
Jarak dari pusat kota tempat Dokter Arya dan anak buahnya berangkat ke alamat yang dimaksud memang cukup jauh, apalagi daerah tersebut cukup terpencil. Medan nya cukup sulit untuk dilalui kendaraan roda empat, harus berkendara sangat pelan dan hati-hati.
"Sesuai petunjuknya, rumah inilah yang dimaksud, Dok?" ucap salah satu anak buah kepada Dokter Arya saat tiba di depan rumah keluarga Dina
Dina dan keluarganya tampak kebingungan, karena baru kali ini mendapat tamu orang kota dengan mengendarai mobil dan juga dalam jumlah yang cukup banyak. Pak Arif yang keluar rumah terlebih dahulu, disusul bu Tari dan Dina di belakangnya.
"Maaf, benar ini rumah keluarga pak Arif?" tanya Dokter Arya saat turun dari mobil dan bergegas mendekat
"Benar tuan, mari silahkan...tapi rumahnya kecil, maaf kalo tidak muat." sahut pak Arif dengan santun
"Nggak apa-apa pak, maaf langsung saja...bisa saya melihat Hendra. " ucap Dokter Arya tak mau buang waktu
"Tentu saja tuan, mari silahkan ...tolong ikuti saya. " jawab pak Arif berjalan menuju sebuah kamar diikuti dokter Arya yang sempat melirik ke arah Dina yang berdiri di samping ibunya
"Hendra...terima kasih Tuhan, ternyata ini benar kamu." Dokter Arya langsung mendekat pada Hendra yang duduk bersandar dengan bantal menopang punggungnya
"Arya...syukurlah, kalian sampai disini juga." ucap Hendra dan mereka berdua saling berpelukan
"Hendra, hampir saja kami putus asa karena semua pencarian nihil, ini sungguh sebuah keajaiban. Bagaimana kondisi mu ?" Dokter Arya merasa sangat bahagia melihat temannya itu
"Baik, dan sekarang setelah bertemu dengan mu jauh lebih baik lagi. " sahut Hendra tersenyum bahagia
"Hen, ikut pulang sekarang ...aku akan melakukan medical check up menyeluruh untuk memastikan kondisi tubuh mu." ucap Dokter Arya
"Apa ..., tuan mau pulang sekarang juga." celetuk spontan Dina yang berdiri di samping ibunya
__ADS_1
Saat mendengar celetukan spontan anak gadisnya, bu Tari mencubit pelan lengan Dina. Dia tahu kalo anak gadisnya itu pasti kecewa jika Hendra akan meninggalkan rumah ini sekarang juga.
"Nak, kendalikan dirimu...berbesar hati lah." bisik bu Tari pada Dina
"Ya, kami akan membawa Hendra sekarang juga, secepatnya agar bisa melakukan evaluasi kondisi kesehatannya segera, apa anda keberatan?" ucap Dokter Arya melihat wajah gadis muda itu
"Saya...." lirih Dina tak meneruskan ucapannya, kini ia menunduk menyembunyikan rasa kecewanya
"Maafkan anak gadis saya tuan, ...kami tidak keberatan semua demi kesehatan tuan Hendra." bu Tari berkata hati-hati, tak ingin ada yang tahu jika Dina telah jatuh hati pada pria yang telah dirawatnya selama ini dengan sepenuh hati
Mendengar ucapan Ibunya, Dina tak tahan lagi kemudian dengan cepat pergi meninggalkan kamar tersebut, ia berlari menuju pekarangan belakang rumah. Di sebuah kursi panjang ia terduduk dan mulai terisak, dadanya menjadi sesak.
"Nona...anda baik-baik saja?" ucap Dokter Arya yang tiba-tiba telah berdiri dan kemudian duduk di sebelah Dina
"Ah, tuan...saya..." kaget Dina hingga tak dapat berkata-kata
"Tuan, saya....maafkan saya tuan ." Dina benar -benar bingung harus berkata apa
"Panggil saja Arya, jangan tuan-tuan begitu...saya maklum jika anda punya perasaan spesial padanya, secara selama ini anda lah yang selalu merawatnya dengan baik bahkan saat ia koma, maaf nama anda siapa kalo boleh tahu?" ucap Arya mencoba lebih akrab dengan Dina
"Nama saya Dina tuan,..." sahut pelan Dina menghapus air matanya
"Dina, perlu kamu tahu Hendra itu sudah berkeluarga, punya seorang istri Anita namanya dan juga seorang anak laki-laki. Jadi kendalikan hatimu sebelum terlalu dalam, aku tak mau melihat mu sakit hati nanti. Hendra itu suami yang setia, ia tak sedikitpun berniat untuk membuka hati lagi." jelas Arya mencoba meyakinkan Dina
"Tapi, saat koma tuan Hendra selalu menyebut nama Renata, sedang tadi tuan bilang istrinya bernama Anita, terus Renata itu siapa?" tanya Dina penasaran
__ADS_1
"Renata, ...panjang ceritanya..., yang pasti ia wanita yang sangat berarti dalam hidup Hendra." jawab Arya tak ingin bercerita tentang Renata karena akan sangat menyita waktu
"Tuan Arya, apakah setelah ini saya tak akan pernah lagi melihat tuan Hendra, saya akan berusaha membunuh perasaan saya." ucap pilu Dina membuat hati Arya berdesir, sejujurnya sejak pertama melihat wajah gadis muda ini Arya sudah tertarik
"Kami sebenarnya dari ibukota, di sini Hendra sedang membereskan pekerjaannya, hingga terjadilah insiden berdarah yang menyebabkan Hendra jadi seperti ini. Apa Dina mau ikut ke ibukota?" Arya tak dapat menyembunyikan rasa tertariknya dan berkata secara spontan
"Saya hanya gadis kampung dan cuma lulusan SMA tuan, apa saya punya kesempatan bekerja di ibukota." lirih Dina
"Kalo kamu mau, urusan nanti biar aku yang atur, aku punya klinik kamu bisa bekerja di sana." Arya menatap wajah ayu Dina, hatinya kembali berdesir saat tatapan mereka beradu
Dina merasakan sebuah ketenangan saat menatap mata itu, namun ia kemudian menunduk tak berani lagi menatap. Ia ingin berusaha melupakan Hendra dan membunuh perasaannya, ia tak ingin hatinya terjebak lagi pada pria kaya yang tidak sebanding dengannya yang hanya gadis kampung yang miskin.
Setelah berhasil menenangkan hati Dina, kini mereka berdua masuk kembali ke dalam rumah. Arya meminta pada anak buahnya untuk bersiap membawa Hendra ke kantor mereka di pusat kota, sebelum nantinya kembali ke ibukota.
"Halo Arya,...kapan kamu akan tiba di sini, segera urus kepulangan Hendra secepatnya. " tanya si boss yang menghubungi ponselnya
"Segera boss, kita akan ke kota dulu untuk mengurus tiket pesawat dan sekaligus memastikan kondisi Hendra kuat untuk melakukan perjalanan jauh." jawab dokter Arya
"Baiklah, aku akan menunggu mu dan mempersiapkan fasilitas kesehatan terbaik untuk memulihkan kondisi Hendra. " ucap si boss kemudian mematikan ponselnya
Setelah semua siap Arya berpamitan kepada pak Arif dan keluarga , dan tak lupa mengucapkan terima kasih telah me rawat Hendra dengan sangat baik. Ia juga berjanji akan memberikan hadiah ucapan terima kasih pada keluarga yang baik ini.
"Tuan Arya, apakah tawaran tuan masih berlaku?" tanya Dina ragu-ragu
"Tentu saja, apa kamu sudah punya keputusan. Bicarakan dulu dengan orang tua mu, begitu sudah siap hubungi aku di nomer yang tadi aku berikan, jika perlu aku sendiri yang akan menjemput mu." jawab Arya tersenyum senang dan menatap wajah Dina penuh arti
__ADS_1
Meski dengan berat hati, Dina akhirnya bisa merelakan kepergian Hendra dari rumahnya. Dua bulan adalah waktu yang cukup mampu membuatnya jatuh hati pada pria yang setiap hari ia rawat dengan sepenuh hati, namun kini ia harus rela membunuh perasaannya itu dan sadar diri bahwa tak baik untuk memendam perasaan pada pria yang telah berkeluarga.
"Sampai jumpa lagi nona, terima kasih atas semuanya, sampai kapan pun saya tak akan melupakan budi baik ini. Jika ada yang kalian butuhkan, jangan sungkan untuk menghubungi saya." lirih Hendra saat berpamitan pada Dina dan orang tuanya