
Sudah seminggu berlalu sejak kejadian di villa itu, sampai sekarang Renata belum pernah sekalipun bertemu dengan Ardian. Jangankan makan siang bareng, antar atau jemput pun tak pernah. Kini Renata merasa sangat bersalah karena sudah menyakiti hati Ardian.
Semenjak kejadian itu Ibu menasehatinya panjang lebar, hingga membuka mata hati Renata. Ingin rasanya Renata segera meminta maaf kepada Ardian, namun ia takut bila kini Ardian malah membencinya.
Minggu pagi Renata sudah sibuk di dapur, ia membuat puding coklat kesukaan Ardian, hari ini ia berencana untuk menemuinya. Apalagi kemarin mbak Dewi bilang kalo Ardian sedang sakit, dua hari ini dia tidak masuk kantor.
"Tumben nak, Minggu pagi begini sudah masak? " tanya Ibu ketika bertemu Renata di dapur
"Enggak kok Bu, cuma mau buat puding coklat untuk mas Ardian, katanya sedang sakit. " jawab Renata
"Sakit,... sakit apa? "
"Entahlah Bu, Rena juga tahunya dari mbak Dewi. "
"Kamu ini kan calon istrinya, kok sampai nggak tahu kalo dia sakit. " ucap Ibu sambil menepuk pundak Renata yang berdiri di depan kompor
"Iya Bu, Rena juga merasa sangat bersalah makanya hari ini mau ke rumah mas Ardian. " jawabnya penuh sesal.
"Syukurlah nak, kalo kini kamu sudah mengerti. Cobalah untuk ikhlas menerima semua ini, jalani semuanya dengan penuh harapan. " senyum Ibu
Setelah memasukkan puding ke kulkas, Renata pergi mandi dan bersiap-siap. Saat berdiri di depan cermin rias nya, ia sempat merasakan keraguan namun ia buru-buru menghilangkan nya. Ia telah memantapkan hatinya, ia simpan rapat kenangan terindah nya bersama Hendra jauh di dalam lubuk hati, dan menguncinya.
"Bu, Renata pamit ya... semoga mas Ardian mau memaafkan Rena. " ucapnya sambil mencium tangan Ibu
"Iya nak, Hati-hati di jalan Ibu akan selalu berdoa untuk mu. " balas Ibu dengan senyuman di bibir nya
Jarak rumah Ardian cukup jauh, hampir empat puluh menit berkendara akhirnya Renata sampai di kompleks perumahan Ardian. Rumah cukup sepi maklum Ardian memang tinggal sendiri dirumah itu, rumah hasil kerja kerasnya selama ini.
Renata mematikan motornya dan membawa masuk setelah membuka pagar. Lampu depan masih menyala, mungkin si empunya masih tidur. Renata menunggu di depan pintu lumayan lama, setelah berulang kali mengetuk nya.
"Rena, kamu disini... kok nggak bilang kalo mau datang. " ucap pelan Ardian saat membuka pintu
__ADS_1
"Iya mas, aku dengar mas Ardian sakit ini aku bawakan puding kesukaan mas. " suara Renata terdengar ragu
"Masuk Ren, silahkan duduk. " ajak Ardian namun dengan nada datar
Renata duduk di sofa setelah meletakkan puding di atas meja, ia merasa Ardian masih marah atau mungkin malah benci padanya. Ardian lantas duduk di samping Renata, keduanya hanya terdiam untuk sesaat.
"Mas, maafkan Renata yang sudah menyakiti hati mu. " ucap Renata memecah keheningan
"Rena menyesali semua kata-kata Rena kemarin, Rena benar-benar nggak mampu mengendalikan emosi hingga membuat mas Ardian kecewa. " lanjut Renata dengan menundukkan kepalanya.
"Iya, aku kemarin sangat kecewa, marah, sedih dan sakit, hancur rasanya hatiku mendengar ucapan mu... " kata-kata Ardian belum usai ketika dipotong Renata
"Sekali lagi maafkan Rena mas, janji semua tak akan terulang lagi. Rena ikhlas menjalani semua yang sudah ditetapkan. " ucapan Rena cepat
Ardian memegang dagu Renata dan mengangkatnya, kini wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Renata. Tampak olehnya mata Renata berkaca-kaca mencoba menahan air mata nya.
"Kemarin aku memang kecewa, marah, sedih dan sakit hati, namun semua itu tak seberapa dibanding cintaku padamu, aku tetap menyayangimu dan aku telah memaafkan mu sebelum kau minta. " ucap lembut Ardian sambil menatap wajah cantik calon istri nya itu
"Benar, mas Ardian sudah memafkan aku? " tanya Renata ragu
"Beri aku waktu mas, aku janji akan belajar mencintaimu. "
"Janji sayang... "
Renata hanya menganggukkan kepala saat wajah Ardian kini sudah sangat dekat dengan wajahnya, ia bahkan bisa merasakan desah nafasnya.
Jantung Renata berdetak sangat kencang saat bibirnya dicium lembut oleh Ardian, namun ia hanya terdiam saat satu tangan Ardian memeluk pinggangnya dan tangan yang lain berada di tengkuknya.
Ciuman yang awalnya lembut kini jadi semakin menuntut, setelah Renata membuka sedikit mulutnya lidah Ardian langsung menyusup masuk dan mulai menjelajahi setiap sudat di rongga mulutnya. Renata kini tak sanggup hanya diam saja, permainan lidah Ardian telah membuat hasratnya bergelora. Ia mulai mengimbangi, membalasnya dengan sengit setiap *******, sesapan hingga membuat seluruh tubuhnya bergetar.
"Mass.... " desah Renata saat Ardian melepaskan ciuman untuk mengambil nafas
__ADS_1
******* Renata membuat Ardian kian bersemangat, kini ia mulai menciumi leher jenjang nya hingga turun ke area dadanya, dan berhenti di dua bukit kembar. Saat memainkan kedua bulatan hangat itu dengan lidahnya, Renata menggelinjang merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sementara tangan Ardian mulai nakal bermain dibagian bawahnya.
"Mas... cukup mas, jangan mas. " desah lembut Renata mencoba mengingatkan Ardian yang tengah di puncak hasratnya
Ardian mulai menghentikan aktifitas panasnya, ia mencoba sadar dan mengendalikan hasratnya, ia tak ingin kebablasan hingga melakukan dosa ter nikmat itu.
"Maafkan aku, sayang... karena nggak mampu menahan diri. " ucap lembut Ardian sambil mencium kening Renata
"Aku akan minta agar pernikahan kita dipercepat. " lanjut nya
"Maksudnya mas? " tanya Renata
"Iya dipercepat, bukan 2 bulan tapi 2 minggu lagi kita akan menikah. " senyum Ardian sambil mencium bibir Renata sekilas
"Apa tidak terlalu cepat, mas? " tawar Renata
"Enggak... aku nggak mampu menahan lagi, aku takut khilaf, apalagi kalo kamu menggodaku terus nanti. " ucap Ardian dengan senyum termanis nya
"Apa... aku mana pernah menggodamu. " sungut manja Renata
"Setiap waktu, hanya dengan menatap wajah cantik mu apalagi bibirmu ini, aku sudah sangat tergoda. " jawab Ardian sambil mencuri ciuman lagi
"Ahh... mas Ardian kok jadi genit sih. " Renata mencubit pinggang Ardian
"Geli Rena,... jangan memancing ya ntar tak terkam beneran lho. " Ardian menahan tangan Renata yang hendak mencubit pinggang nya lagi, kemudian ia berdiri
"Ehh... mau kemana mas? " tanya Renata melihat Ardian yang bangkit dari duduknya
"Kamar mandi... mau ikut? " goda nya
"Mau ngapain... "
__ADS_1
"Ada... dehhh... " senyum genit Ardian sambil mengangkat kedua alisnya
"Uhh, dasar genit... " cibir Renata