
Hari itu seharian Anita berada di rumah sakit, ia terus saja meneteskan air mata. Ia bahkan tak menyentuh sedikitpun makanan yang telah dibawakan Andi untuknya. Raut wajah penuh kesedihan tampak terpampang nyata, hingga membuat Andi merasa begitu sedih saat melihat Anita.
"Makanlah Anita, jangan sampai kau sakit..." lirih Andi menatap Anita yang duduk bersandar dengan air mata dikedua pipi
Anita tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya saja. Meski sudah berusaha untuk membujuknya namun Anita tetap tak bergeming, Andi menjadi bingung harus bagaimana. Sesaat kemudian tampak sebuah pesan masuk ke ponsel Andi, Arya telah mengirimkan nomor kontak Renata padanya.
"Anita, aku ke kamar mandi sebentar." ucap Andi kemudian bergegas melangkah meninggalkan Anita yang masih terduduk lesu di kursi panjang depan ruang rawat Hendra
"Halo, Renata." ucap Andi yang ternyata menghubungi Renata setelah menerima nomor dari Arya
"Iya, halo...maaf ini siapa ya?" tanya Renata yang memang belum mengetahui nomor Andi
"Ini aku, Andi..." balas Andi kemudian
"Andi, apa kabar...aku tak menyangka bisa mendengar lagi suaramu." ucap Renata dengan suara lembut
"Kabar ku baik Ren, kamu sedang dimana sekarang?" tanya Andi
"Di rumah, kebetulan lagi santai aja nonton tv sama mas Ardian juga." jawab Renata
"Ardian ada di sebelah mu, kebetulan.... itu lebih baik." kata Andi membuat heran Renata
"Apa maksudmu, ada apa sebenarnya andi?" tanya Renata jadi penasaran dengan perkataan Andi
"Rena,... saat ini aku sedang menemani Anita di rumah sakit. " ucap Andi ragu
"Apa Anita sakit?" tanya Renata belum mengerti maksud Andi
"Tidak,...Rena, apa kau bisa datang ke sini?" tanya Andi membuat kaget Renata
"Andi, sebenarnya ada apa...katakan dengan jelas." ucap Renata yang sudah tak sabar
__ADS_1
"Rena, kuatkan hatimu....saat ini Hendra sedang menunggu mu..." ucap Andi sangat hati-hati
"Hendra, apa maksud mu...ada apa dengannya?" tanya Renata mulai cemas
"Rena, saat ini Hendra sedang kritis.... ia terus saja menyebut namamu." ucap Andi pelan
"Tidak, kamu pasti sedang bercanda kan...ini tidak lucu, Andi." sahut Renata tak percaya
"Rena, aku serius...Hendra tertembak dan kondisinya saat ini sangat mengkhawatirkan, datanglah saat ini dia sedang menunggu mu." ucap Andi menjelaskan
Andi kemudian mulai menceritakan seluruh kejadian yang menyebabkan Hendra jadi seperti ini, ia bercerita dengan sangat hati-hati agar tak membuat shock Renata. Saat dirinya sedang bercerita, Renata dengan lirih terus saja menyebut nama Hendra.
Renata langsung lemas mendengar penjelasan Andi, hingga ponselnya terjatuh dari tangan dan ia terkulai di pelukan Ardian yang memang ada di sebelahnya. Ardian mengambil ponsel Renata dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Halo, Andi ada apa ini....kenapa Renata jadi seperti ini." tanya Ardian bingung
"Mas, aku baru saja memberi tahu Renata jika Hendra saat ini sedang kritis, kalo bisa tolong temani Renata ke sini, sepertinya Hendra ingin Renata menepati janjinya, mas Ardian pasti sudah tahu maksud saya." ucap Andi
"Rena, sayang...ini minum dulu, tenang dan kuatkan hatimu." ucap Ardian memberikan segelas air yang dibawakan bibi
"Mas, Hendra mas..." lirih Renata yang telah meneteskan air mata
"Aku tahu, tenanglah dulu dan coba tata hatimu..." ucap Ardian pelan menenangkan istrinya
"Aku tak percaya dengan semua ini mas, tidak mungkin saat itu tiba sekarang, ini terlalu cepat..." lirih Renata di pelukan suaminya
"Rena, jika memang ini takdir Allah maka tidak ada yang terlalu cepat...sabar dan berusaha ikhlas dalam menghadapinya. " ucap Ardian mengusap lembut kepala Renata
"Tapi mas, aku merasa belum siap untuk kehilangan dia saat ini, meski sebenarnya secara raga aku sudah kehilangan dia sejak dulu, tapi setidaknya aku tahu dia baik-baik saja." kata Renata yang terdengar begitu pilu
"Mungkin Allah ingin dia tenang di sana, jika masih di dunia fana ini dia akan terus merasa gelisah dan tak tenang dengan perasaan nya. Sayang, aku tahu perasaan kalian begitu kuat tapi aku mohon relakan semua berjalan seperti apa yang sudah dituliskan oleh takdir Allah. " ucap Ardian dengan sabar memberi kekuatan untuk istrinya
__ADS_1
"Mas, terima kasih kamu telah memberikan pengertian yang besar padaku, meski kamu tahu tentang perasaan kami tapi kamu tetap berbesar hati." ucap Renata pelan sambil menatap lembut wajah suaminya
"Iya sayang, aku mencintaimu dengan sepenuh hati...aku telah menerima mu apa adanya." ucap Ardian mengecup kening istrinya
"Mas, antarkan aku padanya..." lirih Renata memohon dan menatap wajah suaminya
"Iya, sayang...kita akan berangkat besok, aku akan siapkan semuanya dan meminta ibu untuk sementara waktu menemani anak-anak dirumah." ucap Ardian kemudian
"Terima kasih, mas." lirih Renata memeluk erat tubuh suaminya sambil terus terisak
Setelah merasa tenang dan tegar menerima kenyataan tentang Hendra, Ardian lalu membantu Renata untuk berkemas. Ardian juga menghubungi mertuanya untuk minta tolong menemani anak-anak selama ia dan Renata pergi. Tak beberapa lama Rendy juga telah menghubunginya bahwa tiket pesawat telah siap.
Hari ini Ardian dan Renata berangkat menuju ibukota, karena perjalanan menggunakan pesawat jadi waktu yang ditempuh tidak terlalu lama. Ardian memang ingin agar Renata cepat sampai, namun ia merasa sedikit bimbang saat perjalanan menuju rumah sakit.
Ardian merasa bimbang akan perasaannya saat ini, apakah dia harus senang atau sedih dengan semua ini. Di satu sisi dengan kepergian Hendra nanti maka saingan terberat nya telah tiada, namun di sisi yang lain ia tak ingin melihat Renata yang pasti akan merasa sangat sedih dan hancur karenanya.
"Mas, aku harap dia bisa bertahan dan kembali pulih." lirih Renata sambil menggenggam erat tangan Ardian
"Mas, kamu kenapa...." lanjut tanya Renata yang melihat suaminya sedang melamun
"Ah iya, ada apa sayang..." sahut Ardian terbangun dari lamunannya
"Kamu sedang memikirkan apa mas, kok melamun begitu?" tanya Renata menatap wajah Ardian
"Aku hanya masih merasa tak percaya, orang sekuat, sekeras dan setangguh dia bisa menyerah dengan musuh bebuyutan nya yaitu peluru." ucap Ardian menatap lembut wajah istrinya
"Mas, kita berdoa saja agar dia bisa bertahan dan pulih kembali." ucap Renata pelan sambil berkaca-kaca
"Pasti sayang, semoga saja ini sama seperti insiden hilangnya dulu yang akhirnya ia menang melawan maut yang hampir saja menjemputnya. " kata Ardian membesarkan hati Renata sambil menghapus air mata di pipinya
"Amin,....semoga semuanya baik-baik saja." sahut Renata saat akhirnya mereka berdua telah tiba di rumah sakit
__ADS_1