
"Kenapa, ...kau lakukan semua ini?" tanya pelan Anita
"Kenapa?...asal kau tahu dulu aku dan Hendra selalu berseteru bersama geng sekolah kami, tapi itu tak masalah buatku. Saat itu untuk pertama kali aku jatuh cinta pada seorang cewek, begitu mencintai nya tapi aku kalah start dari dia. Meski aku sempat berhubungan dengannya tapi ia hanya menganggapku sebagai bayangan Hendra, aku pun mundur dan mengikhlaskan nya. Cukup lama aku tak bisa move on, sampai-sampai aku pernah dikira penyuka sesama. Dan disaat hati ku kembali merasakan getaran aneh itu yaitu padamu, lagi-lagi dia mendahului ku. Kali ini aku berjanji tak akan menyerah begitu saja, tak akan ku biarkan perasaan ku kandas lagi karena dia." jelas Andi panjang lebar
"Tapi dia tak mengetahui semua ini, dan asal kamu tahu sebenarnya dari awal dia tak ingin menikah dengan ku." kata Anita
"Aku tahu, dan aku juga tahu bagaimana perlakuan kasar nya pada mu di awal pernikahan kalian. Itu yang membuatku tambah sakit, ...." balas Andi kini mendekati Anita
"Tinggalkan dia, dan hiduplah bersamaku....Aku jatuh cinta padamu pada pertemuan pertama kita, aku akan mencintaimu dengan segenap jiwa, yang tak akan pernah kau dapatkan dari dia." ucap Andi meraih tangan Anita dan menatap dalam wajahnya
"Cukup...kau mencintaiku itu urusan mu, tapi aku sangat mencintai suami ku. Biarpun dia tak akan bisa membalasnya, tapi dia tak sejahat dan seburuk dirimu. " kata Anita menarik paksa tangannya
"Jahat, apa maksud mu...apa mencintai itu suatu kejahatan. " sahut Andi kini bersimpuh di depan Anita, hingga membuatnya merasa tak nyaman
"Kamu menyusup ke bisnis ini untuk mencelakai nya bukan, kamu yang merencanakan insiden di pulau X itu, dan kamu juga melakukan sabotase kiriman dari bisnis paman ku." ucap Anita meluapkan kemarahannya
"Aku menyusup ke dalam bisnis ini untuk membantu teman ku yang merupakan saingan bisnis paman mu, dan asal kau tahu aku tak pernah tahu tentang insiden tragisnya di pulau X, ..." jawab Andi tetap menatap Anita
"Bohong,....aku yakin kamu yang merencanakan semua itu, lalu bunga- bunga itu..." sahut Anita cepat merasa tak percaya
"Percayalah aku tak pernah melakukan apa yang tuduhkan, aku tak mencampur urusan perasaan ku dengan pekerjaan. Jujur saat itu aku turut bersimpati, kalo tidak aku pasti sudah berusaha mendapatkan hati mu saat dia menghilang selama beberapa bulan itu. Dan bunga itu adalah sebuah tanda cinta ku padamu, aku tahu kau tak pernah mendapatkan nya dari dia. Aku sangat mencintaimu..." ucap Andi kini menggenggam erat tangan Anita dan bersimpuh di depannya
__ADS_1
"Tetap saja kau jahat, menjadi penyusup dan mengacau pekerjaan paman dan suami ku itu..." Anita tak bisa melanjutkan ucapannya, tangan Andi menutup mulutnya
"Aku jadi penyusup memang untuk membantu teman ku, namun aku terima pekerjaan itu agar aku lebih dekat dan lebih mudah mengawasi mu. Apa kau tahu siapa yang menolong mu saat kamu hampir tertabrak mobil karena sedang kalut waktu Hendra menghilang, juga saat kamu dan anak mu hampir dirampok waktu kamu minggat dari rumah. Aku tak pernah sedetik pun melewatkan setiap waktu dalam hidup mu, Anita...Aku sangat mencintai mu." kata Andi serius dan penuh kesungguhan
"Tidak, tapi aku tidak bisa....Aku mencintai..." ucapan Anita terpotong lagi
"Tapi dia tak akan pernah bisa mencintai mu sampai kapan pun, hati nya tak akan bisa berpaling dari cinta sejati nya...." ucapan Andi memotong ucapan Anita
"Tinggal kan dia dan hiduplah bersama ku,...please Anita..." Andi memohon dengan suara pilu
Anita menatap wajah Andi yang bersimpuh di depannya, hatinya berdesir saat mendengar semua pengakuan Andi, ia lihat ke dalam mata yang mulai basah itu ada sebuah ketulusan, namun ia hanya mencintai Hendra sampai kapan pun.
"Tidak, aku akan terus bersimpuh hingga kau mau menerima ku." lirih Andi dengan mata yang basah terus menatap Anita
"Aku tidak bisa, mengertilah....Aku sangat mencintai suami ku. Terima kasih telah peduli dan perhatian pada ku selama ini, meski aku tak pernah menyadarinya. Tapi aku tetap tak bisa...." ucap Anita mencoba meyakinkan
"Akan aku lakukan apapun agar kau mau bersamaku...atau bunuh saja aku agar tak terus tersiksa dengan perasaan ini." ucap pelan Andi terdengar begitu pilu
Saat Andi terus meyakinkan Anita tentang perasaan nya, tanpa mereka sadari Hendra dan Arya mulai merapat mendekati rumah tersebut. Hendra merasa Anita sudah terlalu lama di dalam, dan ia khawatir Andi akan berbuat nekat pada Anita. Maka ia dan Arya kemudian sepakat untuk masuk paksa ke dalam rumah lengkap dengan senjata di tangan mereka.
"Anita,.... kau tidak apa-apa?" tanya Hendra saat masuk dengan posisi siaga sambil menodong kan senjata nya
__ADS_1
"Daddy...., aku baik-baik saja." sahut pelan Anita yang kaget karena Hendra dan Arya masuk dengan senjata di tangan mereka
Namun Andi tak bergeming dengan semua itu, ia tetap dengan posisinya yang bersimpuh di kaki Anita. Ia hanya melihat kedua pria itu dengan tatapan dingin dan sangat tenang. Ia sudah tak peduli lagi jika seandainya kedua pria itu ingin menghabisi nya.
"Dad, aku mohon turunkan senjata kalian...ini semua tak seperti yang kalian bayangkan." ucap Anita kepada suaminya
"Andi, apa yang kau lakukan padanya, berdiri dan angkat tangan mu." ucap keras Hendra namun Andi tetap tak bergeming
"Arya, tolong yakinkan Hendra untuk menurunkan senjata....semua tak seperti bayangan kalian, aku akan jelaskan. " kata Anita tanpa bergerak dari duduknya karena Andi terus menggenggam erat tangannya
"Lalu apa yang sedang dia lakukan itu,....menjauh lah dari istri ku breng sek..." ucap keras Hendra lagi sambil menatap tajam ke arah Andi setelah menurunkan senjata
Andi tetap terdiam tak bergerak masih dengan posisinya, itu membuat Hendra semakin emosi dan dengan cepat menghampiri dan menarik paksa tangan Andi hingga terlepas dari tangan Anita dan terjerembab ke lantai.
"Dad, cukup jangan seperti ini....Andi maafkan dia, bangunlah..." ucap Anita yang hendak membantu Andi berdiri
"Mom...apa yang kau lakukan, menyingkirlah dari dia." ucap Hendra menatap tajam istrinya yang bersikap seperti itu
"Tenang Dad, aku akan jelaskan semuanya....kita semua duduk dan selesaikan semua ini tanpa ada kekerasan. " kata Anita tenang menatap suaminya
"Biarkan saja Anita, .... Aku terima jika ia akan menghabisi ku sekarang, dan mengakhiri semua penderitaan hati ku." sahut Andi pelan menatap wajah Anita
__ADS_1