
Hendra memacu mobilnya ke tempat biasa ia menenangkan pikirannya, padahal sudah cukup lama ia belum ke sana lagi. Entahlah, setelah mendapat notifikasi dan pesan itu apalagi melihat kata reuni membuat hati dan pikirannya galau lagi.
Di tempat yang tenang itu, Hendra mengenang kembali saat indah bersama Renata. Hatinya merasa sesak mendapati kenyataan bahwa kini mereka berdua telah memiliki kehidupan masing-masing. Mungkinkah ia bisa bersama lagi, mungkinkah mereka bisa memutar waktu dan memperbaiki semuanya.
"Rena, sanggupkah aku melanjutkan sisa hidupku ini tanpa harapan bisa kembali padamu." lirih Hendra dalam sepi
"Harusnya aku tetap menunggu mu dalam kesendirian, kenapa kini jarak di antara kita jadi semakin jauh, Rena." lanjut lirih Hendra
"Rena, aku rindu padamu...saat ini aku ingin sekali menangis di pangkuan mu. Renata tuan putriku, pemilik hatiku." air mata kini telah meleleh di pipinya
Seorang Hendra yang dingin, keras, dan sadis akan selalu rapuh bila mengingat semua hal tentang Renata, tempat ini selalu menjadi saksi ketika tampang sangar itu berubah jadi mellow.
Sementara Anita merasa sangat heran dengan perubahan sikap Hendra , notifikasi dan pesan apa yang sebenarnya di dapat Hendra. Semalaman Anita tak bisa memejamkan mata, ia sangat khawatir pada suaminya itu karena telah lewat dini hari ia belum kembali.
"Hendra kamu dimana?, ada apa denganmu, Hen?" lirih Anita sambil menatap Junior yang tertidur di sampingnya
Hari menjelang pagi saat Hendra memasuki rumahnya, karena tak ingin membangunkan Anita dan Junior ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Meski tubuhnya sangat letih namun ia tak dapat tidur, walau matanya terpejam namun hati dan pikirannya flash back ke masa saat masih bersama Renata.
"Hen, bangun...kenapa kamu tidur disini?" Anita mencoba membangunkan Hendra
"Rena...Renata..." igau Hendra sambil sedikit menggeliat
"Jadi dia lagi yang membuat mu seperti ini, Hen." lirih Anita menahan sesuatu yang menyesak di dadanya
Anita memandang wajah Hendra yang masih terpejam, perlahan ia membelai wajah itu. Wajah pria yang sangat dicintainya, tanpa disadari air matanya menetes merasakan pedih di hatinya.
"Apakah selamanya aku akan selalu menunggu mu Hen, tidak adakah sedikitpun perasaan cinta untukku. Aku rela melakukan apapun, asal kau tetap di sampingku." ucap Anita pelan sambil tetap membelai wajah dingin di depannya
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Hendra yang membuka matanya membuat Anita kaget
"Aku hanya ingin membangunkan mu, semalam kamu pulang jam berapa, Hen?" tanya balik Anita
"Bukan urusan mu, pergilah." usir Hendra saat telah sepenuhnya terbangun dari tidurnya
__ADS_1
"Hen, apa aku membuat kesalahan, kenapa sikap mu seperti ini lagi." ucap Anita pelan
"Pergi aku bilang, selain bodoh apa kamu juga tuli sekarang." bentak kasar Hendra
"Tapi Hen, setidaknya..." ucapan Anita terpotong
"Hughh....dasar bodoh..." Hendra berdiri mendorong tubuh Anita dan bergegas pergi
Setelah mandi dan berganti pakaian kerja, Hendra pergi tanpa pamit pada Anita. Ia tak ingin mendapat pertanyaan lagi dari Anita, saat ini ia benar-benar membutuhkan waktu untuk sendiri.
###
Semakin mendekati acara reuni ternyata juga membuat Renata galau lagi, tanpa disadari ia lebih sering termenung sendiri. Meski belum pasti dia akan datang atau tidak, namun telah membuat Renata uring-iringan.
Ardian diam- diam memperhatikan sikap istrinya itu, sejujurnya hatinya merasa bimbang. Bayangan akan kehilangan Renata selalu menghantuinya, sebenarnya ia tak ingin meragukan Renata. Namun entah kenapa di benaknya kini terselip rasa was-was dan takut yang berlebihan.
"Minggu pagi begini mau kemana, Sayang?" tanya Ardian yang melihat istrinya sudah rapi
"Sayang, memang kamu beneran mau hadir di acara tersebut?" tanya Ardian ragu
"Mas, aku kan salah satu panitianya, masak aku malah nggak hadir." jawab Renata kemudian
Ardian memeluk erat istrinya dari belakang, Renata kemudian membalikkan badannya. Kini ia menatap wajah suaminya yang terasa aneh, ada rasa nggak rela dalam tatapan matanya.
"Kenapa, mas?" tanya pelan Renata
"Sayang, bisakah kau jujur padaku, bagaimana perasaan mu saat ini? saat sebentar lagi mungkin kamu akan bertemu dengannya. Aku merasa sangat takut..." ucap Ardian menatap sendu Renata
"Mas, sejujurnya aku..." Renata tak meneruskan ucapannya
Kini Renata terduduk di tepi ranjang, Ardian pun mengikuti duduk di sebelahnya. Renata sejenak terdiam tampak keraguan di wajahnya, matanya menatap kosong ke depan.
"Katakanlah sayang, aku akan berusaha menerima semua perkataan mu, meski sakit aku akan menahannya." ucap Ardian lembut
__ADS_1
"Mas, aku juga nggak ngerti dengan perasaanku ...Tapi percayalah mas, apapun yang terjadi aku ingin kamu selalu percaya padaku dan berjanji akan tetap bersama ku." Renata menatap wajah suaminya
"Sungguh kamu belum bisa melupakannya?" tanya Ardian hati-hati
"Kenangannya mungkin tetap ada, namun aku berusaha menyimpannya hanya dalam hati. Mas, aku ingin menjalani masa kini dan masa depan ku hanya bersama mu dan anak-anak kita, bersama keluarga kecil kita." jawab Renata pelan
"Iya sayang, aku juga tidak akan pernah rela bila harus kehilangan mu. Sampai kapan pun kita akan bersama selamanya, apapun yang terjadi tetaplah di sisiku." peluk Ardian erat
"Tapi mas, sampai kini Deni belum dapat konfirmasi darinya, jadi kemungkinan besar dia tidak akan datang." ucap Renata menenangkan
"Semoga saja, Sayang...Aku berharap kamu tidak pernah bertemu dengannya lagi." kecupan hangat Ardian di kening Renata
Mendengar ucapan Ardian tadi membuat hatinya berdesir, sejujurnya dalam hati ia ingin bertemu dengan Hendra meski hanya sekali, ia ingin meminta maaf kepadanya atas ke egoisan nya.
Seandainya ia tidak egois, seandainya ia berjuang sedikit saja untuk mencari kebenaran, mungkin ia takkan pernah berpisah dengan Hendra. Ia begitu mudah menyerah hingga Hendra harus berkorban seorang diri, memendam segala rasa sakitnya seorang diri.
"Kenapa, Sayang..." pertanyaan Ardian membuat Renata terbangun dari lamunan nya
"Nggak apa-apa Mas,...sepertinya Nia sudah datang." ucap Renata mendengar suara mobil berhenti
"Iya, sepertinya itu memang Nia." ucap Ardian yang kemudian mengantar Renata ke depan
"Selamat pagi, Mas Ardian." sapa renyah Nia
"Pagi Nia, mau berangkat sekarang apa mampir dulu?" tanya Ardian basa basi
"Sekarang aja mas, keburu siang nanti." balas Nia
"Nia, titip Renata ya, tolong jaga dia baik-baik jangan sampai lecet sedikitpun." ucap Ardian tajam pada Nia
"Beres mas, tenang aja...bidadari mu aman bersama ku." jawab Nia sambil tersenyum kecil
"Kalian ini apa-apaan sih, sudah ayo berangkat. Aku berangkat ya mas." pamit Renata pada suaminya
__ADS_1