Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Warning!!


__ADS_3

"Sudah sore, Hen... pulang yuk"


"Tapi aku belum ingin melepaskan mu,.."


"Udah dong kan masih banyak waktu"


"Rena,...satu hari satu kali ya." rajuk Hendra tanpa melepaskan tangannya.


"Jontor dong,..."jawab Renata sambil tersenyum dan mencoba melepaskan diri dari dekapan Hendra.


"Ayolah, boleh ya..." Hendra terus saja merajuk.


"Kalo ntar nilai kamu lebih tinggi dariku, terserah ...."


"Oke siapa takut, janji ya awas aja kalo ngeles." ucap Hendra yang kemudian menggandeng tangan Renata keluar dari ruangan dan bergegas pulang.


###


Waktu ujian hampir tiba, suasana belajar makin serius. Begitupun dengan Hendra dan Renata yang mengurangi frekuensi pertemuannya.


Dirumahnya pun Renata sibuk dengan buku-bukunya. Sejenak ia melupakan romansa cintanya dengan Hendra, untuk fokus pada ujian.


Tanpa disadari Renata selama ini Ibunya mengetahui hubungannya dengan Hendra. Beliau mencari tahu semua tentang Hendra, hingga suatu sore mendatanginya.


"Apa kamu , Hendra?" tanya Ibu Renata.


"Iya, maaf Ibu ini siapa?" Hendra memang belum pernah melihat Ibu Renata.


"Aku Ibunya Renata, aku harus bicara sama kamu."


"Oh iya, maafkan saya belum mengenal Ibu."


"Saya peringatkan kamu untuk menjauhi Renata" ucap beliau tiba-tiba.


"Maaf, kenapa saya harus menjauhinya." tanya Hendra kaget


"Kamu dan Renata itu beda, kalian tidak bisa bersama. Kamu tahu kan perbedaan keyakinan itu hal paling prinsip, mustahil untuk disatukan."


"Tapi saya sangat menyayangi Renata."


"Justru itu kamu harus menjauhinya, apa kamu ingin dia terluka, mumpung perasaan kalian belum terlalu dalam mulailah menjaga jarak dengannya. Pikirkanlah kata-kata ku, ini demi kebaikan Renata, aku tidak mau anakku mengalami sakit hati yang dalam."


"Kalo kamu memang menyayangi Renata, pikirkan ini baik-baik." ucap Ibu Renata sekali lagi.


"Tolong jangan bilang Renata kalo aku menemuimu." pesan Ibu Renata sambil berjalan meninggalkannya.


Setelah kepergian Ibu Renata, Hendra terdiam tanpa bergeser dari tempatnya. Seperti petir yang menyambar, ucapan beliau membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.


Bagaimana dia bisa menjauhi Renata, bahkan sedetik pun ia tak bisa melupakannya. Dia sadar kalo keyakinan mereka memang berbeda, tapi apakah salah kalo dia mencintai Renata.


Peringatan dari Ibu Renata terus mengiang di telinganya, pikirannya benar-benar kacau. Konsentrasi nya untuk ujian ambyar sudah, hatinya sangat hancur kalo harus menjauhi Renata.


"Demi kamu akan ku hancurkan hatiku, ..."


"Demi kamu akan ku bunuh perasaan ku,..."


"Renata.... cinta ku."

__ADS_1


###


Seminggu yang penuh ketegangan telah berlalu, ujian akhirnya telah usai, kini hanya tinggal kecemasan menanti hasilnya.


Renata baru sadar kalo ia sangat rindu pada Hendra, maklum selama persiapan sampai selesai ujian ia jarang sekali bertemu dengannya.


Hari itu ia mencoba mencarinya, di kelas tak ada, di kantin juga tak ada kemana lagi dia. Renata benar-benar tidak tahu keberadaan Hendra.


"Den, Hendra kemana sih kok gak kelihatan?" tanya Renata


"Nggak masuk, Ren. sejak selesai ujian dia seperti malas berangkat ke sekolah."


"Kenapa, apa ada masalah?"


"Lha kamu kan pacarnya, harusnya kamu yang tahu kan."


Benar kata Deni, aku pacarnya tapi kenapa aku tidak tahu kabarnya, pacar macam apa aku ini. Tapi biasanya dia selalu menemuiku, bahkan tak pernah melewatkan satu hari pun. Kini hampir dua minggu, apa dia tidak merindukan aku.


Besoknya saat melihat Hendra, Renata langsung bergegas menemuinya.


''Hendra, tunggu." Renata meraih tangan Hendra yang akan berlalu


"Kemana saja sih, kok gak pernah menemuiku?"


"Maaf, Ren aku ada urusan penting" ucap Hendra sambil meninggalkan Renata


Renata benar-benar tidak mengerti dengan sikap Hendra hari ini, besok , lusa dan hari - hari berikutnya.Entah sudah berapa lama Hendra selalu menghindar darinya.


Renata sengaja mencegat Hendra, ia harus tahu ada apa sebenarnya.


"Mau bicara apa?"


"Kenapa kamu menghindar dari aku?"


"Nggak apa-apa..."


"Apa kamu gak rindu padaku? "


"Sangat rindu..."


"Trus kalo rindu kenapa nggak kau temui aku?"


"Aku nggak bisa..."


"Hen, kamu ini kenapa sih, tolong jangan seperti ini." rengek Renata yang kini telah mengalir air matanya.


Hendra melihat Renata menangis, dia benar-benar hancur melihatnya. Tapi dia tak kuasa menghapusnya.


"Maaf Ren, aku harus pergi..."


"Pergi kemana,..aku belum selesai bicara Hen..." ucap Renata yang masih terisak.


"Aku masih ada urusan, selamat tinggal." Hendra melepas tangan Renata dan berlalu meninggalkannya.


"Selamat tinggal" kata apa itu, Renata heran dengan ucapan Hendra, dia tak pernah seperti ini.


Perlahan ia mulai menghapus air matanya. Ada apa sebenarnya, Renata benar-benar bingung.

__ADS_1


"Melamun lagi ..." ucapan Deni mengejutkannya.


"Ngagetin aja kamu,...Den, sebenarnya Hendra ada urusan apa sih."


"Urusan...., ooo masalah sama Iwan kemarin lho. Kasusnya kan sedang diproses di kantor polisi, jadi dia harus bolak-balik untuk dimintai keterangan."


''Syukurlah, kalo memang tentang urusan itu,...aku sempat mikir yang nggak-nggak."


"Emang kamu pikir urusan apalagi?"


"Entahlah, aku merasa akhir-akhir ini sikap dia aneh."


"Aneh bagaimana maksudnya?" tanya Deni heran.


"Dia selalu menghindar dari aku, seperti ingin menjauhiku."


"Masak sih, perasaan kamu aja. Yang aku tahu memang dia lagi sibuk sama kasusnya itu."


"Tapi perasaanku bilang seperti ada sesuatu yang lain, tapi entah apa. Den, apa dia nggak pernah cerita apapun ke kamu?" tanya Renata.


"Nggak pernah sih, jujur aja akhir-akhir ini aku juga jarang nongkrong sama dia."


Renata masih gelisah dengan perasaannya, ia merasa ada yang aneh dari sikap Hendra.


###


Siang itu entah sudah berapa kali, Hendra mendatangi kantor polisi. Kasusnya dengan Iwan memang sedang dalam proses penyelidikan. Sebenarnya dia merasa capek, entah sampai kapan selesainya.


Tak disangka hari itu dia bertemu Andi, yang juga sedang di mintai keterangan oleh polisi.


"Andi, bisa bicara sebentar?" tanya Hendra ketika mereka akan keluar pada kantor polisi.


"Tentu saja." Jawab Andi cepat.


"Kita bicara di sana saja ya." ucap Hendra sambil menunjuk sebuah kedai di seberang jalan.


"Ndi, apa kamu masih menyukai Renata?" pertanyaan Hendra hampir saja membuatnya tersedak.


"Apa maksudmu?"


"Jawab saja, Ndi aku hanya ingin tau." desak Hendra.


"Sejujurnya sejak berkenalan dengannya, aku sudah suka. Hampir tiap hari bertemu di dalam bis, tapi waktu itu aku belum berani mendekatinya. Dia yang cantik, ramah, nggak sombong dan selalu ceria. Renata...., tapi sayangnya dia lebih memilih kamu." Andi berhenti untuk menyeruput kopinya.


"Maukah kau menjaganya untukku." ucapan Hendra kali ini benar-benar membuat Andi tersedak.


"Apa maksudmu, apa kamu sedang mabuk?" jawab Andi keras.


"Aku percaya padamu, kamu cowok yang baik, aku yakin kamu bisa menjaganya dengan baik." lanjut Hendra.


"Tunggu dulu, jelaskan padaku sebenarnya ada apa?" Andi sangat bingung mendengarnya.


"Aku titipkan Renata pada mu, tolong jagalah dia baik-baik." pinta Hendra sebelum bangkit dari kursinya.


"Dan untuk kasus Iwan, aku ingin mencabut tuntutan ku." tambah Hendra yang bergegas pergi meninggalkan Andi yang masih tampak kebingungan.


"Tapi ,Hen....tunggu...."

__ADS_1


__ADS_2