
Pernikahan Arya dan Dina telah berlangsung dengan lancar, tanpa halangan yang berarti. Keduanya tampak bahagia terlebih bagi Arya, akhirnya selama penantian panjangnya kini ia telah bertemu jodohnya.
Meski waktunya hanya mepet, Hendra menyempatkan membawa Anita dan Junior untuk jalan-jalan. Anita sangat senang walau hanya piknik sederhana, ia merasa sangat bahagia dengan keluarga kecilnya yang tampak harmonis.
"Terima kasih Dad, sudah mengajak kami jalan-jalan...Meski sederhana namun aku ingin kebersamaan ini tak akan pernah berakhir." ucap Anita bersandar di bahu Hendra menatap Junior yang asyik bermain
"Maafkan aku, jika selama ini kurang memperhatikan kalian, jangankan jalan-jalan waktu berkumpul dirumah pun jarang." kata Hendra menggenggam erat tangan Anita
"Aku mengerti Dad, pekerjaan mu memang menyita banyak waktu, selalu jaga dirimu demi kami..." sahut Anita lembut
Keesokan harinya, Hendra dan keluarga harus kembali ke ibukota, karena pekerjaan sudah menanti. Setelah sekali lagi mengucapkan selamat dan berpamitan pulang mereka bertiga diantar sopir berangkat ke bandara.
"Sekali lagi selamat Arya...selamat menikmati bulan madu kalian, semoga cepat memberi hasil keburu tua kamu nanti." ucap Hendra menepuk pundak Arya saat berpamitan
"Thank u bro,...Sudah menyempatkan datang kesini, hati-hati di jalan. Sampai ketemu minggu depan..." kata Arya memeluk teman baiknya itu
Perjalanan panjang dan cukup melelahkan harus dijalani kembali, waktu sudah menjelang malam saat mereka tiba kembali di rumahnya di ibukota. Baru sebentar ingin merebahkan badannya yang terasa sangat letih, si boss telah menghubungi Hendra.
"Halo, sudah di rumah kan." tanya si boss melalui ponselnya
"Iya bos, baru saja..." jawab singkat Hendra
"Datanglah ke sini, ada hal penting yang harus aku bicarakan..." ucap si boss kemudian
"Harus sekarang boss?,..." tanya Hendra yang merasa sangat letih
"Iya, informan ku bilang ada sabotase dari orang dalam, ada pengkhianat dalam bisnis kita ." ucap si boss kelihatan khawatir
"Baik, saya segera ke sana." jawab Hendra akhirnya setelah mendengar ucapan si boss yang terdengar begitu khawatir
"Bagus, aku tunggu...." sahut si boss kemudian mematikan ponselnya
__ADS_1
Hendra bergegas setelah berpamitan pada Anita, sebenarnya ia merasa berat melepas kepergian Hendra yang terlihat begitu letih. Namun jika sudah menyangkut urusan bisnis si boss, apapun keadaannya harus segera di selesaikan.
"Dad, sampai kapan kamu akan begini terus, pikirkan kondisi kesehatan mu juga , jangan seperti ini..." ucap Anita saat mengantar Hendra sampai ke depan
"Jangan khawatir mom, aku baik-baik saja... ." sahut Hendra kemudian bergegas masuk mobil dan berlalu
Tak beberapa lama Hendra telah tiba di kediaman si boss, setelah memarkir mobilnya ia bergegas menuju ruangan pribadi si boss. Ia tahu benar jika ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan maka si boss akan menunggu di dalam ruangan pribadinya.
"Duduklah...." ucap si boss saat Hendra tiba
"Lihatlah berkas ini,..." si boss menyerahkan sebuah berkas berisi data-data dan foto
Hendra menerima berkas tersebut, kemudian mulai membuka dan mempelajari nya. Ia tampak sangat terkejut saat mulai melihat foto yang ada didalamnya, ia sangat mengenal betul wajah yang ada dalam foto tersebut.
"Andi..." lirih Hendra kemudian
"Apa kau mengenalnya...kira-kira setahun yang lalu ia bergabung dengan kita, pekerjaannya lumayan bagus hingga aku sama sekali tak menyadari bahwa ia seorang penyusup." ucap si boss sedikit menerangkan
"Iya, mungkin kamu tidak tahu karena ia masuk saat kamu berangkat ke pulau X dan kemudian insiden itu terjadi." jawab si boss
"Bagaimana bisa aku harus kembali berurusan dengannya setelah sekian lama." kata Hendra sambil terus menatap foto itu
"Apa kau mengenalnya?" tanya si boss penasaran
"Bukan hanya kenal boss, bahkan dulu saat di sekolah pun dia sudah jadi seteru saya, persaingan antar geng sekolah..." jawab Hendra menghela nafas panjang
"Bagus, kalo begitu...kamu sudah tahu latar belakangnya, dan dia sepertinya belum tahu tentang kamu yang jadi asisten pribadi ku, jadi mulai lah menyelidikinya, siapa orang di balik dia." tegas di boss namun Hendra tampak ragu
"Kenapa aku harus berurusan dengannya lagi, dan pasti akan menyinggung tentang Renata. " ucap Hendra dalam hatinya
"Kok malah melamun, ada apa...kamu tampak ragu, tak seperti biasanya." kata si boss mengagetkan Hendra
__ADS_1
"Tidak apa-apa boss, saya akan coba selidiki dia segera." sahut Hendra cepat
"Bagus, pergilah dan lakukan segera. Aku ingin segera kamu beres kan semua ini..." ucap si boss tegas
Hendra kemudian keluar ruangan sambil membawa berkas tersebut, meski tampak ragu namun ia harus menyelesaikan masalah ini segera. Hendra kembali memacu mobilnya pulang ke rumah, hari sudah sangat larut hingga saat masuk ke kamar ia membuat Anita terbangun.
"Dad, kenapa...kamu tampak gelisah begitu?" tanya Anita saat melihat Hendra duduk di tepi ranjang dengan raut mukanya yang penuh kecemasan
"Kali ini aku merasa akan berhadapan dengan masalah yang cukup rumit." sahut Hendra pelan
"Dia seteru lama ku saat di sekolah, dia juga mantan kekasih Renata, dia se kampus dengan ku sebelum akhirnya aku meninggalkan kota asal ku, kini aku harus berurusan kembali dengannya." ucap Hendra sambil memberikan berkas yang dibawanya kepada Anita
Anita membaca berkas tersebut dan melihat foto-foto di dalamnya. Memang ia tak mengenal sama sekali pria di foto tersebut. Namun saat membaca biodatanya, memang berasal dari kota yang sama dengan suaminya.
"Penyusup?" lirih Anita menatap wajah suaminya
"Iya, menurut informasi begitu, dan selama ini aku benar-benar tak tahu kalo ia bergabung dalam bisnis si boss. Boss bilang ia masuk saat aku menghilang di pulau X tahun lalu." ucap Hendra menjelaskan
"Apa dia ada hubungannya dengan insiden itu?" tanya Anita lagi
"Tapi menurut si boss, dia sama sekali tak tahu tentang aku..." kata Hendra memegang kepala dengan kedua tangannya
"Tenanglah Dad, jangan berfikir jauh dulu...sebaiknya selidiki dulu kebenarannya dan motif di balik ini semua." ucap Anita mencoba menenangkan hati Hendra
"Istirahatlah, ...apa mau aku buatkan teh hangat?" tanya Anita sambil memijat pundak suaminya
"Tidak usah mom, kembalilah tidur...maaf sudah menganggu istirahat mu." jawab Hendra menatap wajah istrinya
"Jangan begitu Dad, kamu sama sekali tak mengganggu ku. Ini semua sudah kewajiban ku sebagai istri, kapanpun kamu butuh aku akan selalu siap. Apa perlu aku menidurkan mu..." ucap Anita pelan sambil tersenyum simpul mencoba mencairkan suasana hati suaminya
"Rupanya kamu sekarang hobby menidurkan aku ya, mom..." sahut lirih Hendra dan mulai menghempaskan tubuhnya ke ranjang
__ADS_1