Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Di sambar petir


__ADS_3

Setelah malam itu sikap Ardian berubah, ia lebih pendiam dan seperti menyimpan perasaan bersalah. Renata yang merasakan perubahan sikap suaminya, pernah bertanya namun Ardian selalu bilang nggak apa-apa cuma lagi capek.


Renata sama sekali tak punya pikiran negatif pada suaminya, ia percaya saja mungkin memang kerjaan di kantor sedang banyak. Tak jarang juga Ardian pulang agak larut karena harus lembur.


"Lembur lagi mas, apa nggak capek. Jaga kesehatan juga..." ucap Renata saat suaminya pulang hampir tengah malam


"Iya, maaf kalo membuat mu masih terjaga jam segini. Lain kali kamu tidur duluan saja, nggak usah menunggu ku." kata Ardian mengecup kening Renata dan berlalu menuju kamar mandi


"Mau makan mas, biar aku siapkan." Renata menawarkan pada suaminya


"Nggak usah, udah tadi di kantor...kamu tidur saja udah malam." sahut Ardian datar, kemudian ia pun langsung merebahkan diri dan tidur


Renata sebenarnya merasa aneh dengan sikap Ardian tersebut, suaminya itu beberapa hari ini terkesan dingin. Tak ada senyum di wajahnya, apalagi kata-kata mesra dan manja saat menggoda dirinya.


Namun Renata tak ingin mencurigai suaminya, ia selalu meyakinkan diri bahwa suaminya sedang banyak pekerjaan dan merasa capek. Ia sangat percaya pada suaminya itu, hingga tak ingin berfikiran macam-macam.


Suatu sore Renata mendapat pesan dari mbak Dewi, teman se kantornya waktu masih kerja dulu. Bahkan bisa di bilang mbak Dewi yang mengenalkannya pada Ardian waktu itu.


"Rena, bisa kita bertemu...aku ingin bicara padamu." pesan mbak Dewi


"Tentu saja mbak, kapan?" balas Renata kemudian


"Sore ini bisa,... aku tunggu di warung es buah langganan mu, nanti sepulang dari kantor." tulis mbak Dewi


"Baik mbak." balas singkat Renata tanpa ada prasangka apapun


Rena benar-benar tak punya kecurigaan apapun, saat mbak Dewi mengajaknya bertemu. Meski terkesan sedikit aneh, pasalnya sudah lama sekali sejak ia memutuskan untuk berhenti bekerja, ia tak pernah sekalipun bertemu lagi dengan mbak Dewi.


Sesuai kesepakatan , sore itu Renata menuju tempat yang dimaksud setelah sebelumnya mengantar si kakak les. Renata tiba lebih dahulu, ia menunggu dan duduk di tempat yang cukup nyaman dan sepi.


"Maaf Rena, sudah lama nunggu ya?" sapa mbak Dewi saat datang menghampiri Renata yang sedang duduk sendirian

__ADS_1


"Ah nggak kok mbak, baru sebentar." sahut Renata singkat


Kemudian mbak Dewi memesan makanannya, tak menunggu lama pesanan pun tiba. Mereka berdua menikmatinya, belum ada perbincangan di antara keduanya.


"Oh ya mbak, tumben ngajak ketemuan, apa ada masalah penting." tanya Renata membuka keheningan


"Iya, aku..." mbak Dewi tak melanjutkan ucapannya, ia menunduk dan tampak muram


"Ada apa mbak, katakanlah apa yang bisa aku bantu?" ucap Renata tenang


"Aku bingung harus mulai dari mana, aku merasa sangat bersalah...tapi aku tak bisa memendamnya sendiri." kata mbak Dewi tak berani memandang ke arah Renata


" Mbak, ada apa sebenarnya...kenapa perasaan ku jadi tidak enak." sahut Renata tiba-tiba jantungnya berdebar


"Maaf Rena, sebenarnya saat ini aku sedang mengandung..." ucap pelan mbak Dewi


"Terus, apa hubungannya dengan ku...tunggu, mbak Dewi belum menikah kan?" tanya Renata penasaran


"Aku dulu sempat menikah tapi gagal, pernikahan ku hanya bertahan 2 tahun ...saat ini statusku memang janda tanpa anak." jelas mbak Dewi


"Maafkan aku Rena...saat ini aku sedang mengandung anak mas Ardian." ucap mbak Dewi ragu dan pelan


Renata terperanjat mendengar ucapan mbak Dewi barusan, jantungnya seperti berhenti berdetak. Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Renata benar-benar tak menduga kalo mbak Dewi akan berkata seperti itu. Sejenak ia terpaku, terdiam tak mampu berkata-kata.


"Rena, sekali lagi maafkan aku...." ucap mbak Dewi lagi


"Nggak mbak,...Aku nggak percaya ini, mas Ardian nggak mungkin mengkhianati aku." sahut Renata tak percaya begitu saja dengan ucapan mbak Dewi


Mbak Dewi kemudian mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan kepada Renata. Renata menerima ponsel itu dan langsung melihatnya, dadanya menjadi sesak mendapati foto-foto suaminya bersama wanita yang saat ini sedang duduk tepat di hadapannya.


"Ini pasti salah mbak, ini bohong kan mbak, mas Ardian tak mungkin seperti ini." ucap Renata mencoba menahan air matanya

__ADS_1


" Maaf Rena, ini semua benar...kami memang khilaf saat itu, aku juga merasa sangat bersalah. Seandainya aku tidak mengandung, aku ingin melupakan semua ini dan menganggapnya tak pernah terjadi. Tapi sekarang, aku nggak bisa menutupinya lagi, saat ini usia kandungan ku hampir 3 bulan." kata mbak Dewi meyakinkan Renata


"Apa mas Ardian sudah tahu tentang hal ini?" tanya Renata dengan berurai air mata


"Aku berusaha untuk menghubungi nya, namun ia selalu menghindar....Aku tak punya pilihan lain, kecuali menemuimu dan mengatakan semua ini." jawab mbak Dewi


"Maaf mbak, aku belum bisa percaya dengan semua ini sebelum mendengar pengakuan langsung dari mas Ardian." ucap Renata mencoba tenang dan berfikir positif


"Iya Rena, aku mengerti...Kamu bisa menanyakan langsung padanya, sekali lagi maaf karena sudah mengganggu kehidupan rumah tangga mu. " ucap mbak Dewi pelan


Renata tak ingin lagi berlama-lama di tempat itu, ia langsung pulang dengan perasaan tak karuan. Dadanya terasa sesak, sakit dan hancur atas semua yang ia dengar barusan.


###


Sementara itu setelah mendapat perawatan intensif dari Dokter Arya dan rekannya, kondisi Hendra kini sudah benar-benar pulih. Bahkan ia sudah mulai bekerja meski dengan kapasitas yang ringan, si boss juga belum memberinya tugas yang cukup berat.


"Kamu sudah benar-benar pulih, Hen?" tanya si boss saat Hendra sudah duduk di depannya


"Aku rasa begitu boss, kelamaan berdiam diri membuat tubuhku serasa kaku." jawab Hendra


"Bekerjalah di kantor dulu, biar anak buah mu yang turun ke lapangan, jangan terlalu memaksakan. Oh ya , rencana kamu untuk mengundang keluarga itu gimana?" ucap si boss kemudian


" Iya boss, aku dan Anita sudah mempersiapkan akomodasi buat mereka. Mulai perjalanan mereka, hingga tempat tinggal selama disini semua sudah beres. " jelas Hendra


"Hen, biar aku yang menjemput Dina dan keluarganya. " ucap Dokter Arya yang tiba-tiba telah berdiri di belakang


"Arya, kamu yakin." sahut si boss kaget, tidak biasanya seorang Dokter Arya yang cuek begitu perhatian pada keluarga yang baru dikenalnya


"Iya boss saya yakin, lagipula saya sudah janji pada Dina akan menjemputnya langsung jika ingin pergi ke ibukota. " ucap Arya tersenyum kecil


"Arya, jangan bilang kamu sudah jatuh hati pada gadis muda itu." kata Hendra menatap wajah Arya

__ADS_1


"Kamu ini, bisa aja." sahut Arya dengan wajah merona, Hendra dan si boss pun saling menatap dan tersenyum tipis seakan tahu apa yang sedang dirasakan oleh Arya


"Ya sudah terserah padamu, secepatnya lebih baik." ucap Hendra yang masih tersenyum


__ADS_2