Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Gunung es abadi


__ADS_3

Renata terdiam sejenak, tak langsung menjawab pertanyaan Ardian. Ia menghela nafas menenangkan hati dan jantung nya berdegup kencang. Lidahnya seakan kelu, namun ia memberanikan diri untuk menjawab.


"Ada apa , sayang...katakanlah." tatap Ardian tenang


"Dia datang mas.... Hendra..." jawab Renata ragu


"Apa!!!...tapi kamu bilang kan..." Ardian terbelalak kaget


"Dia memang tidak konfirmasi, mas. Aku juga kaget tiba-tiba melihat dia disana." ucap Renata mencoba tenang


"Apa yang terjadi kemudian?" tanya Ardian penuh selidik


"Maksudnya..." Renata bingung harus jawab apa


"Rena,...Ya nggak mungkin kan kalau kalian cuma diam saja waktu bertemu, apa yang ia mau dari mu?" Ardian mulai tak bisa mengendalikan rasa kecewanya


Renata mulai menceritakan seluruh kejadiannya, ia nampak gemetar antara takut dan deg-deg an. Ia benar-benar tak ingin membuat marah dan kecewa suaminya, ia tak ingin dianggap telah mengkhianati nya.


Ardian yang mendengar dengan seksama, raut wajahnya terlihat mulai berubah. Tangannya terlihat menggenggam erat menahan sesuatu yang menyesak di dadanya, rasa sakit, pedih dan kecewa kini sedang ia rasakan.


"Mas, tolong percayalah padaku." pinta Renata pada suaminya


"Meski aku percaya padamu, tapi bagaimana dengan nya, apa dia bisa dipercaya." suara Ardian terdengar bergetar


"Mas, dia sudah berjanji...aku yakin dia pasti menepatinya. " ucap Renata meyakinkan


"Begitu yakinkah kamu padanya, seorang pria yang masih sangat mencintai apa mampu untuk terpisah selamanya." ucap Ardian datar


"Mas, dia juga sudah memiliki kehidupan sendiri, dengan istri dan juga anak laki-laki. Dia pasti akan lebih memilih keluarga kecilnya. " ucap Renata mencoba tenang


Renata berusaha keras untuk meyakinkan suaminya, ia tak ingin suaminya merasakan kecewa yang dalam. Dia meyakinkan bahwa tak ada sedikit pun niat di hatinya untuk meninggalkan keluarga kecil yang bahagia ini.


"Sampai kapan pun Renata akan tetap menjadi istri mas Ardian." ucap Renata mantap


"Benarkah, kau janji sedetik pun tak akan pernah meninggalkan kami, dan tak akan ada sedikit pun niat untuk mengkhianati ku." Ardian membalas dengan tatapan mata yang sembab


"Aku janji mas." jawab Renata pelan sambil mengusap air mata Ardian


Ardian menatap lembut wajah Renata lalu mencium keningnya dan kemudian memeluknya erat, seakan tak mau untuk melepaskannya.


###


"Masih jauh ya, Hen...perasaan Kok nggak sampai-sampai sih." tanya Deni yang mulai bosan

__ADS_1


"Bentar lagi , tidur aja kalo capek." ucap Hendra


Sejak awal berangkat Hendra sudah menyetir sendiri, sementara Deni hanya duduk menemani di sebelahnya. Sesekali Deni mengajak ngobrol bahkan bercanda untuk mengusir kantuk dari mata Hendra. Bagi Hendra menyetir sejauh ini sudah biasa, bahkan ia pernah lebih jauh lagi.


"Hendra kamu sampe mana?" tanya si boss di ujung ponsel


"Iya boss, sudah hampir sampai." jawab Hendra cepat


"Langsung ke sini, ada tugas penting." perintah si boss tegas


"Baik Boss..." jawab Hendra mematikan ponselnya


"Ada apa Hen?" tanya Deni yang bengong sejak tadi


"Aku langsung ke tempat si boss, aku cariin penginapan buat kamu dulu." jawab Hendra datar


"Ahh...ikut boleh dong, penasaran aku." sahut Deni tersenyum kecil


"Nggak bisa, tidak sembarangan orang boleh masuk, apalagi orang asing yang aneh kayak kamu." ucap Hendra ketus


"Ayolah....Hen, bilang aja aku saudara mu." rengek Deni


"Apalagi cuman saudara, istri dan anak ku aja nggak bisa, kecuali kalo di panggil sendiri sama si boss." jelas Hendra


"Huftt...masak harus sendirian, di hotel lagi, boring tau!!!" sungut Deni


"Di rumah ada siapa aja, kamu nggak takut aku godain bini kamu." jawab Deni nyengir


"Ada istri, anak aku dan juga seorang art...kalo berani silahkan aja!!" ucap Hendra cuek


Sekitar 10 menit akhirnya sampai di rumah Hendra, mereka berdua turun dan langsung masuk ke rumah. Deni berjalan di belakang mengikuti Hendra, sambil matanya melihat ke segala penjuru arah.


"Wahh...rumahmu gede juga ya, desainnya juga minimalis modern, tapi sayang kesannya dingin kayak pemiliknya." oceh Deni melirik Hendra


"Udahh...nggak usah banyak omong." jawab Hendra cepat


"Daddy...." teriak Junior saat melihat Hendra masuk ke dalam rumah


"Halo boy...sini,..." Hendra berjongkok sambil melambaikan tangannya agar Junior berjalan menghampirinya


Dengan jalan yang belum lancar , Junior berjalan menuju ke pelukan Hendra. Baru dua hari tak bertemu, Hendra merasa sangat kangen dan terus menciumi pipi bakpao nya.


"Anak kamu ganteng ya, nggak kayak bapaknya." ocehan Deni lagi

__ADS_1


"Diemm...nggak ada yang minta pendapatmu." jawab Hendra melotot ke arah Deni


"Daddy nya juga ganteng kok..." sahut Anita yang berjalan menghampiri mereka


"Siapa Hen...?" tanya Anita kemudian


"Ini Deni temen aku,...dan Den, ini Anita istri aku." ucap Hendra mengenalkan dengan cuek sambil memeluk Junior


Deni dan Anita saling tersenyum, bersalaman dan memperkenalkan diri masing-masing. Sementara Hendra tampak sangat acuh, dan terus menciumi pipi anaknya.


"Pintar juga ya kamu cari istri." ucap Deni menyenggol lengan Hendra


"Deni mau nginap di sini untuk beberapa hari, siapkan kamarnya." ucap Hendra datar tanpa ekspresi pada Anita


"Iya, aku akan bantu bibi untuk siapin kamar." jawab Anita pelan


"Hehh...kamu dingin amat sama bini sendiri." bisik Deni saat Anita berlalu, namun tak ada jawaban


"Gila kamu, istri secantik dia kamu jutek in kayak gitu, sayang banget." oceh Deni menggelengkan kepala


"Bukan urusan mu, diam saja." jawab Hendra cepat


Tak lama kemudian Anita sudah kembali untuk mempersilahkan Deni ke kamar yang sudah di sediakan. Hendra lantas memberikan Junior kepada Anita, karena harus segera menemui si boss.


"Aku harus ke tempat si boss segera, bilang bibi suruh nyiapin makan buat Deni." ucap Hendra datar pada Anita


"Hen..." satu tangan Anita meraih tangan Hendra sedang satunya menggendong Junior


"Aku kangen sama kamu..." ucap Anita tiba-tiba sambil mencium sekilas bibir Hendra


Hendra terperanjat tanpa bisa menghindar, ia terpaku di tempatnya, matanya membulat sempurna dan wajahnya memerah. Entah karena tersipu atau marah, namun ia hanya terdiam tak berkata apapun.


"Hati-hati, dan jangan terlalu larut pulangnya, aku akan menunggu mu." ucap Anita setelah melepaskan bibirnya


"Hen,..." panggil Deni saat melihat Hendra hendak melangkah keluar


"Apa lagi Den, ..." toleh Hendra cepat sambil menatap tajam


"Kamu nggak takut ninggalin kucing garong di rumah kayak gini,..." ucap Deni sambil tertawa lepas


"Bodo amat,... uber aja tuh tikus yang ada di gudang belakang." jawab Hendra cuek dan langsung bergegas menuju mobil dan memacunya cukup kencang


"Hahh...ada ya orang sedingin itu...garing banget." gumam Deni nyengir saat melihat ke arah Anita

__ADS_1


"Iya, memang begitulah Hendra..." sahut lirih Anita yang menggendong Junior dan berlalu


"Rupanya Renata sudah membuatnya membeku bagai gunung es abadi, jangan panggil nama ku Deni kalo nggak bisa membuat mu meleleh. " gumam lagi Deni namun dalam hati


__ADS_2