
"Ooo, kau menantang ku rupanya..." sahut Hendra yang langsung melayangkan bogem mentah ke arah Andi
"Dad, tolong hentikan...." Anita berusaha menarik tubuh Hendra sementara Arya hanya berdiri terpaku melihat ekspresi wajah dari ketiga orang di depannya
"Cukup,....hentikan." Anita menjadikan tubuhnya tameng dengan berdiri di depan Andi yang masih tersungkur di lantai
"Mom, apa yang kau lakukan....apa kau sudah hilang akal." sahut Hendra yang masih emosi
"Dad, aku mohon hentikan...aku akan jelaskan semuanya, duduklah aku mohon..." ucap Anita memeluk lengan suaminya berusaha menenangkan
"Hen, mungkin ada benarnya kita dengar dulu penjelasan Anita. " sahut Arya yang terlebih dulu duduk
Hendra yang melihat ke arah Arya akhirnya menyingkir dari hadapan Andi dan ikut duduk di sebelah Arya. Namun amarahnya kembali meluap saat menyaksikan Anita yang malah begitu perhatian dan membantu Andi untuk bangkit dari lantai dan duduk di kursi.
"Andi, ayo berdirilah dan duduk di kursi..." Anita membantu Andi untuk bangkit
"Mom..." Hendra merasa tak senang dengan sikap Anita pada Andi, namun Arya segera menahan tangan Hendra untuk membiarkan saja
Kini mereka berempat telah duduk di kursi, namun suasana menjadi sangat hening karena semuanya masih terdiam. Hendra walau diam tapi masih tampak amarah di wajahnya, Arya jauh lebih bisa bersikap tenang.
"Dad, Andi sudah menceritakan semuanya..." kata Anita pelan mulai membuka pembicaraan
"Memang apa yang di katakan nya?" tanya Hendra ketus
"Iya, Andi telah mengakui bahwa dia lah yang mengirimkan bunga tiap tahun untukku. Dan aku juga sudah bisa mengingat siapa Andi, aku bertemu dengannya hampir enam tahun yang lalu menjelang pernikahan kita." jawab Anita
Kemudian Anita pun melanjutkan penjelasannya sesuai seperti yang dikatakan oleh Andi. Arya hanya mengerutkan keningnya saat Hendra terlihat begitu jelas sedang menahan amarahnya tapi tetap tenang.
Anita yang sedang memberikan penjelasan tak menyadari jika sejak tadi Andi terus saja menatap ke arahnya, Arya dan Hendra tahu jika Andi terus menatap Anita. Arya mulai khawatir jika sikap Andi itu akan membuat Hendra murka, namun entah mengapa Hendra hanya diam tak bereaksi.
__ADS_1
"Apa kau percaya semua ucapannya?" tanya Hendra datar tanpa ekspresi
"Awalnya aku tak percaya, namun ia bisa meyakinkan aku jika urusan pribadinya tak ada hubungannya dengan bisnis." jawab Anita
"Ooo, begitu...aku tak peduli dengan urusan pribadinya, aku hanya ingin tahu untuk siapa kau bekerja, siapa orang di balik upaya sabotase mu itu." ucap tegas Hendra menatap ke arah Andi
"Aku akan katakan semuanya, dan bahkan aku akan tinggalkan semua ini jika kau biarkan Anita bersamaku..." kata Andi tenang
"Dasar breng sek....kau bilang profesional, tak mencampur urusan perasaan dengan pekerjaan, lalu apa ini...." sahut Hendra mulai emosi lagi
"Tenanglah Hen, kendalikan emosi mu...." kata Arya menepuk bahu Hendra
"Andi, aku mohon selesaikan urusan bisnis dan pekerjaan kalian, katakan semuanya pada Hendra. Untuk urusan yang lain kita akan bicarakan lagi..." ucap Anita menatap wajah Andi dengan tenang
"Anita, apapun kata mu akan ku lakukan..." sahut Andi menatap lembut mata Anita
Hendra yang menyaksikan Anita dan Andi saling menatap merasa sangat tak senang, entah mengapa pikirannya malah flash back ke masa saat Andi menyatakan perasaannya pada Renata dulu. Semuanya seakan melintas kembali di hadapannya, apalagi saat menyaksikan kemesraan Andi dan Renata yang sempat berpacaran.
"Fokuslah, kita selesaikan dulu urusan bisnis si boss..." ucap Arya mengingatkan
"Katakan, siapa orang di balik kamu..." ujar Hendra kembali fokus
"Kenapa, Hen...kau teringat bagaimana aku dulu juga mengambil alih cinta mu?" tanya Andi tersenyum simpul
"Tutup mulut mu,... cepat katakan." sahut Hendra keras
"Dia juga bagian dari masa lalu mu Hen,...apa kamu ingat orang yang pernah menghantam mu saat duel dengan ku, dan kau sempat melaporkan nya ke polisi meski akhirnya kau mencabut laporan tersebut. " kata Andi tenang
"Iwan..." pelan Hendra setelah mengingat kembali kejadian di masa lalunya
__ADS_1
"Iya Iwan, ....ia yang mengambil alih bisnis pamannya, yang tak lain adalah seteru boss kamu. Aku datang ke sini pada awalnya memang di minta oleh Iwan, namun saat aku bercerita bahwa kamu adalah pria yang menikah dengan wanita yang membuat ku membuka hati kembali, yang kebetulan juga ada hubungan dengan boss mu maka ia mulai merencanakan penyusupan ku." jelas Andi
"Jadi kalian juga yang merencanakan insiden di pulau X itu?" tanya Hendra kemudian
"Tidak, untuk insiden itu kami benar-benar tak tahu....Fokus kami hanya menghancurkan bisnis boss mu dan mengambil alih pasar." jawab Andi menjelaskan
"Aku sudah mengatakan semuanya,...dan sekarang katakan bahwa kamu akan melepas Anita untuk ku." kata Andi serius membuat Anita terperanjat dan spontan menatap tajam ke arah Andi
"Andi hentikan,...aku sudah bilang bahwa sampai kapan pun aku akan selalu bersama Hendra." sahut Anita kemudian
"Kamu sudah mendengarnya sendiri, tak perlu aku katakan lagi..." susul ucap Hendra datar
"Dulu Renata saja bisa kau serahkan padaku,...apalagi kini cuma Anita yang pada dasarnya tak pernah kau cintai." ucapan Andi membuat Anita sekali lagi terperanjat dan kini menatap wajah suaminya yang duduk terdiam
"Aku sangat mencintai Anita, saat pertama kali bertemu dengannya aku langsung jatuh cinta padanya, namun saat itu pula ia harus menikah dengan mu yang sama sekali tak pernah menganggapnya ada." lanjut ucap Andi membuat hati Hendra merasa tergelitik
"Dad, ....katakan sesuatu, aku mohon." Anita menatap wajah suaminya sambil berkaca-kaca
"Arya, kita segera selesaikan masalah ini sebelum si boss marah." ucap Hendra mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Arya pergi
"Hen, tapi urusan Anita..." sahut Arya men gingatkan
"Aku selesaikan setelah urusan pekerjaan beres." ucap Hendra bangkit dan bergegas pergi diikuti Arya
Anita menumpahkan air matanya yang sejak tadi di tahannya, ia sangat kecewa dengan sikap Hendra yang malah meninggalkan nya begitu saja. Ia merasa hati dan perasaannya bukan masalah penting bagi Hendra, dan mengabaikan nya tanpa berkata apapun.
"Kini kau bisa berfikir lagi, apa pria itu masih ingin kau pertahankan?" ucap Andi mendekati Anita dan memberikan sapu tangannya
"Apa aku sedikit pun tak pernah berarti untuknya?" lirih Anita merasakan sakit di hatinya
__ADS_1
"Anita, jangan terus berkorban perasaan demi dia....kini saatnya kamu merasakan cinta seutuhnya, hiduplah bersamaku Anita...tak akan ku biarkan air mata mu menetes lagi." ucap lembut Andi menatap wajah Anita dan menggenggam erat tangannya
"Tapi aku sangat mencintai suami ku, ...hanya dia satu-satunya pria di hati ku." lirih Anita sambil menghapus air mata dengan sapu tangan dari Andi