Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Serigala ganteng


__ADS_3

Renata merasa sangat bahagia menjalani kehidupan bersama keluarga kecilnya, tanpa ada lagi beban di hatinya. Ia lebih fokus dalam menjalankan peran sebagai istri dan juga ibu yang baik.


Setahun berlalu begitu cepat, hari-hari dilalui penuh dengan senyum kebahagiaan. Hubungan nya dengan Ardian juga semakin harmonis, dengan kasih sayang dan cinta serta kesabarannya kini Renata benar-benar merasa sangat mencintai suaminya setulus hati.


Rutinitas nya sebagai istri dan ibu pun terus berlanjut, antar jemput ke sekolah merupakan kegiatan rutin setiap harinya. Kadang juga setelah jemput sekolah harus balik lagi antar jemput ke tempat les.


"Rena, ngobrol dulu yuk, di tempat biasa." ajak Nia saat selesai mengantar anak mereka ke sekolah


"Oke, emang kamu nggak lagi sibuk." jawab Renata tersenyum


"Nggak, tenang aja hari ini free." sahut Nia cepat


"Oh ya, gimana Ren, hubungan mu sama mas Ardian baik-baik aja kan, secara udah setahun berlalu ya." ucap Nia sambil nyemil makanan yang ia pesan


"Syukurlah Nia, semua baik-baik saja dan malah semakin hangat, aku beruntung punya suami yang sangat pengertian seperti mas Ardian. " ucap Renata tersenyum bahagia


"Aku ikut senang dengar nya,...ini Deni bilang mau nyusul kesini kebetulan sedang ada di sekitar sini." kata Nia setelah melihat pesan di ponselnya


Mereka berdua asik ngobrol sambil menikmati makanan yang telah di pesan, suasana yang tak terlalu ramai membuat tempat itu terasa nyaman untuk sekedar saling bertukar cerita.


" Pagi, ibu-ibu kompleks...asik bener ngobrolnya." sapa Deni nyengir kemudian duduk diantara mereka


"Pagi juga bapak kompleks..." sahut Nia cuek di iringi senyuman Renata


"Ehh, kemarin aku ketemu Tia, dia bilang reuni sekolah akan rutin diadakan tiap tahun lho, mereka udah bikin kayak acara tahunan dan sudah bentuk EO nya." ucap Deni kemudian


"Ahh...nggak seru , malah bikin bosen kalo aku, apalagi kalo dibikin kayak arisan gitu, males ahh." sahut Nia


"Iya Den, aku juga nggak bisa ikut." tambah Renata


"Kalo Renata mah, udah trauma ya nggak..., bercanda Ren." goda Nia sambil menyenggol lengan Renata


"Gimana ini, kalo nggak pada dukung sepi dong acaranya." ucap Deni tak henti mengunyah makanannya


"Lha kamu ikut aja, sekalian tiap tahun kan bisa ketemu Aira." ucap Renata melirik ke arah Deni


"Aira...wah kayaknya aku ketinggalan berita ini." sahut Nia kaget

__ADS_1


"Apaan sih Ren, pasti Hendra yang bilang padamu kan, hoax itu." Deni dengan cepat beralasan


"Hehehee....iya hoax soalnya kamu nggak punya nyali buat ngomong." tawa Renata melihat Deni yang salah tingkah


"Dasar kamu Den, berani nya kalo tawuran aja giliran menyatakan perasaan nyali mu ciut." tambah Nia ikut tertawa


"Iya, emang gitu...Aku kan nggak kayak Hendra." sungut Deni


"Udah ah, kalo udah begini nggak usah di lanjutin...ganti topik pembicaraan lain." ucap Renata menghentikan tawanya


"Idihh, takut baper ya...tenang aja Ren, dia sekarang sudah jinak kok sama istri dan anaknya." kata Deni pelan


"Jinak,...emang dia serigala." sahut Nia menatap tajam Deni


"Iya, serigala ganteng yang super dingin dan kejam." balas Deni dengan raut muka dingin mencoba menirukan Hendra


"Aku ikut senang mendengarnya, semoga ia bisa hidup bahagia bersama keluarga kecilnya untuk selamanya." ucap Renata tersenyum bahagia


"Amin...iya Ren, lagipula dia itu sangat beruntung memiliki istri seperti Anita yang sangat mencintainya dan menerima dia apa adanya, sabar banget orangnya." ucap Deni menjelaskan


sahut Renata


"Seperti aku bilang tadi selain cantik dan baik , ia juga sabar banget menghadapi sikap Hendra yang super duper dingin. Kalo Anita bilang sih kayak patung es." senyum Deni menjelaskan


"Hahh...patung es." sahut Renata dan Nia berbarengan sambil tertawa


###


"Sayang siang ini, temani aku makan siang ya?" ajak Ardian selesai sarapan


"Makan siang kok minta di temenin, tumben banget." sahut Renata heran


"Iya, acara makan siang diluar bareng direksi dari pusat, sebagian ngajak istri atau pacar, masak aku sendirian." jelas Ardian


"Tapi maaf mas, siang ini habis jemput sekolah harus balik lagi buat antar adek ke tempat les dan kakak ada ekskul." ucap Renata memberi pengertian


"Ya udah lah nggak apa-apa, sendiri aja." balas Ardian pelan

__ADS_1


"Sekali lagi maaf ya, karena nggak bisa nemenin. " ucap Renata sambil memegang tangan Ardian


"Iya, aku ngerti kok." sahut pelan Ardian


Renata kemudian bergegas mengantar anak-anak ke sekolah disusul Ardian yang berangkat agak belakangan. Meski dengan sedikit kecewa, namun Ardian bisa mengerti akan rutinitas istrinya, semua demi anak-anak mereka juga.


Siang itu setelah mengantar anaknya, Renata langsung kembali untuk melanjutkan pekerjaan rumah, maklum si bibi baru kemarin minta cuti untuk menengok anaknya yang sedang sakit. Alhasil kini tenaganya harus ekstra kuat untuk menyelesaikan tugas antar jemput anak sekaligus beres-beres rumah.


Saat sedang berkutat dengan pekerjaannya di dapur, terdengar bel berbunyi dan ia segera bergegas ke depan melihat siapa yang datang.


"Hen...Hendra." pekik Renata kaget bukan main saat membuka pintu dan melihat Hendra telah berdiri di depannya


"Apa kabar Rena?" sapa Hendra tersenyum kecil


"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu ada di sini?" tanya Renata dengan raut muka kurang senang


"Apa aku tak disuruh masuk dulu?" ucap Hendra menatap Renata


Renata hanya terdiam tak menjawab ucapan Hendra, ia antara kaget dan juga takut. Ia benar-benar tak menyangka Hendra akan menemuinya apa lagi sampai datang ke rumah, ia takut akan membuat Ardian salah paham.


"Kamu kenapa, Rena?" tanya Hendra sedikit mendorong tubuh Renata yang berada tepat dihadapannya


"Hen, tak seharusnya kamu kesini, apa kau lupa akan janjimu?" ucap Renata mencoba tenang


"Aku tahu, dan tak akan pernah lupa dengan janji ku. Namun saat kemarin aku tiba di kota ini, aku tak sanggup menahan keinginan hatiku yang sudah sangat merindukan mu." Hendra berkata sambil menatap lembut wajah Renata


"Pergilah, Hen...Aku tak mau ada yang melihat mu ada disini dan menjadi salah paham." ucap Renata mulai gelisah


"Apa kau tidak rindu padaku, Ren?" tanya Hendra semakin mendekatkan tubuhnya pada Renata yang hanya terdiam


"Tataplah mataku Rena, jika kau tak merindukan ku maka aku akan pergi." Hendra mengangkat dagu Renata hingga kini mata mereka saling menatap


"Katakanlah Rena..." suara Hendra terdengar seperti berbisik


Renata tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, jantungnya berdebar hebat begitu pun dengan Hendra. Renata tak bisa membohongi hatinya, bahwa ia juga merindukan Hendra, apalagi saat ini ia berada sangat dekat dengannya.


"Renata, aku sangat merindukan mu..." lirih Hendra saat bibirnya telah menyentuh bibir lembut Renata

__ADS_1


__ADS_2