Di Ujung Takdir

Di Ujung Takdir
Ini perintah


__ADS_3

Hendra mengetuk pintu ruang kerja si boss.


"Masuk..." sahut si boss dari dalam


"Maaf, boss memanggil saya?" tanya Hendra


"Duduklah Hendra..." suruh si boss


"Hendra, sudah hampir 10 tahun kamu ikut dengan ku..." ucap si boss saat Hendra sudah duduk di depannya


"Iya boss." sahut singkat Hendra


"Kamu nggak ada rencana untuk menikah, keburu tua..." tanya si boss


"Nggak boss,... saya ingin terus sendiri." jawab Hendra


"Gila...kamu benar-benar udah mati rasa ya." senyum si boss


"Mungkin boss..." ucap Hendra


Si boss berdiri dari kursinya dan mendekati Hendra, menepuk pundaknya dan berdiri di sebelah Hendra yang terduduk tenang.


"Hendra, kamu tahu Anita kan...keponakan ku." kata si boss kemudian, diikuti anggukan kepala Hendra


"Anita sudah lama suka padamu, meski dia tahu betapa brengseknya kamu, temperamen sekaligus dingin seperti es, namun dia tetap saja jatuh cinta padamu." ucapan si boss berhenti, melihat ke arahnya yang hanya terdiam


"Hey...bagaimana menurut mu?" tanya si boss memegang bahu Hendra


"Maaf boss, tapi saya tidak pantas untuk di cintai, apalagi oleh Anita. Dia wanita yang baik, berhak mendapatkan pria yang baik juga, tidak seperti saya. " jawab Hendra


"Tapi dia mau menerima mu apa adanya...dan aku mau kamu menikah dengannya." ucap tegas di boss


"Tapi boss, saya nggak bisa..." jawab Hendra cepat

__ADS_1


"Dengar Hendra, ini sudah keputusanku dan ini perintah...Aku tak mau ada penolakan, bisa nggak bisa kamu tetap akan menikah dengan Anita. " tegas si boss menatap tajam Hendra


"Boss,...saya nggak mau menyakiti hatinya, karena saya bisa pastikan bahwa saya tidak akan pernah bisa mencintainya." ucap Hendra serius


"Itu sudah resiko Anita, dia bisa menerima kalo kenyataan nya nanti kamu tidak mencintainya. Dia sangat mencintaimu, tak masalah bagaimana perasaan mu padanya asalkan kamu selalu bersamanya." jelas si boss


"Boss saya...." ucapan Hendra terpotong


"Hendra...saya tegaskan sekali lagi, ini perintah dan harus segera kamu beres kan. Semua persiapan pernikahan akan aku urus bersama Anita, kamu tinggal persiapkan diri kamu. Kamu mengerti...." nada bicara si boss meninggi


"Baik Boss..." ucap pasrah Hendra


"Begitu dong....sekarang lanjutkan tugas mu, aku akan segera menyiapkan pernikahan mu." perintah si boss


Hendra melangkah keluar meninggalkan ruangan, ingin rasanya ia berontak dan menghajarnya andaikan dia bukan boss. Bagaimanapun juga si boss telah banyak membantu kehidupannya saat sulit, mau menerima dan mengerti sifatnya yang sulit dipahami oleh setiap orang.


###


Ia menghubungi Anita dan mengajaknya bertemu di sebuah tempat makan, tak jauh dari rumahnya. Sesuai dengan waktu yang sudah disepakati, Hendra telah datang terlebih dulu tak selang berapa lama tampak Anita menghampirinya.


"Hai, Hendra...Maaf menunggu lama ya." ucap Anita mengambil tempat duduk di depannya


Hendra hanya terdiam, sama sekali tak membalas ucapan Anita. Namun Anita sangat mengerti begitulah sifat pria dingin di depannya ini, ia tetap berusaha tersenyum.


"Okey....ada apa ini tumben banget ngajak ketemuan." tanya Anita memecah keheningan


"Batalkan pernikahannya. " ucap Hendra serius


"Nggak...Aku nggak mau membatalkan nya." jawab Anita cepat


"Kamu hanya akan kecewa dan sakit hati nantinya. " ucap Hendra


"Aku nggak peduli, aku akan terima semua konsekuensi nya. Ini memang keinginanku, dan paman mendukungnya." kata Anita tegas

__ADS_1


"Dasar bodoh,....sampai kapanpun aku tak akan bisa menerima mu." tatap Hendra tajam


"Aku tahu dan aku sudah siap menerima kenyataan apapun nantinya, terserah kamu mau menerima ku atau tidak, mau mencintaiku atau tidak, aku tak peduli. Yang aku tahu, aku sayang padamu, aku telah lama jatuh cinta padamu, yang penting kamu jadi milikku dan aku ingin selalu bersamamu, apapun resikonya aku terima. " jelas Anita sambil berkaca-kaca


"Tapi tetap saja aku nggak bisa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah menikah selain dengan pemilik hatiku." terang Hendra


"Sungguh beruntung pemilik hatimu itu,... jika memang suatu saat kamu ingin kembali pada pemilik hatimu, aku akan terima." ucap Anita


"Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan." ucap Hendra kesal


"Kalo begitu ijinkan aku untuk mengerti dan memahami mu, aku berjanji tak akan memaksakan perasaan ku padamu. Terserah bagaimanapun perlakuan mu padaku nanti, aku akan tetap mencintaimu dengan segenap jiwa ku." Anita tetap berkeras hati


"Dasar wanita bodoh, keras kepala....Kamu pasti tak sanggup menanggung nya nanti." Hendra mulai emosi


"Aku pastikan, aku sanggup ...." tegas Anita


Hendra segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Anita sendirian, ia sudah tak bisa menahan emosinya. Jika tetap di sana ia takut tidak bisa mengontrol emosi dan menyakiti Anita.


Sedangkan Anita hanya bisa menangis, ia tumpahkan air mata yang sejak tadi di tahannya di hadapan Hendra. Di depan Hendra ia memang tampak kuat, namun sebenarnya sebagai seorang wanita ia merasa hatinya sakit. Pedih rasanya menerima kenyataan bahwa pria yang selama ini dicintainya, terang-terang melakukan penolakan.


Malamnya Hendra tak bisa tidur, pikiran dan hatinya sangat kacau. Tanpa disadari air matanya meleleh, ia terkenang kembali pada Renata. Seandainya saja Renata masih bersamaku, tentu aku tak perlu menghadapi semua ini.


Memang sejak memutuskan meninggalkan kotanya hingga detik ini, Hendra tak bisa sedetik pun melupakan sosok Renata, sang pemilik hatinya. Ia telah berusaha mengalihkannya dengan pekerjaan saat ini, namun sia-sia saja.


"Rena, bagaimana kabar mu saat ini. Kamu pasti telah hidup bahagia, apakah kamu masih ingat padaku, atau mungkin malah sudah lupa padaku sama sekali." lirih Hendra dalam lamunannya


"Rena, andaikan kamu tahu aku disini terus memikirkanmu, kenangan mu terus tersimpan di dalam hatiku. Akankah untuk seterusnya aku tak bisa berjumpa denganmu lagi, dan sampai mati aku hanya bisa menyimpan rindu ku padamu." lanjut lirih Hendra terdengar sangat pilu


Hendra tak tahu lagi harus bagaimana cara untuk mencegah pernikahannya dengan Anita. Seperti yang boss bilang ia hanya punya sedikit waktu untuk bersiap, namun bahkan jika diberikan banyak waktu pun ia tak akan pernah siap.


Sempat terbersit di benaknya untuk mengakhiri hidup, namun betapa pun buruknya dia masih takut dengan murka Tuhan. Hidupnya yang sudah penuh dosa ini tak mau lagi ia tambah dengan dosa yang lebih besar.


Ia masih terus mengingat pesan Ibu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, namun apakah Tuhan masih menerima orang seburuk dia, sejahat dan sekejam dia. Setelah begitu banyak dosa yang ia lakukan apakah Tuhan bisa memaafkannya.

__ADS_1


__ADS_2