Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Jalur hukum


__ADS_3

"Rena, nanti setelah makan malam Rendy akan ke sini, ada hal penting yang akan ia sampaikan. " ucap Ardian pada Renata yang sedang menyiapkan makan malam


Renata tak menjawabnya, ia hanya melihat ke arah Ardian sekilas dan menganggukan kepala. Ardian tetap bersabar dengan sikap dingin istrinya, ia berharap malam ini semua salah paham ini akan berakhir.


"Setelah makan, kalian langsung ke kamar ya, belajar terus tidurnya jangan kemalaman. Biar nanti bibi yang temani, soalnya mama sama papa ada tamu." ucap Renata pada anaknya


"Iya ma..." jawab kedua anaknya berbarengan


Begitu makan malam selesai dan anak-anak sudah berada di kamarnya, tak berapa lama terdengar ketukan pintu. Ardian bergegas untuk membuka pintu, sementara Renata masih menyelesaikan pekerjaan dapurnya.


"Duduklah Rendy, sebentar lagi Renata akan ke sini." ucap Ardian mempersilahkan Rendy duduk


Tak lama kemudian Renata datang sambil membawa minuman untuk Rendy, setelah menaruhnya di meja ia pun ikut duduk di ruang tamu. Suasana tampak sedikit canggung, Rendy melihat dengan jelas jika kedua suami istri di depannya tampak saling menjaga jarak.


"Boleh aku minum?" tanya Rendy mencoba mencairkan keadaan


"Tentu saja, silahkan." sahut Ardian dibarengi anggukan kepala Renata


"Renata, apa Ardian sudah bilang apa tujuan kedatangan ku ke sini?" tanya Rendy pada Renata yang hanya terdiam


"Belum, memangnya ada apa katanya ada hal penting?" tanya balik Renata datar


"Aku tak tahu harus mulai dari mana, aku sangat prihatin dengan hubungan kalian berdua saat ini. Setelah ini semoga kalian bisa hidup tenang dan bahagia seperti yang dulu aku lihat." ucap Rendy membuat bingung Renata dan Ardian hanya mengangguk kecil


"Rena, lihatlah ini....semoga bisa menjelaskan semua salah paham di antara kalian. " Rendy menyerahkan ponselnya pada Renata agar bisa melihat rekaman pengakuan salah satu pria teman Dewi

__ADS_1


"Itu pengakuan salah satu pria yang bersama Ardian malam itu." lanjut Rendy saat Renata menerima ponselnya


Renata kemudian melihat seluruh isi rekaman tersebut, sesekali ia memandang ke arah Ardian yang tertunduk. Tangan Renata terasa bergetar, saat melihatnya dan dadanya menjadi sesak , ia merasa sangat bersalah karena tak pernah sedikitpun percaya pada setiap ucapan suaminya.


Ia merasa sudah sangat kejam memperlakukan suaminya, yang ternyata memang benar tak melakukan apa yang selama ini Ia pikirkan. Air matanya tak disadari mulai menetes, ingin rasanya ia bersimpuh dan meminta maaf pada suaminya itu.


"Rena, kamu bisa mempercayai semua itu karena aku sendiri yang mencari dan menemui pria tersebut. Dan sebentar lagi Dewi pasti akan datang kesini." ucap Rendy saat melihat Renata selesai melihat rekaman tersebut


"Buat apa wanita licik itu kau suruh ke sini juga?" tanya Ardian saat mendengar ucapan Rendy


"Aku memang menyuruhnya ke sini, aku katakan padanya bahwa Renata ingin membicarakan lebih lanjut hubungannya denganmu. Makanya ia pasti akan datang..." belum selesai ucapan Rendy, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, dan mereka sangat yakin bahwa itu Dewi yang datang


"Selamat malam,....ke..kenapa kalian berkumpul disini?" tanya Dewi kaget saat melihat mereka bertiga sudah menunggunya di ruang tamu


"Duduklah Dewi, kami semua memang sedang menunggu mu." ucap Rendy sementara Renata dan Ardian hanya terdiam


"Bukankah mas Ardian dan Renata sudah tinggal terpisah?" lanjut Dewi yang membuat emosi Ardian terpancing


" Ya, dan kamu begitu senang jika aku berpisah dengan Renata." sahut kasar Ardian tampak menahan amarah


"Sabar lah Ardian, pelankan suaramu...jangan sampai terdengar anak-anak. " ucap Rendy menenangkan


"Mbak Dewi, sebenarnya mas Ardian telah lama kembali ke rumah ini." ucap Renata pelan berusaha tenang


"Apa kalian sudah baikan, terus keputusannya gimana, kapan mas Ardian akan bertanggung jawab padaku." kata Dewi yang belum mengetahui jika mereka telah tahu apa yang sebenarnya terjadi

__ADS_1


"Mbak, sampai kapanpun mas Ardian tak akan bertanggung jawab atas apapun, karena memang ia tak bersalah." ucap Renata tenang membuat Ardian meliriknya sambil tersenyum kecil


"Apa maksudmu Rena, tidakkah kau lihat perutku semakin membesar. " sahut Dewi bingung


"Sudahlah Dewi, hentikan semua permainan licik mu ini, kami semua sudah tahu kebenarannya. " ucap Rendy sambil menyerahkan ponselnya pada Dewi agar melihat rekaman yang sama yang tadi dilihat oleh Renata


Dewi tampak sangat terkejut melihatnya, wajahnya memerah menahan malu karena ketahuan telah berbohong. Namun kemudian ia tampak menatap tajam ke arah Ardian yang duduk tenang.


"Kenapa, apa kau akan mengelak? dasar wanita jahat, begitu teganya kau hancurkan hati Renata, dia itu teman mu ." ucap Ardian balas menatap tajam ke arah Dewi


"Ya, aku memang melakukan semua ini, aku mungkin jahat telah menghancurkan hatinya, tapi apa sedikitpun kamu pernah memikirkan perasaan ku dan hancurnya hatiku saat itu. Saat aku juga jatuh cinta padamu, dan kamu lebih memilih Renata yang jelas-jelas masih mencintai mantan kekasihnya. " jawab Dewi mencurahkan isi hatinya


"Mana aku tahu tentang perasaan mu, dan lagi masalah hati itu tak bisa memilih ataupun dipaksakan." sahut Ardian datar


"Mbak, jika memang itu yang membuat mbak Dewi melakukan semua ini, aku sedikit bisa mengerti. Kita sama-sama wanita, aku juga bisa mengerti bagaimana perasaan mbak Dewi. Aku sangat minta maaf jika secara tak sengaja telah membuat hancur dan kecewa hati mbak Dewi, namun jodoh memang telah diatur oleh Allah, kita hanya bisa menerimanya." ucap Renata tenang mencoba memahami perasaan Dewi


"Buat apa kamu meminta maaf padanya, sayang...Wanita seperti dia tak pantas untuk dipahami." ucap Ardian ketus


"Mas, aku juga wanita, aku mengerti apa yang dirasakan olehnya. Setelah ini tolong lupakan semua masalah ini, anggap saja tak pernah terjadi apapun." Renata mencoba memberi pengertian pada Ardian


"Jadi, bagaimana apa kalian akan tuntut dia melalui jalur hukum?" tanya Rendy sedikit mengancam


"Maafkan aku, aku mengaku salah telah menghancurkan rumah tangga kalian, tapi tolong jangan bawa masalah ini ke jalur hukum. Aku mohon, aku janji tak akan pernah mengusik ketenangan kalian lagi." ucap Dewi memohon dan menatap penuh harap ke arah Renata


"Iya mbak, seperti aku bilang tadi kita akan lupakan semua masalah ini. Aku harap mbak Dewi sungguh-sungguh menyesalinya dan semoga mbak Dewi hidup bahagia dengan anak dan kekasih mu." ucap Renata dengan suara lembut

__ADS_1


"Sayang, kenapa kau maafkan dia begitu saja setelah apa yang terjadi pada kita. Kamu terlalu baik dan wanita ini tak pantas mendapatkan kebaikan mu." sahut Ardian yang belum bisa menerima semua berakhir begitu saja


"Ardian, istrimu memang sangat baik, mungkin benar keputusannya, dengan begini hidup kalian lebih tenang dan tak lagi repot dengan urusan hukum yang rumit." kata Rendy memberikan pendapatnya


__ADS_2