Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Secepatnya


__ADS_3

Hari ini dokter Arya tiba di klinik nya agak kesiangan, ia terlalu pulas tidur karena tubuhnya terasa sangat letih setelah semalam mengantar Hendra pulang ke rumahnya. Saat baru saja memasuki ruangannya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


"Masuk..." sahut Arya kemudian duduk di sofa yang ada di ruangannya


"Tuan Arya baru datang ya, saya pikir nggak akan datang hari ini." ucap Dina saat masuk ruangan dan berdiri di depan pintu


"Kenapa berdiri di sana, duduklah disini..." kata Arya sambil menepuk sofa agar Dina duduk di sebelahnya


Dina melangkah mendekat dan duduk dengan ragu-ragu di sebelah Arya. Ia tertunduk malu karena Arya terus memandangi wajahnya, ia merasa jantungnya berdebar sangat kencang saat tanpa diduga Arya meraih tangannya.


"Kenapa memangnya, apa kau sudah sangat rindu padaku?" tanya Arya sambil memegang tangan Dina


"Sa...saya hanya khawatir, tak biasanya tuan datang kesiangan, saya kira tuan sakit karena kelelahan setelah perjalanan dari luar kota kemarin." jawab Dina masih menunduk


"Jadi cuma khawatir, nggak rindu setelah 3 hari tak bertemu..." kata Arya sambil mengangkat wajah Dina hingga kini keduanya saling menatap


"Seperti aku bilang kemarin, saat ini aku menanti jawaban mu..." lanjut kata Arya terus menatap lembut wajah Dina


"Ahh tuan, saya...saya nggak tau harus berkata apa?" lirih Dina menundukkan lagi kepalanya


"Kenapa menunduk, tatap mataku dan katakan isi hatimu padaku...aku ingin semua jelas." ucap Arya mengangkat lagi wajah Dina


"Sa...saya..." Dina tak jadi meneruskan ucapannya


"Kenapa begitu sulit kamu berkata, apa sangat sulit buat mu untuk melupakan pria dingin itu dan membuka hatimu padaku..." ucap Arya merasa sangat tak sabar


"Bukan begitu tuan, saya..." Dina sangat ragu hingga berhenti lagi berkata


"Sudahlah, kalo memang tak sedikitpun ada perasaan untukku biarkan aku mundur saja, anggap saja kau tak pernah mengenalku..." ujar Arya yang merasa kecewa dan hendak bangkit dari duduknya


"Tuan...jangan pergi, saya..." Dina dengan cepat menahan Arya dengan dua tangan yang ia letakkan didada Arya hingga membuatnya terduduk kembali

__ADS_1


Arya kaget saat Dina menahannya hingga terduduk kembali dan bersandar di sofa, sementara karena tak hati-hati Dina terjatuh diatas tubuh Arya. Kini posisi Arya setengah terbaring bersandar di sofa sedang Dina berada diatasnya, keduanya bisa saling merasakan detak jantung masing-masing.


"Apa yang ingin kau ucapkan?" tanya Arya pelan menatap wajah Dina yang sangat dekat dengannya


"Saya...saya cinta pada tuan Arya." lirih Dina yang wajahnya jadi merah merona menahan malu


"Benarkah..." Arya memastikan dengan suara lirih diikuti anggukan kepala Dina


Arya tersenyum bahagia mendengar ucapan Dina, akhirnya ia merasa sangat lega setelah usaha dan penantiannya selama ini. Tanpa disadari bibir Arya telah meraup bibir lembut yang ada didepannya, Dina kaget namun hanya terdiam tak menolak tapi juga tak membalasnya. Ia merasa sangat bingung, karena ini untuk pertama kalinya ia dicium oleh seorang pria.


Arya tersenyum melihat reaksi Dina, ia sepertinya mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Dina dan mengerti juga kalo ini first kiss nya. Arya kembali meraupkan bibirnya dan dengan lembut mulai me lu mat dan menye sap nya dengan pelan agar Dina bisa mengikutinya dan belajar membalasnya.


"Kamu sangat cepat belajar..." bisik Arya saat melepas tautan bibir mereka


"Ahh, tuan..." lirih Dina merasa malu namun segera dibungkam lagi dengan lu mat an yang lebih agresif dari Arya


Dina pun mencoba mengimbangi lagi, dan kini nafasnya keduanya terasa memburu satu sama lain. Arya lebih berani lagi dengan mulai memasukkan lidahnya menjelajahi rongga mulut Dina, dan karena cepat belajar gadis muda itu kini mengikuti permainan Arya yang semakin panas.


"Tuan,..." ucap pelan Dina saat terduduk kembali di sofa


"Maaf,...aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku sangat bahagia mendengar ucapan mu, hingga aku..." Arya tak melanjutkan ucapannya


"Iya, saya mengerti tuan...maaf karena ini baru pertama kali buat saya." ucap pelan Dina lalu menundukkan wajahnya


"Mulai saat ini jangan menyebut tuan, panggil saja Arya,...atau sayang itu lebih baik." kata Arya menaikkan wajah Dina yang merona menahan malu


"Ba...baik Ar...Arya sayang..." sahut Dina terbata membuat Arya tersenyum


"Bagus, itu terdengar sangat menyenangkan....dan secepatnya aku akan melamar mu." ucap Arya membuat kaget Dina


"Secepatnya tuan ehh, Arya..." sahut Dina tampak kaget

__ADS_1


"Iya secepatnya, dan langsung menikah...kamu mau kan?" tanya Arya lirih sambil kembali mendekatkan tubuhnya pada gadis yang di cintainya itu


"Iya saya mau..." senyum menghias bibir Dina yang langsung disambar lagi oleh Arya, kini Dina yang sudah pandai membalas membuat Arya semakin bersemangat


###


Sementara Renata dan dan Ardian yang telah akur kembali, merencanakan untuk melakukan liburan bersama anak-anak weekend ini. Mereka sekeluarga akan menginap di villa, dan anak-anak pun menyambutnya dengan gembira.


"Wah,...villa nya bagus banget ma..." ucap anak-anak hampir berbarengan saat tiba di villa


"Iya, apa kalian suka..." sahut Ardian kemudian


"Iya tentu saja kami suka, villa nya sangat besar dan halamannya juga sangat luas." ucap kakak yang menatap sekeliling dengan takjub


"Adik juga suka, disini dingin nggak panas kayak di tempat kita..." kata adik menambahkan


"Iya-iya, ayo masuk dan beres kan barang-barang kalian, papa juga bantuin beresin ya, mama mau bikin minum sama makanan buat kalian semua." ucap Renata pada suami dan kedua anaknya


Setelah semua barang telah di beres kan dan di masukkan ke kamar masing-masing, kini mereka semua berkumpul di teras belakang rumah menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan oleh Renata, sambil juga menikmati indahnya sore hari di suasana pegunungan begini.


"Mama, papa...seharusnya kita tetap tinggal disini, adem dan juga sangat nyaman..." ucap kakak sambil mengunyah makanannya


"Kalo tinggal disini, terus kerja papa gimana dong?" sahut Ardian langsung protes


"Iya, papa benar....kalian juga kan harus sekolah, sesekali ke sini nya saat liburan atau weekend aja." tambah Renata menjelaskan pada kedua anaknya


"Iya deh, tapi janjinya tiap weekend atau libur sekolah kita menginap disini." kata si kakak diikuti anggukan kepala si adik


"Mas, aku sangat bahagia kita bisa berkumpul begini, semoga semua ini tak akan pernah berakhir untuk selamanya." ucap pelan Renata memeluk pinggang Ardian dan meletakkan kepala di bahu


suaminya

__ADS_1


"Aamiin...begitu juga harapan ku." Ardian mengecup kening istrinya dan memeluknya erat


__ADS_2