
Selama kehamilannya Renata sangat menjaga emosinya, ia tak ingin membahayakan kandungannya karena stres. Ia berjuang keras untuk melupakan kegalauan hatinya meski untuk sementara. Ia ingin selama kehamilannya ini selalu bahagia dan tersenyum, dan suaminya pun sangat mendukung.
Ardian senantiasa memanjakan istrinya itu, memberinya perhatian dan kasih sayang yang lebih besar. Selalu membuatnya tersenyum, dan memenuhi semua keinginannya apapun itu.
Tak lupa Ardian selalu menemani Renata untuk kontrol ke dokter secara rutin. Ia selalu mengikuti perkembangan janinnya dengan antusias, tak sabar untuk segera menanti kelahirannya. Dibanding Renata malahan Ardian yang merasa tegang saat hampir tiba waktunya.
"Selamat pak, anak anda laki laki, kondisinya sangat sehat tidak kurang suatu apapun." ucap dokter yang menangani persalinan Renata
"Terima kasih dokter, boleh saya melihatnya. " tanya Ardian
"Silahkan, ibu dan bayinya sudah boleh berinteraksi dengan anda, ini kan proses kelahiran normal." terang dokter
Ardian sangat bahagia dengan kelahiran buah hatinya, apalagi setelah mengetahui kondisi istri dan anaknya yang sehat. Anak lelaki yang sehat, ganteng dan tidak kekurangan suatu apapun.
"Terima kasih sayang, kamu telah melahirkan anak pertama kita dengan sehat. " ucap Ardian mengecup kening istrinya
"Semoga untuk selanjutnya kita memiliki keluarga yang selalu bahagia, kita akan berjuang bersama mendidik dan membesarkannya menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada orang tua " lanjut Ardian menggenggam tangan istrinya
"Amin....mas, dan semoga aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik. " ucap pelan Renata.
Renata dan Ardian menjalani hari-hari sebagai orang tua yang kompak, saling mengisi dan melengkapi kekurangan masing-masing. Hubungan keduanya kian mesra dan semakin harmonis, Ardian merasa senang dengan perubahan Renata. Ia sudah bisa merasakan bahwa istrinya itu mulai mencintainya dengan tulus walaupun belum sebesar cintanya pada Renata.
Renata kini lebih dewasa dalam berfikir maupun bertindak, perasaannya telah stabil jarang lagi merasa galau. Ia sedikit banyak telah belajar menerima kenyataan hidupnya, mencoba menyayangi dan mencintai suaminya setulus hati. Ia ingin selalu menjaga keluarga bahagianya ini sampai kapan pun.
Waktu berlalu serasa sangat cepat, setelah beberapa tahun lahir lah anak keduanya, kali ini anak perempuan yang manis dan cantik. Lengkap sudah kebahagiaan mereka, menjadi keluarga kecil yang bahagia dan selalu dihiasi senyuman dalam kehidupan yang dijalaninya.
__ADS_1
Kini Renata memang sudah tidak bekerja lagi, ia menjadi ibu rumah tangga sejati. Mengurus suami dan kedua anaknya dengan fokus, dan tak mau lagi di ganggu dengan urusan pekerjaan kantor. Dan saat anak- anaknya sudah mulai sekolah tugasnya pun bertambah, selain antar jemput juga harus bisa menjadi guru yang menemani belajar anaknya.
###
"Renata...apa kabar mu saat ini." sapa Nia yang ternyata anak mereka satu sekolah
"Nia...kabar ku baik,kamu sendiri gimana? nggak nyangka bisa ketemu di sini." jawab Renata sambil memeluk sahabatnya itu
"Aku juga baik,...ternyata anak kita satu sekolah ya." senyum riang Nia
"Iya...kita ngobrol dulu di depan yuk, kangen banget aku sama kamu." ajak Renata
"Okay....tenang aja kebetulan hari ini free." jawab Nia sambil menggandeng tangan Renata
Kedua sahabat yang telah lama tak berjumpa ini tampak sangat bahagia, senyum dan tawa menghiasi wajah mereka. Berbincang hangat tentang segala hal, kenangan dulu di sekolah, hingga kehidupan mereka sekarang ini.
"Enggak, Nia...dia sudah tidak tinggal di kota ini lagi." geleng Renata
"Lhah...memangnya di mana?" Nia jadi makin kepo
"Entahlah Nia, kata Deni nggak ada yang tahu kemana dia pergi, bahkan keluarganya pun tak tahu." jawab Renata yang raut mukanya berubah
"Kasihan ya...tapi dia dulu sempat datang ke pernikahan mu tidak?" tanya Nia
"Kata Deni sih dateng, tapi hanya melihat dari kejauhan. Dan setelah itu dia memutuskan untuk pergi merantau jauh dari kota ini. Dia bilang tak akan sanggup jika suatu hari meski tak sengaja dia bertemu dengan ku." Renata mulai sedih
__ADS_1
"Sorry Ren, aku membuat mu jadi sedih, kamu jadi teringat lagi akan masa lalu mu." ucap Renata mengusap pundak Renata
"Nggak apa-apa Nia, meski berat sedikit demi sedikit aku mencoba untuk ikhlas menerima kenyataan ini. Aku telah menyimpannya di dalam lubuk hatiku sebagai kenangan indah yang tak mungkin di lupakan. " ucap Renata mencoba tenang
"Iya Ren, baiknya juga begitu. Saat ini kamu sudah punya keluarga kecil yang bahagia, dua anak yang ganteng dan cantik serta seorang suami yang baik yang mencintaimu dengan tulus. Kini hanya tinggal usahamu untuk selalu menjaga kebahagiaan ini sampai kapan pun. " semangat Nia pada Renata
"Iya, Nia...Semoga saja aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anakku." jawab Renata mencoba untuk tersenyum
"Amin...semangat . Btw ternyata kita sudah semakin tua ya, anak-anak udah besar dan hampir 15 tahun sejak kita lulus dari sekolah. " ucap Nia
"Belum dong Nia,... aku nikah 3 tahun setelah lulus, trus akhir tahun ini adalah 10 tahun pernikahan ku dengan mas Ardian. Jadi baru 13 tahun, jangan di tua-tua in dong." jawab Renata
"Hehehe...kebanyakan di dapur jadi lupa hitungan tahun, rasanya baru kemarin aku nganterin undangan pernikahan mu dulu ternyata udah mau 10 tahun aja ya." ucap Nia tertawa kecil
"Iya Nia, doa in bisa langgeng untuk selamanya." pinta Renata
"Amin,....doa in aku juga ya." senyum riang Nia
"Pastilah, aku selalu doa in yang terbaik buat sahabat terbaik ku ini." jawab Renata tersenyum juga
"Oh ya Ren, seru pasti kalo kita ngadain reuni, udah lama juga kan." usul Nia
"Terserah kalian saja, yang pasti aku nggak mau ya jadi seksi sibuk. Kamu atau Deni aja sana yang jadi panitia, aku tinggal jadi tamu undangan saja." jawab Renata
"Yah...Kamu pengin enaknya aja, tapi bolehlah kapan-kapan kalo ketemu Deni aku akan bahas, wajib diagendakan segera keburu tua." ucap Nia sambil tertawa kecil
__ADS_1
Kedua sahabat ini terlalu asik ngobrol hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat, jam pulang sekolah anak-anak mereka pun tiba. Kini saatnya harus berpisah untuk kembali menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga, namun tak apa besok bisa di lanjut lagi ngobrolnya.
Begitulah keseharian seorang Renata kini, setelah antar jemput sekolah di lanjut dengan pekerjaan rumah yang rasanya tak ada habisnya. Belum lagi kalo anak-anak ada les atau ekskul sore harinya, ia harus bolak balik lagi untuk mengantar jemput. Namun ia sangat menikmati rutinitas nya kini sebagai seorang ibu, ia ingin yang terbaik untuk masa depan anaknya.