
Anita merasa sangat bahagia mendengar ucapan Hendra, ia seolah tak percaya kata-kata tersebut keluar dari mulut Hendra. Anita menatap matanya dan melihat sebuah ketulusan disana, rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
"Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Anita ingin lebih meyakinkan
"Anita, kamu pasti tak percaya namun aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Bantu aku untuk berubah, beri aku waktu untuk belajar menerima mu." ucap lembut Hendra
"Terima kasih atas niat baik mu saat ini, sampai kapanpun aku akan menunggu mu. Tak masalah jika memang tak ada cinta, asalkan kau selalu disampingku, hargai dan perhatikan aku itu sudah cukup untukku." Anita tersenyum bahagia
"Buat aku jatuh cinta padamu, dan buatlah patung es mu ini mencair." pinta Hendra sambil mencium kening Anita
"Bagaimana dengan hati mu, apa kau akan sedikit membukanya untukku. Aku tak mau kau menerima ku karena terpaksa." Anita menatap tajam wajah Hendra
"Aku akan menyimpan seluruh kenangan hatiku di sudut paling dalam, dan menempatkan mu di permukaannya. Namun beri aku waktu, dan bersabarlah." ucap Hendra pelan
"Tapi aku punya sebuah permintaan untuk mu, Anita." lanjut Hendra
"Katakanlah, Hen...Aku rela melakukan apapun demi keluarga kecil kita." jawab Anita tak lepas menatap Hendra
"Anita, aku hanya minta satu hal... Kelak saat aku tiba di ujung takdir ku, ijinkanlah Renata menjadi orang terakhir yang aku lihat di dunia ini. Ini adalah permintaan pertama dan terakhir ku, aku harap kau tidak keberatan." ucap Hendra sangat hati-hati
Anita merasa hatinya berdesir mendengar permintaan Hendra, ia menyadari bahwa sampai kapanpun memang Renata lah pemilik hatinya. Namun ia bisa menerima itu setelah mendengar semua kisah Hendra yang telah ia dengar dari Deni.
"Iya, aku rela jika kelak Renata yang akan ada disisi mu di saat terakhir. Tapi aku berharap saat itu tidak segera tiba, berjanjilah untuk tetap di sampingku dalam waktu yang sangat lama. Kita akan menua bersama..." jawab Anita sambil mengusap pipi Hendra yang basah oleh air mata
Hendra merasa sangat lega telah mengungkapkan perasaan dalam hatinya, dan begitu bahagia atas support Anita padanya. Hendra kini bisa tersenyum bahagia, untuk pertama kalinya patung es itu tersenyum manis untuk Anita.
Anita membalas tersenyum, matanya melirik Hendra dengan mesra dan mencium bibir hangat milik suaminya itu. Hendra jadi salah tingkah menerima serangan manis dari Anita, matanya membulat sempurna namun masih belum membalasnya.
Anita yang belum mendapat balasan jadi semakin agresif, berusaha keras membuka dan menerobos bibir hangat itu. Pertahanan Hendra runtuh juga, ia mulai membalas bahkan mengimbangi permainan Anita.
"Belajarlah mulai dari sekarang..." senyum mesra Anita menggoda Hendra saat melepas bibir hangat itu
###
__ADS_1
Malam itu suasana makan malam di keluarga kecil Renata tampak begitu hangat. Selagi makan mereka saling bercerita dan berbagi kepada setiap anggota keluarga, ngobrol santai penuh canda tawa menambah keharmonisan antar anggota keluarga.
"Ma...weekend besok kita jalan-jalan ya?" tanya kakak pada mama nya
"Iya ma, adek juga pengin jalan-jalan. " rengek si kecil
"Kok bilangnya sama mama, minta dong sama papa, kan boss besarnya papa." senyum Renata melirik Ardian yang sok cuek
"Ayolah pa....boleh ya...?" rengek anak-anak berbarengan
"Ehmmm...gimana ya, oke deh!" jawab Ardian pura-pura mikir dulu
"Horeee ...jalan-jalan..." kakak dan adek kompak berjingkrak riang
Selesai makan Renata mengantar anak-anak ke kamar agar segera istirahat, karena besok harus sekolah pagi. Setelah memastikan anaknya tertidur, ia keluar dan melangkah ke kamarnya. Duduk termenung di tepi ranjang, Renata bahkan tak menyadari suaminya masuk.
"Ada apa sayang, aku lihat kamu sekarang sering termenung sendiri. Ceritakan padaku, apa yang mengganjal di hati mu." Ardian duduk disebelah Renata
"Kenapa, bicaralah..." Ardian menatap lembut Renata yang telah menghadap kepadanya
"Mas, sejujurnya ada satu hal yang belum aku sampaikan ke kamu." ucap Renata ragu
"Apa?" sahut Ardian sabar
"Aku takut kamu akan marah dan kecewa padaku, tapi aku benar-benar tak bisa menahannya lagi." Renata membalas tatapan suaminya
"Katakanlah, apapun itu aku janji akan mendengarkannya." Ardian jadi penasaran
"Mas, bolehkah aku minta satu hal padamu..." ucap Renata dibalas dengan anggukan kepala Ardian
"Kelak jika aku sampai di ujung takdirku, biarkanlah Hendra menemani ku hingga di saat akhir. Aku ingin dia menjadi orang terakhir yang aku lihat." ucapan Renata terdengar bergetar
Ardian tersentak mendengar ucapan Renata, ia benar-benar tak menyangka permintaan Renata akan seperti itu. Hatinya merasa pedih saat mendengar, namun ia tak ingin menunjukkannya.
__ADS_1
"Begitu besarkah perasaan mu padanya?" tanya Ardian pelan mengangkat kepala Renata yang tertunduk
"Mas, setelah ini aku ingin menyimpannya rapat-rapat jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam. Aku akan serahkan seluruh hati dan perasaan ku untukmu dan juga anak-anak. Aku janji akan menjadi istri yang setia hanya padamu dan juga ibu yang baik. Namun aku mohon kabulkan permintaan ku ini, aku telah berjanji pada hatiku." Renata mulai menitikkan air mata
"Meski sangat berat, namun aku akan mencoba memenuhi permintaan mu. Aku relakan dia menemani mu kelak di saat terakhir." jawab Ardian dengan tatapan sendu
"Terima kasih atas pengertian mu, mas." lirih Renata
" Tapi berjanjilah agar saat itu tak segera tiba, aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu hingga kakek dan nenek, aku ingin kamu mendampingi ku selama mungkin dan kita akan menjalani hari tua bersama. " ucap Ardian mengecup kening istrinya dan memeluknya sangat erat
Sesungguhnya di dalam hati Ardian merasa sangat takut kehilangan Renata, ia tak bisa membayangkan jika harus hidup tanpa dia. Hanya Renata lah satu-satunya cinta dalam hidupnya, tak akan ada yang bisa menggantikannya.
"Aku sangat mencintaimu, sayang." tatap dalam Ardian ke mata Renata
Renata membalas tatapan suaminya disertai anggukan kepala, dan tanpa disadari bibir lembutnya telah menyatu dengan bibir hangat Ardian meski hanya sekilas. Ardian tampak tersenyum melihat Renata yang lebih dulu mencuri start darinya.
"Istriku jadi agresif ya..." senyum Ardian menggoda Renata
"Ahh...apaan sih, ya udah nggak jadi deh." sungut Renata yang merona menahan malu
"Kok nggak jadi... ihh, pipi kamu memerah, malu ya." Ardian terus saja menggoda Renata
"Udah ah, lupain aja." Renata ngambek dan hendak melepaskan pelukan suaminya
"Eitss, mau kemana..." Ardian menangkap pinggang Renata dan mendekap nya semakin erat
"Sepertinya satu anak lagi pasti rame ya..." ucap Ardian pelan tersenyum simpul dan menaik turunkan alisnya menggoda Renata
"Nggak ah, aku..." ucapan Renata terpotong karena bibirnya telah dilu mat dengan lembut oleh suaminya
Renata membalasnya dengan lebih menuntut, membuat Ardian makin bersemangat dan yang semula lembut jadi makin panas. Ardian mulai melancarkan serangan lainnya, kini tangannya yang mulai bergerilya di tubuh Renata yang telah berada di bawah kungkungan nya.
Pertempuran panas sepasang suami istri ini berlangsung cukup sengit, entah hingga sampai berapa ronde hingga keduanya terkapar tak berdaya karena kelelahan. Terlelap dalam tidurnya dengan senyum puas di bibir kedua nya, saling memeluk hingga fajar pagi menyambut mereka.
__ADS_1