
Seluruh keluarga terlihat sangat bahagia, senyuman selalu menghiasi wajah mereka. Mumpung keluarga masih berkumpul dan untuk lebih mengenal dekat, Ardian membawa seluruh keluarga untuk piknik ke villa di pinggiran kota tersebut.
Minggu pagi yang cerah, keluarga Ardian dan Renata telah sampai di sebuah villa, pemandangan alam yang indah terhampar di sekeliling tempat tersebut. Semua orang tampak bahagia, namun Renata menyendiri di halaman belakang sambil menatap hijaunya pepohonan.
"Rena, kamu ngapain disini sendirian?" tanya Ardian yang sudah berdiri di sampingnya
"Pantesan tak cari di dalem nggak ada, mereka pada makan -makan enak tuh, kamu nggak ikutan?" lanjut Ardian
Renata hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Matanya tetap memandang hamparan hijau di depannya.
"Rena, kamu kenapa?" Ardian memegang pundak Renata dan membalikkan badannya, kini mereka saling berhadapan.
"Katakanlah Rena, apa yang mengganjal di hati mu?" Ardian mengangkat wajah Renata yang menunduk
"Mas, rasanya ini terlalu cepat, jujur aku belum siap." ucap Renata pelan tanpa berani menatap wajah Ardian
"Rena, percayalah padaku, aku mencintaimu dan akan selalu berusaha membuat kamu bahagia, aku akan selalu ada di samping mu dalam keadaan apapun." Ardian berusaha meyakinkan Renata
Mereka berdua duduk di bangku taman belakang villa, menatap pemandangan nan indah didepannya. Renata menyandarkan kepalanya di dada Ardian, dan tangan kanan Ardian melingkar di pinggang Renata sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan Renata.
Sesekali Ardian mencium kening Renata, hingga membuat Renata merasa nyaman berada di pelukannya. Untuk sejenak hanya ada keheningan di antara mereka.
"Sayang, kemarin waktu kamu ninggalin aku di warung es buah, aku ketemu teman kamu lho." Ucap Ardian yang berusaha memecah keheningan, namun tak disangka malah jadi bumerang baginya.
"Teman, ...teman apa mas?" Renata tiba-tiba menarik tubuhnya
"Teman SMA, namanya Hendra." ucap Ardian tenang
Bagai tersambar petir, detak jantung Renata seakan berhenti seketika. Raut wajahnya berubah menjadi tegang.
"Ren, kamu kenapa?" Ardian terkejut dengan refleks Renata
"Dia ngomong apa,mas?" tanya Renata menatap tajam wajah Ardian
"Nggak ngomong apa-apa, cuma nanya hubungan ku sama kamu." jawab Ardian yang masih bingung dengan reaksi Renata
"Trus kamu ngomong apa, mas?" Renata semakin tegang
"Ya, aku bilang kalo aku adalah calon suami yang malam ini mau melamar mu."
"Mas Ardian kenapa nggak langsung cerita ke aku, kenapa mas baru ngomong sekarang." Renata mulai meneteskan air mata
__ADS_1
"Memangnya kenapa, aku merasa ini bukan hal yang penting untuk segera diceritakan." Ardian tambah bingung
"Mungkin bukan hal penting bagimu, tapi sangat berarti bagiku. Aku menyesal sudah menerima lamaran mu, mas." Renata yang tampak sangat emosi
Karena sudah tak sanggup menahan emosinya, Renata berlari masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Ardian yang masih kebingungan bergegas mengejar Renata, namun telat pintu kamar telah terkunci dari dalam.
"Rena, ada apa sebenarnya...buka pintunya, Ren kita bisa bicarakan baik-baik jangan seperti ini." Ardian mengetuk pintu kamar cukup keras, namun tak ada jawaban dari dalam.
"Nak Ardian ada apa?" tanya Ibu Renata saat melihatnya mengetuk keras pintu kamar.
"Rena, Bu...entah kenapa dia tiba-tiba marah, dan bilang menyesal telah menerima lamaran aku." jelas Ardian
"Memang sebelumnya apa yang kalian bicarakan.?" tanya ibu kelihatan khawatir
"Aku tadi cuma cerita kalo kemarin aku bertemu dengan teman SMA nya, tapi reaksi Renata benar-benar tak terduga begini " jelas Ardian
"Teman SMA,... cowok apa cewek? namanya siapa?" Ibu semakin khawatir
"Cowok Bu, Hendra namanya."
"Apa....oh pantesan Rena jadi begini." Ibu terlihat sedih, kemudian duduk di ruang tengah.
Ardian jadi semakin bingung ketika melihat Ibu Renata menjadi sedih, beliau nampak menahan air matanya agar tidak menetes. Kemudian Ardian mengikuti beliau dan duduk didepannya.
"Hendra adalah masa lalu Renata, yang sampai saat ini belum bisa dilupakan nya. Hubungan mereka terpaksa kandas karena perbedaan keyakinan, namun Renata belum bisa menerima kenyataan dan masih berharap mereka bisa bersama. Mereka berdua memang saling mencintai, dan entah sampai kapan perasaan itu tetap tersimpan di hati mereka." jelas Ibu
"Ibu sudah berulang kali memberi nasehat pada Renata untuk move on, tapi sepertinya cinta mereka memang sangat dalam." lanjut Ibu
Ardian merasa hatinya ditusuk pedang, sakit perih, pedih dan entah apa namanya, yang pasti penjelasan Ibu membuat dadanya sesak. Ia hanya terdiam sambil menahan gejolak di hatinya.
###
Sementara itu Hendra tidak dapat mengendalikan amarahnya, sejak pertemuannya dengan Ardian. Ia bahkan tidak mengerti dengan perasaannya saat ini, ia sangat marah tapi harus marah sama siapa. Siapa yang harus disalahkan, ia kemudian malah benci pada dirinya sendiri.
Malam itu dalam keadaan hatinya yang hancur, marah, emosi, sesal dan remuk menjadi satu, ia tak bisa berfikir lagi. Setelah sekian lama malam itu kembali ia ikut balapan liar, ia ingin melampiaskan semua yang saat ini ia rasakan.
Hendra memacu motornya dengan kecepatan tinggi, pikirannya terbang entah kemana, ia benar-benar tidak fokus. Dan benar saja saat hampir sampai finish disebuah tikungan, ia tidak bisa mengendalikan motornya. Kecelakaan tunggal terjadi padanya, membuat keadaannya sangat serius dan segera dilarikan ke rumah sakit.
"Bagaimana kondisi anak saya, dok?" orang tua Hendra yang sampai di rumah sakit merasa sangat khawatir
"Untuk saat ini pasien belum siuman, kondisinya kritis, kami sedang mengupayakan yang terbaik, bapak ibu berdoa saja." jelas dokter yang tampak tegang
__ADS_1
Dua hari Hendra tak sadarkan diri, ibunya selalu berada di sisinya. Doa tak pernah berhenti dari mulutnya, sambil menatap wajah anaknya air mata terus mengalir.
Orang tua Hendra benar-benar tidak mengerti, kenapa anaknya seperti ini lagi. Padahal akhir-akhir ini dia sudah nampak serius menjalani kuliahnya, hidupnya juga semakin tertata.
"Dokter,....dokter anak saya sudah siuman." teriak ibu ketika melihat Hendra mulai menggerakkan tangannya.
Dokter dan beberapa perawat segera mengecek kondisi Hendra, cukup lama dokter melakukan observasi padanya. Orang tuanya menunggu dengan sangat cemas di luar ruangan ICU.
"Bagaimana dok, kondisi anak saya?" tanya Ibu saat melihat dokter keluar ruangan
"Kondisi pasien saat ini cukup stabil, masa kritisnya sudah lewat. Saya takjub dengan daya tahan tubuhnya yang sangat baik, walaupun sepertinya kondisi psikisnya kurang begitu baik. Saya akan segera memindahkan ke ruang inap biasa dan anda bisa langsung menjenguknya." jelas dokter yang kemudian berlalu meninggalkan ruang ICU tersebut
Setelah berada di ruang inap biasa, kedua orang tua Hendra langsung menghampiri. Mereka tersenyum lega saat melihat anaknya itu sudah membuka matanya, dan sekarang hanya tinggal selang infus di tangannya.
"Hen, bagaimana kondisi mu, nak?" tanya ibu sambil mengelus kepala anaknya
"Baik Bu, Hendra nggak apa-apa kok." jawab Hendra pelan
"Kenapa kamu seperti ini lagi?" tanya Ayah Hendra dengan sedikit emosi.
"Kami kira kamu sudah benar-benar berubah, tapi kenapa jadi begini lagi, apa karena perempuan lagi." lanjut ayah
Hendra hanya terdiam, ia hanya memandang wajah Ayahnya yang sedang marah. Ibu berusaha menenangkan emosi ayah.
"Kamu itu tampang saja yang sangar kayak preman, tapi hati kamu mletre hanya gara-gara perempuan." ucap Ayah sambil berjalan keluar ruangan.
Kini hanya tinggal Hendra dan Ibu di dalam ruangan tersebut. Hendra masih saja terdiam, pandangannya kosong, air matanya mulai meleleh dari kedua kelopak matanya.
"Hendra, cerita pada ibu nak, apa yang terjadi." ucap pelan ibu sambil mengusap kepalanya
"Renata, Bu....dia sudah punya calon suami, kemarin dia dilamar." lirih Hendra
"Sabar nak,...tapi darimana kamu tahu?" tanya ibu
"Kemarin Hendra ketemu langsung dengan calon suaminya, dia sendiri yang bilang kalo malam itu dia akan melamar Renata." dadanya semakin sesak.
"Apa Rena sudah melupakan ku, apa aku sudah tidak ada lagi di hatinya." desahnya pelan
"Hen, kamu tidak bisa bilang begitu, mungkin kamu akan selalu ada di dalam hati Renata. Tapi dia juga harus melanjutkan hidupnya, selama ini kamu tak memberinya kepastian. Perempuan itu butuh kepastian untuk melangkah menuju masa depannya." jelas Ibu lembut
"Jadi, aku yang salah...."
__ADS_1
"Nggak ada yang salah dan benar dalam hubungan kalian ini, mungkin kalian saling mencintai dan ingin selalu bersama, tapi takdir juga yang menentukan. Hidup harus terus berjalan nak, simpanlah rapat-rapat cintamu jauh di dalam lubuk hati, dan pandanglah ke depan. Semua sudah digariskan oleh Tuhan, kita harus berusaha menjalaninya." nasehat Ibu sambil terus mengelus kepala Hendra.