Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Mengenang


__ADS_3

Saat perjalanan pulang dari rumah Renata, Anita sengaja berhenti di sebuah cafe untuk sekedar menenangkan diri dengan menikmati cappucino latte kesukaannya. Anita memang masih merasa begitu sangat kehilangan pria yang sangat dicintainya itu, sembari menikmati kopi pesanannya ia mengenang kembali saat-saat bersama Hendra, baik di awal pernikahan yang begitu berat hingga akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan hidup bersama Hendra.


"Apa kabar Anita, ...?" sahut Andi yang tiba-tiba telah berdiri di hadapannya


"Andi, bagaimana kau tahu aku ada disini..." tanya Anita heran saat tersadar dari lamunannya


"Feeling aja, ..." singkat Andi tersenyum kecil


"Boleh aku duduk..." lanjut singkat Andi


"Tentu, silahkan..." sahut Anita pelan


"Kamu dari rumah Renata, ya..." ucap Andi membuka pembicaraan


"Oh, aku tahu sekarang....pasti Renata yang memberi tahu mu..." sahut Anita kemudian


"Renata hanya mengatakan kalo kamu baru saja dari rumahnya, dia juga nggak tahu kalo kami mampir ke sini kan, jadi ini murni feeling aku...hati ku berkata jika kamu sedang me time di sini." ucap Andi menjelaskan


"Aku besok akan pulang ...." kata Anita pelan sambil menyeruput kopi nya


"Kita pulang bareng ya, aku akan menjemput kalian dirumah orang tua Hendra..." ucap Andi menatap lembut wajah Anita


"Aku nggak mau merepotkan mu, mungkin kamu masih mau tinggal disini..." sahut Anita pelan


"Anita, sejujurnya aku masih disini karena kamu....aku ingin selalu menjaga kalian, aku tak ingin meninggalkan kalian disini sendirian, bahkan tiap hari aku selalu melihat keadaan kalian dirumah orang tua Hendra, meski tanpa kau tahu. " jelas Andi menggenggam erat tangan Anita


"Andi, seharusnya kau tak perlu melakukan itu....aku tak ingin merepotkan mu dan membuat mu kecewa dengan sikap ku padamu kemarin, saat ini dan kelak." ucap Anita membalas tatapan Andi dengan raut wajah sedih

__ADS_1


"Anita, aku tulus melakukan semua ini...aku memang sangat mencintai mu, namun aku tak ingin memaksakan perasaan ku padamu. Jika memang seandainya kau tak pernah bisa mencintai ku, maka aku terima tapi ijinkanlah cinta ini tetap berada di hatiku." ucap lembut Andi mencium tangan Anita


"Aku tahu kamu masih sangat kehilangan dengan kepergian Hendra, aku mengerti perasaan mu untuknya, cinta sejati mu hanya untuknya, ...." lanjut Andi kembali menatap lembut wajah Anita


"Terima kasih Andi, atas pengertian mu padaku..., sekali lagi maafkan aku." sahut Anita pelan


"Sudahlah, lupakan sejenak tentang masalah ini....tersenyumlah kembali, Anita...lanjutkan hidup dan tatap masa depan dengan penuh senyuman. " ucap Andi tersenyum lebar berusaha mencairkan suasana


"Baiklah, besok aku jemput jam berapa?" tanya Andi senang saat Anita tersenyum kecil


"Pagi, aku dan Junior akan bersiap se pagi mungkin..." sahut Anita kemudian


"Baiklah nyonya, saya siap menjemput anda besok pagi..." ucap Andi tersenyum menggoda Anita


"Apaan sih..." sahut Anita menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli


"Baiklah, sampai bertemu besok pagi....hati-hati di jalan." sahut Andi bangkit juga dan menatap kepergian Anita dengan senyum bahagia


Keesokan paginya Andi telah tiba menjemput Anita dan Junior untuk kembali ke ibukota. Meski berat orang tua Hendra mengijinkan Anita membawa pulang Junior, mereka juga merasakan cucunya itu lebih nyaman tinggal di sana.


Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, tapi membuat Andi begitu bahagia, ia serasa benar-benar memiliki keluarga kecilnya sendiri. Apalagi Junior begitu dekat padanya, kini tugas berat Andi hanya meyakinkan dan meluluhkan hati Anita.


Sementara mereka semua sudah tiba kembali di ibukota dan menjalani rutinitas hidup mereka, Renata tampak masih setia dengan kesedihan dan rasa kehilangannya. Meski tidak lagi setiap hari, kini tiap minggu sekali Renata pasti mengunjungi makam Hendra dan berdiam cukup lama di sana.


"Sayang, baru pulang..." ucap Ardian saat Renata masuk ke kamar setelah pulang dari makam


"Iya mas, aku mandi dulu..." sahut Renata langsung menuju kamar mandi

__ADS_1


"Sayang, aku tahu perasaan mu...tapi sampai kapan kau akan begini..." ucap lembut Ardian memeluk istrinya dari belakang saat duduk didepan meja riasnya


"Mas, beri aku waktu..." lirih Renata menatap suaminya dari pantulan cermin


"Aku selalu memberi mu waktu, ..." sahut lirih Ardian melepas pelukannya dan duduk di tepi ranjang


"Mas, maaf jika aku membuat mu kecewa.... jujur aku merasa seakan kita memulai hubungan dari awal, aku harus belajar menyimpannya dalam hati dan mulai belajar menerima mu lagi. Maafkan aku, jika kau anggap aku telah mengabaikan perasaan mu, beri aku waktu sedikit lagi..." ucap Renata pelan sambil duduk disebelah suaminya


"Kepergiannya seakan membuatku harus menghadapi sikap mu seperti saat kita pertama mengenal dulu, aku berharap cintamu pada ku tak hilang untuk selamanya..." kata Ardian terasa mengiris hati Renata


Ardian memang merasakan sikap Renata setelah kepergian Hendra berubah, ia sama sekali cuek padanya. Renata kembali hanya memikirkan dan mengenang Hendra tiap hari, ia seperti hidup sendiri dalam kenangannya bersama Hendra. Namun sebagai suami dan lelaki normal, Ardian punya batas pengertian dan kesabaran.


"Apa kau ingin meninggalkan aku, ingin berpisah dari ku..." ucap Ardian tiba-tiba membuat Renata tersentak


"Apa maksud mu , mas?" tanya Renata tak mengerti


"Sebagai suami dan lelaki normal, aku punya batas, Rena....tak bisa kau abaikan aku terus begini, demi mengenang kembali perasaan mu padanya. Aku tahu begitu besar cinta mu padanya, dan kini ia juga telah tiada, tidak bisakah kau hanya menyimpannya di dalam lubuk hatimu, dan menjalani kehidupan rumah tangga kita kembali....atau memang kau sudah melupakan cinta mu padaku." jawab Ardian pelan dengan raut wajah pilu dan mata basah menahan agar air matanya tak mengalir


"Mas, tidak seperti itu...aku tetap mencintai mu, maafkan aku jika terlalu mengabaikan mu, aku tak berniat sedikit pun untuk meninggalkan mu, aku janji akan segera move on dari semua ini..." ucap Renata menakup wajah Ardian dengan kedua tangannya dan menatapnya penuh penyesalan


"Benarkah kau masih tetap mencintai ku, sayang..." tanya Ardian meyakinkan hatinya


"Iya mas, aku akan selalu mencintaimu....tapi aku mohon ijinkan aku untuk tetap mengenang dan menyimpan Hendra jauh di dalam lubuk hati ku, karena perasaan ku abadi untuknya dan tak lekang oleh waktu." jawab Renata menatap tulus mata Ardian


"Aku mengerti, dan aku rela jika untuk selamanya kamu akan mengenang nya....aku mencintaimu, Rena....sangat mencintaimu..." ucap Ardian menatap dan mencium lembut kening Renata


"Aku juga mencintai mu, mas....maafkan aku jika harus membagi hatiku untuknya." sahut Renata balas mencium lembut bibir Ardian

__ADS_1


__ADS_2