
"Selesai makan langsung tidur ya, jangan main-main lagi besok sekolah, lagipula kasihan nenek pasti capek kalian ajak main terus. Biar nenek juga istirahat. " ucap Ardian pada anaknya saat di meja makan
"Ahh papa...kita kan belum ngantuk, ya kan dek?" sahut kakak beralasan
"He em..." sahut si adek dengan mulut penuh makanan
" Udah nggak usah banyak alasan, ujung-ujungnya besok pagi bangunin nya susah." kata Ardian sambil melirik anaknya
"Sudah-sudah, jangan dibuat ribut...habis makan main sebentar saja, terus tidur dan besok pagi harus janji bangunnya nggak boleh kesiangan." sahut Renata menengahi diikuti senyuman dari Ibunya yang menyaksikan perdebatan itu
Selesai makan malam kedua anaknya bersama sang nenek masuk ke kamar, sedang Ardian menyalakan tv di ruang tengah. Renata membantu bibi membereskan urusan dapur, kemudian menyusul Ardian ke ruang tengah.
"Nah, lagi kan dasar bandel...sudah dibilang kalo nggak di tonton ngapain nyalain tv." sungut Renata saat melihat Ardian asyik dengan ponselnya
"Ditonton sayang...itu kan baru iklan." sahut Ardian mencubit gemas pipi Renata yang telah duduk disebelah nya
"Aduh, sakit tahu....udah berani kdrt ya." ucap Renata cemberut sambil mengusap pipinya
"Maaf, sayang...kamu lebay banget sih, kalo gini sakit nggak. " jawab Ardian gemas kemudian menciumi pipi dan wajah istrinya
Ting..
Renata tak merespon perlakuan suaminya karena bersamaan itu terdengar notifikasi pesan di ponselnya, ia pun langsung membuka dan membacanya. Renata tampak tersenyum bahagia saat membaca pesan tersebut yang ternyata dari Anita.
"Rena, aku punya kabar gembira...Hendra ku sudah ketemu, dan bahkan saat ini sudah pulang ke rumah. " pesan dari Anita
"Syukurlah, aku ikut senang...ceritakan padaku bagaimana ia di temukan dan kondisinya saat ini." tulus Renata
Setelah membalas pesan, ternyata Anita langsung menghubunginya. Ia lalu mulai bercerita awal Hendra ditemukan, saat Dokter Arya mendapat informasi dari seorang suster. Hingga akhirnya mendatangi lokasi yang dimaksud dan memastikan bahwa itu benar Hendra.
"Ternyata firasat kamu benar Rena, sebuah keluarga sederhana telah menemukannya dan merawatnya dengan tulus meskipun saat itu Hendra sempat koma untuk beberapa minggu." ucap Anita diujung ponsel
__ADS_1
"Sungguh baik sekali keluarga tersebut, kamu harus berterima kasih kepada mereka." sahut Renata
"Iya, Ren...aku dan Hendra juga berencana mengundang mereka ke rumah, sekalian liburan buat mereka yang belum pernah sama sekali ke ibukota. " jawab Anita
"Rencana yang bagus Anita,...oh ya sampaikan salam ku buat Hendra, semoga dia lekas pulih." ucap Renata kemudian
"Apa kamu nggak mau ngomong langsung, biar aku berikan ponselnya ke Hendra, dia sedang berbaring di kamar." kata Anita menawarkan
"Nggak usah Anita, mendengar dia sudah kembali dalam keadaan baik sudah membuatku ikut bahagia, kami akan tetap memegang komitmen yang telah dibuat." ucap Renata merasa nggak enak hati
"Rena, jangan terlalu berlebihan begitu, aku nggak apa-apa kok, aku percaya padamu dan bukankah kita sekarang berteman baik." ucap Anita
"Iya Anita, justru aku ingin hubungan kita ini tetap baik sampai kapanpun, dan terima kasih sudah menjaga dan mencintai dia dengan tulus. Aku ingin kedua keluarga kecil kita ini selalu bahagia dan tak saling menyakiti." kata Renata yang telah mengikhlaskan perasaannya
"Tentu saja Rena, aku bahkan telah ikhlas menerima bahwa kamu memang pemilik hatinya, tapi jiwa dan raganya saat ini hingga nanti adalah milikku." sahut Anita tulus
"Baiklah Anita, sampai ketemu lagi." ucap Renata diakhir pembicaraan
Ardian yang sejak tadi berada di sebelah Renata, mendengarkan dengan seksama pembicaraan dua wanita lewat ponsel itu.
Ardian dengan jelas bisa mendengar percakapan mereka karena Renata sengaja menyalakan speaker nya.
"Sayang,...kok bisa sih kalian rukun begitu?" tanya Ardian setelah Renata menutup ponselnya
"Ya bisa lah, emang aneh ya." sahut Renata tersenyum melihat wajah Ardian yang nampak heran
"Aneh sih menurutku, secara kalian ini kan saingan....tapi beruntung banget ya si dingin itu, ada dua wanita baik yang memperhatikan nya." ucap Ardian sewot
"Nggak lah mas, masak saingan...aku kan hanya masa lalunya sedang Anita adalah kehidupannya sekarang dan nanti. Dan jangan menyebutnya si dingin, dia punya nama, aku akan sangat bahagia jika kamu juga bisa berteman dengannya." jelas Renata menatap wajah suaminya
"Cukup, nggak usah diperpanjang lagi....maaf kalo aku belum bisa memenuhi keinginan mu, kamu pasti tahu apa yang aku rasakan." sahut Ardian dengan raut wajah muram
__ADS_1
"Iya Mas, aku ngerti ....mukanya kok jadi jutek begitu." Renata mencoba mencairkan keadaan
"Habis secara nggak langsung kamu baru saja mengingatnya kembali, nggak peduli apa sama perasaan ku." ucap Ardian yang jadi bad mood
"Maaf mas, aku kan cuma bersimpati...dia nyaris tewas karena luka tembak dan hanyut ke sungai, beruntung ada keluarga yang menemukan dan merawatnya yang sempat koma untuk beberapa minggu. " cerita Renata tanpa diminta
"Ya iyalah dia nggak akan mati disana apalagi dalam status hilang, nyawanya jadi rangkap ..." ketus Ardian
"Kok ngomongnya gitu, maksudnya apa?" tanya Renata merasa aneh dengan jawaban Ardian
"Aku yakin dalam koma nya, dia selalu menyebut namamu...dia pasti bertahan hidup karena jika dia mati disana maka kamu tak akan bisa menepati janjimu padanya." jawab Ardian yang kini semakin meninggi nada bicaranya
"Mas, kenapa jadi mengungkit masalah itu, aku tahu kamu pasti akan merasa sangat tersakiti. Maafkan aku jika kembali membuka luka di hatimu, aku harap kamu bisa ikhlas seperti halnya Anita." ucap Renata memeluk lengan Ardian mencoba menenangkan
"Anita mungkin bisa, tapi tidak denganku...jujur tiap kali kamu bicara tentang dia atau bahkan menyebut namanya, hati aku merasa sakit. Meski aku percaya padamu tapi sampai kapanpun aku tak pernah bisa mempercayai nya." kata Ardian yang kini suasana hatinya jadi tidak baik-baik, menatap tajam wajah istrinya
"Iya sudah jangan dibahas lagi, aku akan berusaha keras untuk selalu menjaga hatimu." ucap Renata mencoba tenang dan bersikap lembut pada suaminya
"Aku sangat mencintaimu dan sedikitpun aku tak ingin berbagi hati dengan yang lain." Ardian menatap mata Renata dan memegang kedua bahunya, tapi kemudian tiba-tiba ia menunduk
"Ada apa mas, aku juga mencintaimu dan aku mohon ingatkan aku jika mulai menyakiti hatimu." ucap Renata heran karena tiba-tiba Ardian menundukkan kepalanya
"Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami dan juga ayah yang baik." sahut Ardian memalingkan pandangannya
"Mas apa maksudmu, bagiku kamu adalah suami terbaik ku , paling pengertian dan paling setia, aku percaya padamu dan..." ucapan Renata terhenti saat raut Ardian berubah
"Cukup Rena,....aku ngantuk mau tidur. " ucap datar Ardian dan bangkit dari duduknya
"Mas , apa aku salah bicara?" tanya Renata bingung
"Tidak." singkat Ardian yang berjalan masuk ke kamar
__ADS_1