirumah Anita.
"Duduklah Rena juga Ibu, anggaplah di rumah sendiri. Aku akan bantu bibi siapkan kamar buat kalian, oh ya... mau minum apa?" tanya Anita kemudian
"Tidak usah repot Anita, nanti saja." sahut Renata yang memandangi foto- foto yang ada di ruang tersebut
"Baiklah kalo begitu, jangan sungkan...kalo butuh apa-apa silahkan ambil saja." ucap Anita yang berlalu menuju sebuah kamar
Setelah selesai menyiapkan kamar, Anita mempersilahkan mereka berdua untuk beristirahat dulu setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Lain halnya dengan Ibu yang tertidur setelah mandi, Renata keluar kamar dan menghampiri Anita yang sedang bermain bersama Junior di ruang tengah.
"Anita..." Renata menepuk pundak Anita yang sedang melamun dan duduk di sebelahnya
"Rena, kok nggak istirahat dulu...kamu pasti capek." ucap Anita tersadar dari lamunannya
"Kamu ini bengong aja, lihat kasihan Junior main sendiri." balas Renata tersenyum manis pada Junior yang menatapnya heran
"Kenapa sayang kok lihatin tante begitu, heran ya...Junior belum kenal sama tante ya." Renata mendekati Junior hendak memeluknya
"Nggak apa-apa sayang, ini tante Renata...ayo salim dulu, kasih tante ciuman sayang." ucap Anita pelan menjelaskan pada Junior
"Tante..." sahut pelan Junior tersenyum manis menatap wajah Renata, menjabat tangan dan mencium pipi Renata
"Aduh...manisnya, ganteng nya..." Renata balas mencium kedua pipi bakpao Junior
"Daddy...mau Daddy, mom..." rengek Junior tiba-tiba
__ADS_1
"Sini sayang,...Sabar ya Daddy lagi kerja, nanti kalo udah beres kerjaannya pasti langsung pulang." Anita memeluk anaknya dengan mata berkaca-kaca
"Kangen daddy..." Junior masih merengek
"Udah malem, Junior minum susu terus bobok ya sayang, biar di temani bibi ya." ucap Anita membujuk anaknya
Anita menyerahkan Junior pada bibi yang sudah membawa sebotol susu, dan membawanya masuk ke kamar. Setelah Junior masuk kamar, Anita tak dapat menahan lagi tangisnya. Dadanya mulai terasa sesak, tiap kali harus menjawab pertanyaan Junior tentang daddy nya.
"Anita, kuatkan hatimu demi Junior. Yakinlah bahwa saat ini Hendra pasti bisa bertahan dan baik-baik saja. " ucap Renata tersenyum menatap Anita
"Ren, tapi ini sudah hampir dua bulan..." lirih sedih Anita menatap Renata
"Aku yakin ada seseorang yang berhasil menolongnya, entah dimana dan siapapun orangnya. Perasaan ku bilang saat ini dia baik-baik saja..." ucap Renata mencoba menghibur Anita
"Semoga saja memang seperti itu, aku belum rela kehilangan dia saat ini. Disaat aku benar-benar merasakan kehangatan dan perhatian darinya, kenapa Tuhan malah menjauhkan nya." isak Anita menyandarkan kepalanya di bahu Renata
###
Sementara itu jauh diseberang sana tepatnya di pulau X, Dokter Arya memimpin anak buah dan pengawal si boss untuk terus melakukan pencarian. Menyusuri sepanjang sungai, hingga ke setiap sudut di pulau itu.
Pria yang sedang terluka itu tak lain adalah Hendra, meski dengan fasilitas kesehatan yang kurang memadai ia di tangani oleh dokter dari klinik kecil di daerah itu. Kini ia sudah siuman setelah beberapa minggu sempat koma, dalam keadaan tak sadarnya Hendra selalu menyebut nama Renata.
"Ayah, kenapa dia selalu menyebut nama Renata, siapa dia?" tanya Dina anak gadis keluarga tersebut
"Mungkin istrinya atau juga anaknya, kelihatannya dia pria yang sudah berkeluarga." jawab pak Arif sang ayah
"Kata dokter dia harus makan banyak nutrisi agar tubuhnya yang lemah bisa cepat kuat, tapi mau bagaimana jika dia tak pernah mau menyentuh makanannya. " ucap Dina kepada ayahnya
"Nak, ini makanannya kamu antar ke dalam." sahut bu Tari sang ibu yang datang membawa nampan berisi makanan
"Bu, biar Dina suapin saja ya...habis dia, entah siapa namanya, tak pernah mau menyentuh makanannya." senyum Dina yang sepertinya memang punya perasaan pada pria yang tengah mereka rawat tersebut
__ADS_1
"Nak, ibu berpesan padamu jangan sampai kamu jatuh cinta padanya...sepertinya dia pria yang sudah berkeluarga, jangan sampai kamu menyakiti hati keluarganya. " pesan bu Tari pada Dina serius
"Bu, perasaan cinta itu tak bisa memilih...kalo hati sudah bergetar mau bilang apa." sahut Dina dengan santai
"Mengertilah nak, pahami kata-kata ibu ini, jangan sampai kamu sakit hati nantinya." lanjut bu Tari setelah mendengar ucapan anaknya
"Bapak setuju dengan ibu mu, Dina." pak Arif menyahut pembicaraan anak dan istrinya
"Iya-iya, bapak dan ibu ini memang kompak." ucap Dina yang masuk membawa makanan dalam nampan
Saat memasuki kamar , Dina melihat pria itu membuka matanya, ternyata ia sudah bangun. Untuk sejenak Dina berdiri menatap pria tersebut masih dengan nampan di tangannya, senyuman terlihat di bibirnya saat ia sedang mengagumi pria di depannya itu.
"Maaf ini saya bawakan sarapan untuk anda." ucap Dina saat pria itu menoleh ke arahnya
Dina melangkah mendekat, pria itu hanya terdiam tak menjawab dan memalingkan pandangan. Dina lantas menggeser kursi dan duduk di samping pembaringan, tangannya nampak gemetar saat menyendok makanan dan mencoba menyuapi pria tersebut.
"Dokter bilang anda harus banyak makan, biar cepat pulih." ucap Dina mendekatkan tangannya, namun pria itu tak bergerak sama sekali
"Makanlah, apa anda tak ingin cepat sembuh dan bertemu dengan Renata." ucap Dina memancing perhatian pria tersebut
"Darimana kamu tahu nama itu?" tanya lirih pria itu menoleh ke arah Dina
"Anda selalu menyebutnya saat tak sadarkan diri, ...maaf apa saya boleh tahu nama anda?" tanya Dina kemudian
"Hendra." ucap singkat sangat pelan
"Oh, tuan Hendra...saya Dina." sahutnya dengan tersenyum senang karena mendapat respon dari Hendra
"Makanlah tuan Hendra, ijinkan saya membantu anda." Dina berkata sambil mendekatkan tangannya yang memegang sendok berisi makanan ke mulut Hendra
Hendra sedikit bangkit dan bersandar dengan bantal menopang punggungnya. Tubuhnya memang masih sangat lemah, bahkan untuk duduk tegak saja ia belum mampu.
__ADS_1
"Letakkan saja, nanti biar aku sendiri." pelan suara Hendra mengayunkan tangan tanda tak mau
"Tapi, nanti tuan pasti tak menyentuhnya seperti kemarin, kalo tuan tak makan bagaimana bisa cepat pulih. Makanlah yang banyak kemudian minum obatnya kalo ingin sembuh, atau tuan ingin terus disini jika tak kunjung pulih?" senyum Dina yang hatinya mulai menggelitik