
"Aku capek mas, bolehkah aku istirahat duluan. " tanya Renata ragu ketika Ardian memeluknya dari belakang ketika mereka sudah di kamar.
"Tentu saja sayang, tidur lah duluan wajah kamu memang sedikit pucat. " jawab Ardian sambil mencium kepala istrinya
"Beneran nggak apa-apa kan, mas? "
"Iya, sayang... aku kan nggak mau kamu sakit. Istirahatlah dulu biar tubuh kamu enakan, besok persiapkan diri kamu... ok! " ucap Ardian yang kini menatap wajah Renata sambil mengangkat alisnya
"Mas Ardian bisa aja. " Renata menunduk malu, wajahnya merona
Ardian mencium sekilas bibir Renata yang kemudian berbaring, tak lupa ia membuka selimut untuk istrinya itu. Ardian dengan sabar menunggu hingga istrinya terlelap, ia pandangi wajah cantik didepannya sambil tersenyum kecil. Kemudian ia pun membaringkan tubuhnya di samping Renata yang telah tertidur pulas, sambil memegang tangan Renata dan diletakkan di dadanya, ia pun ikut tertidur.
###
"Duh, pengantin baru... bangunnya kesiangan nihh. " Goda orangtua Ardian saat sarapan
"Apaan sih Ayah ini, kecapekan tahu... " kata Ardian enteng
"Capek apa dulu nih, capek karena resepsi kemarin apa karena ritual buka segel... " goda ayah diikuti tawa dari anggota keluarga lain
"Ya capek karena acara kemarin lahh, dari pagi sampai sore lhoo, pegel lahh... sampe sampe buka segelnya tertunda. " jawab Ardian nyengir
"Ohhh... ya, ternyata..." sekeluarga kompak tertawa
Kedua keluarga yang berkumpul ini tampak bahagia, mereka terus saja menggoda Ardian dan Renata yang kini sudah bergabung di meja makan. Renata tampak merona dan hanya tersenyum menanggapi godaan mereka, untuk sejenak ia bisa melupakan kegalauan hatinya.
Ardian bahagia melihat senyum yang selalu menghias di wajah istrinya itu. Hari itu Ardian Renata membuka kado-kado yang mereka terima, cukup banyak juga jumlahnya. Hampir semua kado dan bingkisan dibuka, namun Renata tak menemukan satu pun dengan nama Hendra sebagai pengirimnya.
Renata berpikir dalam hati, apakah Hendra tidak menghadiri pernikahannya kemarin, apakah dia membencinya kini, apakah dia telah sangat menyakiti hatinya dengan keputusannya ini. Banyak sekali pertanyaan apakah dalam hatinya, hingga tak menyadari bahwa Ardian sedang memperhatikan nya yang melamun.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa... kok bengong? " pertanyaan Ardian mengagetkan Renata
"Ahh... gak apa-apa, mas. " sahut Renata
"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu. " selidik Ardian
"Beneran mas, nggak apa-apa... aku cuma heran aja mereka pada ngasih kadonya aneh-aneh ya. " Renata berusaha mengalihkan kecurigaan Ardian
"Iya, tapi lucu juga sih. ehh... liat sayang ada yang ngasih ini, kayaknya cocok kalo kamu pake ntar malem. " goda Ardian sambil menyodorkan lingerie warna maroon
"Ahh... mas Ardian mulai genit ya. " senyum Renata
"Nggak apa-apa dong, genit sama istri sendiri. " ucap Ardian sambil mendekatkan wajahnya pada Renata
Wajah keduanya sangat dekat, Ardian mulai mencium bibir Renata sekilas dengan lembut. Renata hanya terdiam tak bereaksi hingga Ardian mengulanginya lagi, kini lebih menuntut hingga mau tak mau Renata pun mulai memberi akses untuk suaminya memulai permainan yang lebih panas.
"Sayang, aku nggak akan meneruskan jika kamu nggak nyaman. " bisik Ardian saat melepaskan bibir Renata untuk mengambil nafas
"Sayang, aku sangat mengerti perasaan mu dan aku menerimanya, aku akan sabar menunggumu mencintaiku dengan sepenuh hati. " ucap Ardian lirih
"Mas, aku berjanji akan belajar mencintaimu setulus hatiku. " lirih Renata
Ardian tersenyum bahagia dan mengulangi permainan bibirnya kepada Renata, kini dia lebih agresif lagi bukan hanya bibirnya tapi kedua tangannya juga mulai nakal. Nafasnya terdengar memburu hingga tak bisa lagi menahan hasratnya hingga nanti malam.
Ardian menggendong istrinya itu dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Renata membiarkan suaminya mengeksplor setiap inchi dari tubuhnya, ia berusaha menikmati tiap aktivitas panas yang diberikan oleh suaminya. Renata telah merelakan semuanya untuk sang suami dan bahkan kini ia mulai menikmatinya.
Ardian berhasil membuat Renata melambung, kini keduanya berada di puncak hasratnya. Dan akhirnya ritual buka segel pun sukses di lakukan, Renata sedikit mengerang kesakitan saat Ardian berhasil menjebol segelnya. Namun hanya untuk sesaat, kini keduanya benar-benar menikmati sensasi sangat luar biasa yang baru kali ini mereka rasakan.
Ardian mempercepat aksinya saat keduanya hampir sampai di pelepasan bersama. Renata mencengkeram punggung Ardian untuk melampiaskan gelora yang ia rasakan. Meski sudah mencapai pelampiasan bersama namun Ardian enggan untuk melepaskan penyatuan mereka, dia menatap sayu wajah istrinya dan berulang kali menciumnya.
__ADS_1
"Capek mas...., sesak nafas ini." desah pelan Renata
"Tapi aku nggak mau melepaskan mu, aku ingin seperti ini terus. " ucap manja Ardian
"Trus kalo aku kehabisan nafas gimana. " rengek Renata
"Iya deh, aku nggak mau dong kalo istriku engap... " ucap lembut Ardian sambil melepaskan penyatuan mereka dan turun dari atas tubuh istrinya, dan berbaring di sebelahnya
"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu. " ucap Ardian sambil mencium pipi Renata dari samping
"Sama-sama mas, tadinya aku khawatir tak bisa memenuhi kewajiban ku sebagai istri... " ucapan Renata terpotong
"Ssst, jangan berpikir macam-macam ... mulai saat ini pandangilah aku saat kamu mulai galau, yakinkan hatimu bahwa hanya akulah yang pantas mendapatkan cintamu. " ucap Ardian sambil mencium lembut bibir Renata
"Mas, beri aku waktu untuk belajar mencintaimu setulus hatiku, dan bimbinglah aku untuk menjadi istri terbaik mu. " senyum Renata yang kini gantian mencium bibir suaminya
Keduanya tersenyum penuh kebahagiaan, Ardian menghujani Renata dengan sentuhan penuh cinta hingga membuat nya melambung untuk kedua kalinya. Mereka kemudian terlelap karena kelelahan hingga melewatkan makan malam.
###
Di sisi yang lain, Hendra yang merasakan hati nya telah luluh lantak sudah membulatkan tekad untuk meninggalkan kota ini. Dia sudah mulai berkemas untuk pergi merantau keluar kota, entah kemana dia sendiri belum tahu tapi yang pasti jauh dari kota ini.
Orang tuanya berulang kali mencegah, namun keputusannya sudah bulat tak bisa ditawar lagi. Walaupun tak tega melihat airmata Ibunya yang mengalir saat mengantar kepergiannya, namun dia tetap melangkahkan kakinya dari kota yang telah memberikan banyak kenangan indah untuknya. Kota yang mempertemukan dia dengan belahan jiwanya, kota yang memberinya pelajaran tentang mencintai seseorang namun di kota ini juga dia meninggalkan hatinya.
Hendra melangkahkan kaki membawa rasa hampa dalam hatinya, biarlah raganya jauh namun hati dan perasaannya tetap tinggal disini.
Semoga dia sanggup menjalani kehampaan nya, dan tetap tegar menghadapi takdir hidupnya.
"Nak, jaga dirimu baik-baik,... tetaplah dekat dengan Tuhan, serahkan semua padaNya. " pesan Ibunya
__ADS_1
"Iya Bu, Hendra akan selalu mengingat pesan Ibu. " Ucapnya sambil berlalu.