Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Inikah akhirnya


__ADS_3

"Aku sangat kecewa padamu, Hendra." ucap si boss berjalan mendekati Hendra


"Kamu sudah lama ikut denganku, pekerjaan mu selama ini tak pernah mengecewakan. Aku sudah menganggap mu seperti keluargaku sendiri." si boss mengambil kursi dan duduk didepan Hendra


"Lalu kenapa kini kau membangkang padaku, asalkan kamu tahu semua ini aku lakukan demi kebaikan mu juga. Aku tak ingin melihat mu terus sendirian dan kesepian. " ucap si boss


"Tapi aku ingin terus sendiri, boss." ucap pelan Hendra


"Hendra, aku tidak tahu bagaimana masa lalumu hingga membuat mu begini, namun setidaknya pikirkan masa depan, apa kamu tak ingin punya penerus." nasehat si boss


"Terima saja semua ini sebagai takdir, jangan malah melawan nya. Untuk malam ini renungkanlah kembali, dan besok pernikahan mu akan dilangsungkan. Aku harap kamu tak mengecewakan aku lagi." ucap si boss kemudian berjalan keluar meninggalkan Hendra sendiri


Malam ini dilewati Hendra dengan duduk terikat dalam sebuah kamar sendirian. Ia tertunduk lesu namun tak tertidur, hati dan perasaannya menangis meratapi takdirnya. Inikah akhirnya, ia harus menikahi wanita yang sama sekali tak diinginkannya.


Hendra membuka matanya ketika mendengar suara pintu terbuka, Anita masuk membawa makan pagi untuknya. Ia melihat Anita telah memakai gaun putih yang lebih mirip seperti gaun pengantin.


"Selamat pagi , Hendra..." ucap Anita kemudian duduk berhadapan dengannya


"Aku bawakan sarapan untukmu, makanlah dulu." ucap pelan Anita


"Aku tidak lapar, pergilah." suara Hendra terdengar sangat lemah


"Hen, aku tak sanggup melihat mu seperti ini. Kenapa kamu harus memberontak begini, terimalah pernikahan ini aku mohon." ucap Anita yang menatap tajam wajah Hendra


"Aku benar-benar tidak menginginkan nya, Anita." jawab Hendra cepat


"Apa yang kurang dariku, Hen...hingga kau menolakku seperti ini?" tanya pedih Anita


"Tidak ada Anita, justru kamu itu wanita yang baik tak seharusnya menderita nantinya." jawab Hendra

__ADS_1


"Bagaimana kamu yakin kalo aku akan menderita, aku mencintaimu dan aku menginginkan mu. Aku ingin selamanya berada di samping mu, terserah apa perlakuan mu nanti padaku, aku akan menerimanya. " air mata Anita mulai menetes


"Aku pastikan untuk selamanya aku tidak bisa mencintaimu." ucap pelan Hendra


"Tak masalah bagiku, meskipun setelah menikah nanti kau tak pernah menganggapku sebagai istri mu sekalipun, aku rela dan aku akan tetap bertahan demi cintaku padamu. Aku janji tak akan pernah memaksakan perasaan mu padaku, tetaplah hidup bersama cintamu sendiri." janji Anita meski hatinya perih


"Apa aku bisa pegang janjimu itu." Hendra mulai melunak


"Iya Hen, itu janjiku padamu." lirih Anita sambil menyeka air matanya


"Baiklah aku akan terima pernikahan ini, jangan sampai kau ingkari ucapan mu itu." pasrah Hendra


"Terima kasih, Hendra ...sekarang makanlah dulu, buka mulut mu." Anita mencoba sedikit tersenyum


Hendra membuka mulutnya dan menerima suapan dari Anita, namun hanya untuk beberapa suapan saja. Kemudian Anita mengambil minum untuknya dan membantunya dengan sabar, tak lupa ia juga mengelap mulut Hendra dengan tangannya yang lembut.


"Aku akan bilang pada paman kalo kamu telah siap menikah. Beberapa orang akan melepas ikatan mu dan membantu mu bersiap-siap. " ucap Anita kemudian berjalan meninggalkan Hendra


Setelah membersihkan diri, Hendra dengan dibantu oleh pria tersebut telah selesai bersiap. Hendra tampak gagah dan ganteng dengan setelan tuxedo warna hitam, hanya saja tak ada senyum di wajahnya.


###


Acara telah berlangsung tanpa ada sedikitpun senyum di wajah Hendra, raut wajahnya terlihat sangat dingin lebih seperti patung es. Kini Hendra dan Anita telah resmi sebagai sepasang suami istri, meski hanya di atas kertas.


Acara tersebut memang tak dihadiri banyak orang, namun Hendra yang tidak suka keramaian tetap saja merasa tak nyaman. Ia segera pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa mempedulikan Anita.


Hati dan perasaannya sangat kacau batinnya menangis, Hendra kini menyendiri di tempat biasa ia menenangkan pikirannya. Sebuah tempat yang luas dikelilingi pepohonan yang menjulang tinggi dengan sebuah danau kecil di tengahnya.


Hendra berteriak sekerasnya untuk melegakan rasa sesak di dadanya. Air matanya di biarkan menitik, seorang sedingin, sekeras dan se sadis dia kini sedang terisak merasakan perih di dalam hatinya.

__ADS_1


"Rena...seandainya kamu ada disini...saat ini aku benar-benar membutuhkan mu. Maafkan aku Rena...Aku telah mengingkari janjiku pada diriku sendiri, untuk tetap bertahan dalam kesendirian." lirih Hendra yang kembali mengenang pemilik hatinya


"Aku pastikan hati dan cintaku tetap untuk mu, selamanya hanya untukmu hingga jantungku berhenti berdetak dan nafasku berhenti berhembus." lanjut lirihnya


Hendra terkulai lemah, tak sanggup menanggung beban berat di hatinya. Ia duduk bersandar pada sebuah pohon besar, matanya kosong menatap ke depan. Cukup lama Hendra berdiam ditempat tersebut, hingga saat senja telah digantikan malam.


Mobil yang dikendarai Hendra berjalan cukup pelan tidak seperti biasanya, butuh waktu lama untuk akhirnya tiba di rumah. Setelah memarkirkan mobil Hendra berjalan lunglai masuk ke rumah.


"Kamu sudah kembali Hendra,..." ternyata Anita telah berada di dalam rumah


"Ngapain kamu di sini , Anita?" tanya Hendra terkejut


"Aku kan istri mu tentu saja mulai sekarang aku akan tinggal disini bersamamu. " jawab Anita mendekati Hendra


" Stop...jangan mendekat. Seharusnya kamu tetap tinggal di rumah mu sendiri. Pernikahan ini kan hanya formalitas saja. " cegah Hendra


"Trus apa kata paman nanti kalo tau kita tinggal terpisah, dia pasti sangat murka karena tahu kamu hanya mengelabui nya saja," ucap Anita kemudian


"Terus saja bawa si boss untuk memojokkan aku,...terserah padamu kalo ingin tinggal disini. Tapi ingat jangan sekalipun kau mendekati ku, tetaplah menjaga jarak dariku. Dan jangan pernah mencampuri urusan pribadi ku, meskipun serumah anggap saja kau tak mengenalku." tegas Hendra sambil berjalan menuju kamarnya


Anita tertunduk dan terdiam membisu, ia tak ingin berdebat dengan Hendra, ia tahu jika ia membantah ucapan nya maka emosi Hendra bisa di luar kendali.


"Anitaaaa...." teriak keras Hendra


"Ya..." Anita masuk ke kamar tempat suara teriakan Hendra berasal


"Apa-apaan ini, cepat keluarkan semua barang mu dari sini, carilah kamar yang lain." bentak kasar Hendra sambil membuang pakaian dan tas Anita


Anita bersimpuh memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, air matanya menetes menerima perlakuan kasar Hendra. Namun ia berusaha tegar, ini baru hari pertamanya dirumah ini masih panjang dan banyak perlakuan kasar lainnya yang akan ia terima.

__ADS_1


Hendra bergegas menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Anita, ia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Anita di rumahnya. Ia tak bisa membayangkan jika tiap hari harus bertemu dan memandang wajah Anita, bisa-bisa hipertensi dia.


__ADS_2