Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Notifikasi


__ADS_3

Kelahiran junior membuat Hendra sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, ia selalu menyempatkan pulang jika senggang. Waktu cepat berlalu Junior telah berumur setahun lebih, sangat lucu dan menggemaskan.


Hendra tak lagi menyendiri ke villa atau pergi ke club jika sedang suntuk dengan pekerjaannya. Bermain dengan junior adalah obat paling mujarab untuknya, melihat pipi tembem dan tingkah lucu Junior membuatnya melupakan rasa lelahnya.


"Hen, masih sore kok sudah pulang?" tanya Anita heran


"Capek, pekerjaan ku hari ini cukup menguras tenaga. Tangguh juga mereka, aku benar-benar tak menyangka ." jawab Hendra menghempaskan tubuh nya di sofa


"Pantas saja kamu kelihatan kacau begini, aku akan obati memar dan luka mu itu." ucap Anita mengambil kotak obat


Anita merawat luka dan memar ditubuh suaminya, baru kali ini Hendra kelihatan kacau begini. Mungkin setangguh itu, hingga seorang Hendra bisa seperti ini. Anita yang tahu seperti apa pekerjaan Hendra, tak panik sedikitpun. Ia dengan telaten mengobati setiap luka di tubuh Hendra.


"Anita, apa Junior sedang tidur?" tanya Hendra


"Iya, sudah sejak tadi , paling sebentar lagi bangun, kenapa?" kata Anita masih terus mengobati


"Aku pengin segera menciumi pipi bakpao nya itu." senyum Hendra


cup


"Anita...." ucap Hendra tiba-tiba saat Anita tanpa diduga mencium bibirnya lembut


"Aku juga ingin menciumi apa yang saat ini ada di depanku." ucap Anita malu saat melepaskan bibir Hendra


"Dasar bodoh..." ucap Hendra datar tanpa ekspresi


"Iya aku memang bodoh karena mu, dan aku jadi gila bila ada di dekatmu." Anita menatap tajam wajah Hendra


Hendra yang duduk bersandar pada sofa terperanjat, saat merasakan Anita naik ke pangkuan nya dan mulai mengeksplor bibirnya dan tangan nakalnya telah menjelajahi tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan?" ucap Hendra masih cuek


"Hen, aku mencintaimu...kamu benar-benar membuatku gila, saat ini aku menginginkan mu." bisik Anita di telinga Hendra


Sekuat tenaga Hendra menahan tubuhnya yang bergetar karena bisikan Anita yang malah menggigit lembut telinganya. Setiap kali Anita menggodanya, Hendra berusaha untuk menahan hasratnya namun biasanya ia luluh juga merasakan setiap sentuhan lembut itu.


" Masih sore dan kamu mau menggoda ku." ucap Hendra pelan menahan sesuatu


"Mumpung Junior sedang tidur, ijinkan aku untuk membelai junior mu yang ini." ucap Anita serak dan tangannya telah sampai di sesuatu yang mulai mengeras didepannya


"Uhhh......kamu benar-benar gila!" Hendra memejamkan matanya saat tangan Anita mere mas sesuatu yang mengeras itu


"Mommy .... " tangis Junior dari dalam kamar

__ADS_1


Suara tangisan Junior membuat pasangan yang mulai panas tubuhnya, tersentak kaget dan segera mengakhiri aktifitasnya.


"Maaf, aku ganti nanti malam." ucap Anita berdiri dan mencium kening suaminya


"Si alan....kau menyiksa ku." gumam Hendra bangkit dan berjalan ke kamar mandi


Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Hendra menghampiri Junior yang sedang menyusu pada mommy nya. Melihat daddy nya berjalan menghampiri, Junior berdiri dan berlari ke arah Hendra.


"Daddy...." Junior menghambur dan memeluk Hendra


Ayah dan anak itu kini bermain bersama, Hendra yang gemas melihat tingkah anaknya tak henti-henti menciumi pipi bakpao nya. Anita tersenyum bahagia melihat kehangatan diantara mereka, dan berharap semua ini tak akan pernah berakhir.


ting...


Ponsel Hendra berbunyi, ia menurunkan Junior dari pengakuannya dan mengambil ponsel dari saku celana. Sebuah notifikasi di medsos, Deni mengirim permintaan pertemanan dan sebuah pesan. Hendra bangkit dan duduk di sofa, ia heran Deni bisa tahu medsos dan juga nomornya.


"Darimana kau tahu nomor ku, Den?" Hendra membalas pesan


ting...


"Apapun bisa buat Deni, ...Apa kabar mu, Bro?" balas Deni


"Halahh...tak sebaik dirimu pasti. Apa ada yang penting?" balas Hendra lagi


ting..


"Reuni?, bulan depan?,...." balas Hendra


ting...


"Iya, tempatnya di almamater kita, aku harap kamu bisa datang. Tolong segera beri kabar kalo bisa ." tulis Deni


"Ok, nanti aku hubungi lagi." tulis singkat Hendra


Hendra yang sibuk membalas pesan tak menyadari bahwa Anita melihat ekspresi wajahnya yang berubah. Hendra yang tadi ceria bermain bersama Junior seketika tampak resah, galau dan bengong setelah membalas pesan di ponselnya.


"Ada apa, Hen?...Apa ada masalah?" tanya Anita pengin tahu


"Bukan urusan mu." jawab keras Hendra dan bergegas keluar rumah kemudian memacu mobilnya cukup kencang, hingga Anita tercengang


###


Renata bertemu dengan Nia saat mengantar anaknya ke sekolah. Mereka pun mampir sebentar untuk sarapan, dan membahas tentang acara reuni di warung langganan mereka.

__ADS_1


"Gimana Nia, apa bakal banyak yang bisa datang ke reuni kita bulan depan?" tanya Renata


"Lumayan Ren, mungkin sekitar delapan puluh persen sudah konfirmasi ke kita." jawab Nia


"Oh iya Ren, kemarin Deni bilang ia sudah dapat kontak Hendra, entah sudah dihubungi apa belum." ucap Anita kemudian


"Oh ya, memang darimana dia mendapatkan informasinya, secara udah belasan tahun tak ada kabar." kata Renata penasaran


"Yah, entahlah...kamu tahu sendiri gimana Deni, segala cara pasti dicoba pantang mundur pokoknya. " ucap Nia sambil mengunyah makanannya


"Iya juga sih..." sahut Renata


"Selamat pagi, Emak-emak kompleks..." sapa Deni yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka


"Gila, panjang umur banget kamu, baru aja di omongin udah langsung nongol aja." ucap Nia


"Iya nih, duduk Den..." sahut Renata


"Den, Nia bilang kamu udah dapet kontak nya Hendra?" lanjut tanya Renata


"Cie...Cie...penasaran pasti." ucap Deni nyengir menggoda Renata


"Apaan sih, aku kan cuma tanya." sahut Renata sewot


"Iya nggak usah sewot dong, aku sudah kirim pesan dan langsung dibalas." ucap Deni


"Kok nggak ngomong langsung, cuma kirim pesen." protes Nia


"Iya kalo bener itu nomernya Hendra, jadi aku kirim pesen dulu. Ternyata beneran dan langsung dibalas, aku termasuk beruntung karena katanya dia itu susah dihubungi." jelas Deni


"Memang kamu dapat kontak nya dari siapa?" tanya Renata


"Rahasia dong, narasumber ku nggak mau di ekspos." jawab Deni cepat


"Halahh...gaya mu Den, " sahut Nia


"Terus apa katanya, apa dia akan datang?" tanya Renata penasaran


"Sabar Ren,...penasaran banget ya. Dia belum bisa menjawabnya mungkin harus nengok jadwalnya dulu, maklum super sibuk dia. Tapi dia bilang akan segera kasih kabar." terang Deni


"Ren, kalo beneran Hendra dateng apa kamu nggak takut?" tanya Nia


"Takut?...maksudnya?" tanya balik Renata

__ADS_1


"Maksud Nia, apa kamu nggak takut CLBK , secara sampe sekarang kamu belum bisa lupain dia kan?" sahut Deni menjelaskan


"Aku...entahlah..." ucap ragu Renata dan angannya terbang mengenang kembali saat indah bersama Hendra


__ADS_2